Kepemimpinan PBNU Berbasis Budaya Jawa

9
Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz

Oleh: Gus Nas Jogja*

Refleksi “Bibit, Bebet, Bobot” dalam Kepemimpinan KH. Abdul Hakim Mahfudz

Kosmologi Kepemimpinan Jawa dan Islam Tradisional

Dalam jagat spiritualitas Jawa, kepemimpinan bukanlah urusan kontrak sosial sekuler yang mekanistik ala Thomas Hobbes, melainkan sebentuk amanah kosmis yang menghubungkan mikrokoosmos (jagat cilik) dengan makrokosmos (jagat gede). Ketika kepemimpinan ini diletakkan dalam rahim jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU), ia berasimilasi dengan konsep Imamah atau Riyasah dalam khazanah keislaman klasik. Sinergi ini melahirkan epistemologi kepemimpinan yang utuh, di mana aspek profan dan sakral melebur menjadi satu laku spiritual.

Baca Juga: Berkhidmat di Nahdlatul Ulama

Falsafah Jawa secara presisi memetakan kelayakan seorang pemimpin melalui triad sakral: Bibit, Bebet, dan Bobot. Di gerbang abad kedua NU, ketika arus pragmatisme global mengancam sendi-sendi moral peradaban, dibutuhkan nakhoda yang selesai dengan dirinya, steril dari tarikan kepentingan politik praktis, dan terikat kuat pada tali sanad para pendiri. Sosok tersebut mewujud secara antropologis dan teologis pada KH. Abdul Hakim Mahfudz atau yang lazim disebut Gus Kikin.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
  1. Bibit: Kesucian Nasab, Teologi Sanad, dan Genealogi Karismatik

“Manusia itu seperti bahan tambang, ada emas dan ada perak. Yang terbaik di masa jahiliyah adalah yang terbaik di masa Islam jika mereka memahami fikih.” Hadis Nabi Muhammad SAW.

Perspektif Antropologis & Spiritual-Filosofis Jawa

Dalam kultur Jawa, Bibit melampaui sekadar determinisme genetika materialistis. Ia adalah pewarisan pulung atau wahyu keprabon—sebuah pancaran cahaya spiritual atau nur yang mengalir melalui garis keturunan suci. Pujangga besar Jawa, Ronggowarsito, dalam karya-karyanya sering mengisyaratkan pentingnya trah atau silsilah dalam menjaga harmoni kosmis. Pemimpin berdarah biru (darah dalem) bukan diartikan sebagai feodalisme kasta, melainkan sebagai wadah fisik yang telah disucikan melalui laku tirakat leluhur lintas generasi.

Gus Kikin memegang teguh bibit ini sebagai keturunan langsung (cucu) dari sang mahaguru Nusantara, Hadratusysyaikh KH. Hasyim Asy’ari.

Argumen Fikih dan Tasawuf

Secara metodologis, diskursus keilmuan Islam sangat bertumpu pada konsep Sanad atau transmisi keilmuan dan spiritual. Imam Abdullah bin al-Mubarak menegaskan: “Sanad adalah bagian dari agama. Jika bukan karena sanad, niscaya setiap orang akan berkata apa saja sekehendak hatinya.”

Baca Juga: Menelusuri Fondasi Nahdlatul Ulama melalui Kajian Al-Qanun Al-Asasi

Garis keturunan biologis Gus Kikin yang menyatu dengan sanad keilmuan Tebuireng melahirkan kepemimpinan bercorak Syarif—sebuah kepemimpinan yang tidak hanya mendapatkan otoritas dari kertas suara, melainkan dari restu tak kasat mata para leluhur (berkah madady). Dalam kacamata tasawuf Syeikh Abdurqadir al-Jilani, nasab yang saleh merupakan tanah subur bagi tumbuhnya benih-benih kewalian dan kepemimpinan umat. Ketika Gus Kikin memimpin, getaran spiritual Hadratusysyaikh KH. Hasyim Asy’ari hadir secara metafisik, meredam gejolak ego sektoral di dalam tubuh kepengurusan PBNU.

  1. Bebet: Jiwa yang “Selesai” (Zuhud Khash), Kemandirian Ekonomi, dan Independensi Khittah

“Zuhud yang sejati bukanlah engkau tidak memiliki apa-apa, melainkan ketika dunia tidak memiliki (mengendalikan) dirimu.” — Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin

Perspektif Sosiologis & Filosofis

Bebet meninjau kapasitas lahiriah, ketahanan sosial, serta kemandirian ekonomi. Sosiolog ternama Max Weber membedakan antara politisi yang hidup dari politik (live off politics) dengan mereka yang hidup untuk politik (live for politics). Gus Kikin adalah antitesis dari pemburu jabatan oportunistik; beliau hidup untuk NU, bukan mencari penghidupan dari NU.

Secara finansial, Gus Kikin telah menuntaskan pencarian materiilnya sebagai seorang profesional dan pelaku industri yang mapan. Dalam filsafat Jawa, kondisi ini disebut “wis rampung karo awake dhewe” (telah selesai dengan dirinya sendiri). Beliau tidak lagi memiliki kecemasan eksistensial akan kebutuhan duniawi, yang oleh filsuf Jerman Martin Heidegger disebut sebagai Sorge atau kecemasan akan keberadaan.

Kemandirian absolut ini berimplikasi langsung pada ketegasan sikap politik kelembagaan. Gus Kikin berdiri kokoh di atas garis Khittah NU 1926 dengan tidak terafiliasi dengan partai politik mana pun. Ketika seorang pemimpin tidak memiliki ketergantungan finansial maupun utang budi politik terhadap oligarki partai, jam’iyah akan selamat dari bahaya kooptasi. NU tidak akan dijadikan bemper politik elektoral maupun kendaraan bagi kepentingan pragmatis kekuasaan sekuler.

Argumen Fikih dan Tasawuf

Dalam ranah fikih kepemimpinan (Siyasah Syar’iyyah), Imam Al-Mawardi dalam kitabnya Al-Ahkam As-Sultaniyyah mensyaratkan ketiadaan cacat ketamakan (kifayah) pada diri seorang pemimpin agar terhindar dari penyalahgunaan aset publik (baitul mal). Seseorang yang belum mandiri secara ekonomi sangat rentan memanfaatkan organisasi keagamaan sebagai komoditas transaksi politik-ekonomi.

Secara tasawuf, kemandirian finansial Gus Kikin menempatkan beliau pada derajat Zuhud Khash (zuhud tingkat tinggi). Beliau menguasai harta di tangan, namun tidak membiarkannya masuk ke dalam hati. Ini sejalan dengan perkataan sufi agung Ibnu ‘Athaillah al-Iskandari dalam Al-Hikam: “Iradah (keinginanmu) untuk tajrid (fokus ibadah tanpa bekerja) padahal Allah masih menempatkanmu pada maqam asbab (bekerja mencari nafkah) adalah syahwat yang samar.”

Baca Juga: Khittah Tebuireng dalam Menjaga Nahdlatul Ulama

Gus Kikin sukses melewati fase asbab dan kini mengabdi di jalan tajrid spiritual-organisatoris tanpa beban ketergantungan finansial pada pihak luar, menjadikannya figur benteng independensi NU yang hakiki.

  1. Bobot: Kapasitas Intelektual, Otoritas Kultural, dan Penjaga Kompas Peradaban

Aspek Bobot mengukur kedalaman ilmu (ngelmu), kematangan manajerial, dan ketajaman visi peradaban. Pada diri Gus Kikin, bobot ini memancar dari tiga pilar kokoh:

A. Pengasuh Pesantren Tebuireng: Episentrum Otoritas Spiritual

Pesantren Tebuireng bukan sekadar lembaga pendidikan; ia adalah rahim peradaban Islam Nusantara. Dalam antropologi pesantren, posisi Pengasuh Tebuireng meniscayakan kepemilikan otoritas karismatik (charismatic authority) tertinggi. Penulis kajian pesantren legendaris, Clifford Geertz, mengidentifikasi kiai sebagai cultural brokers (pialang budaya) yang menjembatani umat dengan modernitas tanpa kehilangan identitas tradisionalnya.

Sebagai pengasuh Tebuireng, Gus Kikin secara otomatis diakui memiliki kedalaman sanad keilmuan dan ketahanan spiritual. Posisi ini menuntut penyerahan diri secara total kepada khidmat keilmuan, persis seperti konsepsi Ki Hajar Dewantara tentang metode Among: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.

B. Ketua PWNU Jawa Timur: Navigasi Pusat Gravitasi Nahdliyin

Secara sosiologis, Jawa Timur adalah jantung pertahanan kultural dan basis massa terbesar NU dengan 38 Pengurus Cabang (PCNU). Memimpin wilayah ini membutuhkan ketangkasan manajerial tingkat tinggi, kemampuan negosiasi, serta kepekaan sosial yang luar biasa.

Dalam teori tindakan komunikatif Jürgen Habermas, Gus Kikin berhasil menciptakan “ruang publik yang bebas dari dominasi” di tubuh PWNU Jatim. Beliau tidak memimpin dengan instruksi koersif atau paksaan, melainkan dengan pendekatan sosiologis-kultural yang merangkul segenap elemen. Fikih siyasah memandang keberhasilan beliau mengelola PWNU Jatim sebagai pemenuhan kaidah: “Tasharruful imam ‘alar ra’iyyah manuthun bil maslahah” (Tindakan pemimpin terhadap rakyatnya harus didasarkan pada kemaslahatan).

Kematangan bobot organisatoris Gus Kikin juga tercermin pada rekam jejaknya yang bersih dari cacat AD/ART. Beliau memimpin dengan kepatuhan mutlak pada konstitusi jam’iyah, tidak merangkap jabatan yang mampu mendegradasi fokus khidmat, serta menjauhkan diri dari segala bentuk pelanggaran regulasi internal organisasi. Kepatuhan hukum ini melahirkan wibawa kepemimpinan yang bersih (clean governance) dan dihormati di segenap tingkatan cabang.

C. Program Utama: Kembali ke Qonun Asasi sebagai Roadmap Abad Kedua

Langkah strategis Gus Kikin mengusung gerakan kembali ke Qonun Asasi adalah sebuah lompatan visi kepemimpinan yang sangat mendalam secara filosofis.

Baca Juga: Membangun Keluarga Maslahat Perspektif Islam dan Tradisi Nahdlatul Ulama

Secara Ontologis, Qonun Asasi yang ditulis oleh KH. Hasyim Asy’ari adalah fundamental norm (kaidah dasar) yang memberikan arah kehidupan keagamaan dan kebangsaan NU. Kembali ke Qonun Asasi berarti melakukan dekonstruksi atas pragmatisme politik yang kerap mengaburkan arah perjuangan jam’iyah.

Secara Sosiologis-Antropologis, ini merupakan bentuk gerakan kultural untuk menjaga kohesi sosial jamaah NU agar tidak tercerabut dari akar sejarahnya. Tanpa Qonun Asasi, NU di abad kedua berisiko mengalami anomie—kehilangan arah dan kompas moral akibat disrupsi modernitas ekstrem.