Laut Tanpa Kapal

37
Ilustrasi laut tanpa kapal

Samar Rasa

Kau datang seperti kabut pagi
menyentuh kulit tanpa suara
hadir, lalu menghilang di balik senja
meninggalkan jejak yang tak utuh

hatiku jadi laut tanpa ombak
tenang di luar, ribut di dalam
kata yang hendak kau ucap
tersangkut di ujung lidah waktu.

Aku menunggumu bagai bintang menanti fajar
sia-sia, tapi tak mampu berhenti
rindu ini duri yang merayap pelan
menikam tanpa darah

Kau dekat
tapi jauh seperti mimpi
Kau nyata
tapi rapuh seperti kaca
samar rasa itu menari di dada
menertawakan aku yang masih percaya

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

malam menelan namamu diam-diam
Aku menelan sepi perlahan-lahan
mungkin Kita hanya dua bayang
yang bertabrakan lalu saling menghilang

kini Aku belajar memeluk kosong
menjadi rumah bagi sepi sendiri
samar rasa itu kubiarkan pergi
bersama angin yang tak pernah kembali


Laut Tanpa Kapal

Aku adalah laut tanpa kapal
luas, tapi tak ada yang singgah
ombakku meraung memanggil nama
namun suaraku mati di tengah sunyi

Kau pergi seperti angin yang ingkar janji
meninggalkan air mataku yang asin
hatiku karam dalam kerinduan
karam perlahan tanpa pertolongan

malam menjadi jangkar yang berat
menahan aku di dasar sepi
bintang menertawakan kesendirianku
berkedip jauh, tak terjangkau

Aku menanti bayangan di cakrawala
sia-sia, seperti nelayan tanpa jala
rindu ini badai yang tak reda
menghantam karang hatiku retak

kini Aku belajar menjadi samudra
luas menerima segala kehilangan
laut tanpa kapal tetap bernyanyi
meski tak ada yang mendengar lagunya


Embun Diam

Kau datang seperti embun diam
jatuh pelan di daun hatiku
tak bersuara, tapi membasahi
meninggalkan dingin yang membekas

hatiku jadi ladang kosong
menunggu hujan yang tak kunjung tiba
kata-katamu adalah angin pagi
lewat sekejap, lalu menghilang

Aku menunggumu seperti pohon menanti musim
tegar, meski ranting mulai patah
rindu ini duri yang merayap pelan
menikam tanpa mengeluarkan darah

Kau dekat tapi jauh seperti mimpi
nyata tapi rapuh seperti kaca
samar rasamu menari di dada
menertawakan Aku yang masih percaya

malam menelan namamu diam-diam
Aku menelan sepi perlahan-lahan
embun diam itu akhirnya pergi
bersama fajar yang tak pernah menungguku


Penulis: Amalia Dwi Rahmah, Alumnus Unhasy

Editor: Rara Zarary