Ayat-ayat di Atas Ombak

7
Sebuah potret lautan

Ayat-ayat di Atas Ombak

Laut adalah kitab terbuka
halamannya digulung ombak
huruf-hurufnya ditulis angin
tinta garam tak pernah kering
setiap debur adalah zikir
memuji nama yang maha luas
sementara langit menunduk
jadi saksi bisu keagunganNya

pasir memeluk kakiku seperti doa yang sabar
menahan jejakku agar tidak sombong di hadapanNya
matahari tenggelam pelan
meneteskan emas ke air
seolah waktu sedang rukuk
tunduk pada sang pemilik senja

Aku berdiri di batas dunia
kecil seperti setitik buih
mendengar laut berceramah tentang kuasa dan fana
ombak datang dan pergi
ibarat napas manusia
silih berganti
mengajarkanku arti pasrah

di sini aku membaca
bahwa tenang dan badai sama-sama ayat
bahwa diamnya pantai pun bertasbih
dan hatiku
akhirnya ikut larut dalam lautan makna

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Laut yang Menelan Sepi

Laut adalah raksasa biru yang lapar
menelan sepiku tanpa sisa
tanpa tanya
ombaknya berteriak
lalu membisik pelan
seperti teman yang tahu lukaku paling dalam

angin menari di atas air
menggambar luka
sementara bulan jadi lentera bagi duka
pasir menggenggam kakiku
menahanku agar tak lari
dari bising hati yang selalu ribut sendiri

Aku melempar nama ke tengah samudera dan ombak
mengembalikannya dalam bentuk diam
laut tidak menjawab
Ia hanya mendengarkan
menjadi kubur bagi tangis yang tak sempat jatuh

di sini sepi tidak terasa sendiri lagi
karena laut sudah menelannya jadi tenang


Mengejar Matahari Terbenam

Aku berlari di atas pasir
dikejar waktu yang kejam
mengejar matahari yang jatuh
pelan-pelan meleleh jadi emas
langit adalah kanvas yang terbakar
merah, jingga, ungu, dilukis tangan Tuhan yang tak terlihat

ombak menepuk kakiku
mengolok langkahku yang terlambat
angin berbisik
tak ada yang bisa Kau genggam
tapi aku tetap lari
karena perjalananku bukan soal tiba
melainkan soal berani mengejar cahaya yang mau padam

matahari tenggelam seperti janji yang ditelan laut
meninggalkanku dengan rona di pipi dan doa di dada
aku kalah oleh senja
tapi hatiku menang
karena ia sempat menyala bersama langit


Penulis: Amalia Dwi Rahmah