(ilustrasi: M. Iqbal)

Oleh: Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari

Bagi setiap mukallaf wajib mencintai Nabi SAW  Allah Azza wa Jalla telah berfirman :

قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah Muhammad: “jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”.[1]

Ayat yang mengandung ancaman berat di atas, cukup sebagai anjuran, ancaman, bukti, dan alasan wajibnya mencintai Nabi SAW dan ketetapan yang mewajibkan mencintainya, mengagungkan derajatnya, dan haknya untuk dicintai. Karena Allah Ta’ala mencela siapa saja yang lebih mencintai hartanya, keluarganya, dan anaknya dari pada Allah dan Rasul-Nya, dan mengancam mereka dengan firman-Nya :

فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِه

Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”.[2]

Kemudian Allah menggolongkan mereka sebagai orang-orang fasik, dengan firman-Nya :

وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”.[3]

Dan Allah memberitahu mereka, bahwa mereka termasuk orang-orang yang sesat dan tidak diberi petunjuk oleh Allah.

Rasulullah SAW bersabda :

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِـين

Tidaklah beriman salah seorang di antara kamu, sampai dia menjadikan saya lebih dia cintai dari pada ayahnya, anaknya, dan manusia semuanya”. [4]

Diriwayatkan dari Anas ra. dari Nabi SAW bersabda :

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّار

Ada tiga perkara, barangsiapa melakukannya dia akan merasakan manisnya iman : Hendaklah ia menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari pada selain keduanya. Hendaklah ia mencintai seseorang karena Allah. Dan hendaklah ia tidak suka kembali ke kekufuran sebagaimana dia tidak suka untuk dilempar ke neraka”. [5]

  7 Nasihat Mbah Hasyim tentang Adab Guru kepada Murid-muridnya (Bagian 1)

Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab ra., bahwa dia telah berkata kepada Nabi SAW :

لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِيْ اَّلتِى بَيْنَ جَنْبِيْ. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم : لَنْ يُؤْمِنَ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ نَفْسِهِ. فَقَالَ عُمَرُ : وَالَّذِى أَنْزَلَ عَلَيْكَ اْلكِتَابَ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي اَّلتِى بَيْنَ جَنْبِى. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم : اَلْآنَ يَا عُمَرُ  أي فى هذا الزمان قد استقمت إيمانا و تكملت إيقانا

Sungguh engkau adalah orang yang lebih saya cintai dari segala apapun kecuali diriku yang saya miliki”. Maka Nabi SAW bersabda kepada Umar ra.: ”Tidak akan beriman salah seorang diantara kalian sampai dia lebih mencintai saya dari pada dirinya”. Lalu Umar ra. mengatakan : ”Demi Allah Yang telah menurunkan Al Qur’an kepadamu, sungguh engkau adalah orang yang lebih saya cintai dari pada diriku sendiri yang saya miliki”. Sabda Nabi SAW kepada Umar ra. : “Sekarang, wahai Umar”. Maksudnya, pada saat inilah telah lurus imanmu dan telah sempurna keyakinanmu.[6]


*Diterjemahkan oleh Ustadz Zainur Ridlo, M.Pd.I. dari kitab Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyidi al-Mursalin karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari 


[1] At Taubah ayat 24.

[2] Idem

[3] Idem

[4] Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

[5] Idem

[6] Hadis riwayat Imam Bukhari.