Kisah Si Pendonor Darah

Faizah Muqaddimah, si pendonor darah sejak duduk di bangku madrasah aliyah (MA/SMA). (Foto: Umda)

Faizah Muquddimah merupakan salah satu mahasiswi PAI semester 4 Unhasy yang mengaku sangat peduli terhadap kebutuhan sesama. Salah satu wujud kepedulian yang dilakukannya adalah mendonorkan darahnya pada setiap kegiatan donor darah sejak beberapa tahun lalu. Sebab baginya, hal itu adalah salah satu upaya membantu sesama manusia yang sangat membutuhkan darah tersebut sebagai sarana melanjutkan kehidupan.

Mahasiswa yang sekaligus santriwati Pesantren Walisongo Cukir ini, kemarin ditemui oleh tim tebuireng online dalam sebuah kegiatan donor darah yang diadakan oleh pihak Fakultas Ekonomi Unhasy Tebuireng bersama PMI Kabupaten Jombang, bertempat di lobi kampus B Unhasy, Selasa (13 Maret 2018).

Hal semacam ini memang banyak dilakukan oleh orang-orang di luar sana, tetapi sebaliknya, ada pula yang yang masih tak acuh terhadap hal yang notabene begitu penting ini. Maka karena hal itu, akhirnya tim tebuireng online mencoba mewawancarai Faizah, sebagai salah satu inspirasi kaula muda untuk lebih peduli terhadap sesama manusia, sekalipun hanya dengan berbagi setetes darah.

Apakah sebelumnya memiliki pengalaman mendonor darah? Bisa diceritakan awal mulanya?

Waktu pertama kali donor darah itu kelas 2 madrasah aliyah (MA/SMA). Soalnya waktu itu aku juga bertepatan mengikuti ekstrakulikuler PMR, saat itu aku dikasih tantangan oleh ketua PMR, jadi ada waktu acara donor darah di pondok, kita semua rame-rame mau donor darah. Waktu sudah diperiksa hemoglobin, banyak yang nggak boleh donor darah karena tidak memenuhi kriteria, hingga pada nangis. Namun aku menjadi salah satu yang beruntung untuk dapat mendonor darah. Senengnya bukan main. Tapi waktu mau diambil darahnya itu merasakan sakit yang amat sangat. Namun disatu sisi aku sangat senang, karena teman-temanku menemaniku seperti membentuk lingkaran. Hingga rasa sakitku tak terasa. Dan semenjak saat itu aku rutin donor darah setiap 3 bulan sekali. Kalau tidak donor badan terasa tak enak.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Apa motivasi yang membuat Anda konsisten dalam mendonor darah?

Pertama aku di PMR diajarkan praktik dalam pembelajarannya, seperti ada yang jadi penolong dan ada pula yang jadi korban. Kemudian dari sana aku melihat dan merasakan betapa banyaknya orang yang membutuhkan darah saat terjadi kecelakaan ataupun terserang suatu penyakit. Dari situlah aku berfikir diluar sana banyak yang membutuhkan bantuan kita, maka dari itu hanya dengan setetes darah itu bisa menyelamatkan orang lain.

🤔  Kuliah dan Nyantri Sambil Jalankan Tiga Bisnis

Bagaimana cara mengatasi rasa takut yang kerap kali menyerang orang-orang yang baru pertama mendonorkan darah? Adakah tips-tipsnya ?

Yang pertama kita harus melawan rasa takut, dan berfikir bahwa itu hanya dimasukkan jarum, dapat dibayangkan seperti digigit semut.

Yang kedua carilah petugas pengambil darah yang sekiranya memiliki banyak pengalaman, agar nantinya tidak salah dalam bertindak.

Yang ketiga biasanya setelah donor darah, para pendonor akan mendapatkan snack yang berisi aneka macam jajan. Sehingga menjadi salah satu semangat dalam mendonor.

Kemudian yang keempat yaitu seperti dalam hadist yang berbunyi “…Khoirunnas Anfa’ahum Linnas...” yang artinya “…Sebaik-baik manusia itu yang bermanfaat bagi orang lain…”.

Apa sajakah manfaat yang Anda rasakan dalam mendonor darah?

  • Badan menjadi lebih sehat
  • Badan terasa entang
  • Darah kita itu memproduksi lagi
  • Dapat dijadikan alternatif diet bagi orang yang ingin menurunkan berat badan.
  • Menambah kekebalan tubuh, sehingga tidak mudah terserang penyakit.
  • Menjadikan wajah tidak mudah berjerawat sehingga terlihat awet muda dan halus.
  • Dilihat dari segi agama, ialah salah satu amal jariyah yang tidak terputus amalnya meski manusia sudah tiada.
  • Simbiosis mutualisme, artinya saling menguntungkan bagi si pendonor maupun yang di donor.

Bagaimana kesan dan pesan Anda saat acara donor darah di Unhasy?

Kesannya, kita itu niatnya membantu orang lain, karena diluar sana banyak orang yang membutuhkan, selama kita mampu membantu orang lain, maka lakukanlah. Karena manusia itu makhluk sosial, artinya saling membutuhkan. Sehingga suatu saat jika kita membutuhkan pertolongan ada saja yang menolong. Dan rasanya ada pada kepuasan batin yang tak semua dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Pesannya, selagi kita masih punya kesempatan membantu orang lain maka lakukanlah. Karena kesempatan tak mesti datang dua kali. Selagi kita masih dapat memenunuhi kriteria untuk donor darah maka cobalah untuk menyumbangkan darah, lawanlah rasa takut itu, karena ketakutanmulah yang sesungguhnya membuatmu sulit.


Pewarta: Umdatul Fadhilah

Editor/Publihser: Rara Zarary