ilustrasi kerajaan

Di dalam buku bertajuk Raud al-Rayahin, Imam Abdullah Yafi’i menceritakan satu kisah. Dikisahkan, zaman dahulu terdapat sosok raja yang memiliki sifat yang seharusnya tidak dimiliki oleh sosok raja ideal. Dia berlaku sewenang-wenangnya, sombong dan sifat-sifat keji lainnya.

Hingga pada puncaknya, ia sombong dan angkuh untuk tidak berkenan menyembah Allah Swt. Ia lebih memilih menyembah patung-patung yang biasa dilakukan masyarakat zaman itu.

Pada suatu hari, masyarakat muslim yang hidup di sekitar sang raja tidak nyaman dengan apa yang telah dilakukan oleh sang raja. Akhirnya, pada saat itu, masyarakat muslim bersepakat untuk menangkap sang raja, lalu menghukumnya.

Setelah berkumpul dan memutuskan cara yang akan mereka gunakan dalam menangkap sang raja, akhirnya beberapa orang dari mereka pergi menuju lokasi kerajaan. Dengan beberapa usaha yang mereka kerahkan, akhirnya mereka bisa membawa sang raja untuk disembunyikan di suatu tempat milik sebagian masyarakat muslim.

Tanpa sepengetahuan dari pihak kerajaan, raja yang sudah berada di sebagian rumah milik muslim dijadikan tawanan oleh masyarakat muslim yang sedang berkumpul di sana. Secara serentak mereka mereka berkata, “Dengan model apa kita akan membunuh sang raja yang sombong ini?”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Akhirnya, setelah beberapa saat, mereka sepakat untuk membunuh sang raja dengan cara dibakar. Awalnya, mereka menciptakan tungku api yang besar. Setelah itu, tungku tersebut dibakar dengan bara api yang sangat besar pula.

Sebelum benar-benar mereka membunuh sang raja, mereka bersepakat untuk menyiksa terlebih dahulu sang raja. Supaya sang raja tahu, bahwa Tuhan yang benar dan berhak disembah hanyalah Allah Swt.

Akhirnya prosesi penyiksaan pun dilakukan. Sang raja kesakitan. Dia tidak kuat atas siksaan tersebut. Dia meronta-meronta tidak kuat menghadapi kehinaan tersebut.

Akhirnya, selang beberapa waktu, sang raja mencoba berdoa kepada beberapa berhala yang dia yakini sebagai Tuhan.

Untuk doa yang pertama, dia berkata, “Wahai Tuhan! Aku sudah menyembahmu lama sekali. Aku mohon, padamkanlah api yang membakarku ini.”

Setelah itu, sang raja hanya tertegun diam. Tidak ada balasan dari berhala yang dia mintai pertolongan.

Akhirnya, setelah tidak ada satupun jawaban dari sang berhala, sang raja tersebut menengadah ke arah langit seraya berkata, “Tidak ada Tuhan selain Allah.”

Dia berkata dengan setulus hati, seraya berdoa supaya api yang membakarnya cepat padam. Apa yang terjadi, akhirnya hujan turun. Allah Swt. menurunkan air yang cukup banyak ke arah tungku api tersebut.

Akhirnya, air yang cukup banyak tersebut bisa memadamkan api yang cukup besar. Setelah itu, datanglah angin yang cukup kencang seraya mengangkat tungku api tersebut melayang di antara bumi dan langit.

Tungku tersebut berkata, “Tidak ada Tuhan selain Allah.”

Setelah api benar-benar padam, tungku pun sudah hilang dari lokasi awal, akhirnya masyarakat muslim yang ada pada saat itu membawa kembali sang raja untuk pergi ke rumah. Di rumah tersebut, sang raja diinterogasi dengan beberapa pertanyaan.

Akhirnya, sang raja menceritakan segala kondisi dan kisah yang dia alami semasa berada di tungku api besar tadi. Masyarakat muslim yang ada menyemak dengan seksama.

Dari kisah di atas, kiranya kita bisa mengambil satu poin hikmah. Bahwasanya bacaan tahlil, “Tidak ada Tuhan selain Allah,” ialah bacaan yang memiliki keramat dan keutamaan besar. Salah satunya bisa dibuktikan oleh sang raja yang ada di kisah tadi, untuk benar-benar memunculkan pertolongan yang hakiki. Pertologan yang berasal dari satu-satunya Tuhan, yakni Allah Swt. Sekian, terima kasih.


Ditulis oleh Moch. Vicky Shahrul H., Mahasantri Ma’had Aly Pondok Pesantren An-Nur II Al-Murtadlo Malang