
Penulis: Yanuar Abdillah Setiadi*
Kisah di Negeri Padang Pasir
Sebutir debu dalam padang ketidakpastian
Melihat kabilah-kabilah sejarah lalu-lalang silih berganti
Setiap kabilah menghamba kebenarannya sendiri
Betapa banyak unta-unta sejarah yang dijadikan korban
atas ambisi dan kesewanangan tuannya.
Kemajuan, keadilan, kemakmuan
hanyalah fatamorgana yang akan menjauh
tatkala kita berderap mengejaranya.
Kekeringan kebijaksanaan dan keadilan
menggerogoti tenggorokan
siapa saja yang yang menjadi hamba sahaya.
Kekeringan jabatan, status dan kedudukan
menjadi dahaga para pemimpin yang haus akan pengakuan.
Berkenanlah diri-Mu hadir dalam wujud angin
yang akan memberikan sepoi sejuk
pada hamba sahaya yang tertindas
agar mereka paham dan yakin
bahwa ketenangan akan hadir
dalam dirinya, dalam hatinya.
Berkenanlah juga Engkau hadir
mewujud sebagai badai yang akan
membumihanguskan siapa saja
yang angkuh, congkak dan ingin menang sendiri
agar mereka tau
bahwa angin selalu memihak kebenaran-Mu.
Purbalingga, 2026
Gelandangan Sejarah
Tidak akan aku cecap semua mata air duniawi
yang memabukkan tubuhku.
Tidak ingin pula ragaku ketergantungan
pada fana nista dunia semu.
Aku kunjungi majelis-majelis ilmu
agar hidupku bisa diperciki
mata air surgawi yang abadi.
Aku singgahi rumah-rumah kaum salih
berharap pintu silaturahmi mengantarkanku
ke haribaan rumah-Mu yang sejati.
Aku sadar betul hakikat diri ini
hanya sebagai gelandangan sejarah
yang mondar-mandir dalam keraguan.
Jika di abad ini, ilmu kian terisolir
maka biarkanlah daku
sebagai gelandangan sejarah memungutinya seorang diri
Biar Tuhan yang menentukan Iradat-Nya
siapa sebenarnya yang gelandangan
di kampung akhirat nanti.
Purbalingga, 2026
Peminjam Tulen
Tekad dalam diriku sudah bulat
Aku hanya meminjam segalanya
Sebagai penyair, aku meminjam kata-kata-Mu
berharap hati pembaca bisa teduh dan
kembali menuju jalan-Mu lagi.
Sebagai akademisi, aku hanyalah meminjam
kebenaran-Mu, ilmu-Mu dan kebijaksanaan-Mu
agar murid-muridku tidak kehilangan raja-Mu.
Sebagai hamba, semua daya upayaku
hanyalah kisah pewayangan yang sudah ditulis
dalam kitab Lauhul Mahfudz-Mu.
Maka, betapa tidak tau dirinya diriku
jika mengaku sebagai seorang pemilik.
Sedang engkau Malikal Mulki yang
tidak perlu menjelaskan siapa
sebenarnya Aku.
Purbalingga, 2026
Muhammadku
Betapa bahagianya diriku
jika suatu saat nanti
di kampung akhirat yang abadi
kami bisa hidup berdampingan denganmu.
Aku mengirimi sayur sop
untuk memenuhi kebutuhan jasadiah perutmu.
Sedang engkau menjadi penangkal
lapar ruhaniah perutku.
Senyumku padamu tidak berarti apa-apa bagimu
Sedangkan senyummu adalah
siraman air terjun surgawi yang meneduhkan batinku.
Di sana, aku akan lebih hemat kata
karena kata-kataku hanya terbuat dari sia-sia.
Sedangkan kata-katamu adalah kalam suci
yang bisa mengunci setiap kemunafikan dalam diriku.
Muhammadku,
engkaulah uswatun khasanah yang abadi itu
Kalau aku tidak bisa berdampingan denganmu
di kampung akhirat nanti
Tolong, akuilah aku sebagai bagian dari umatmu. Aamiin.
Purbalingga, 2026


















