
Self love bukan berarti menempatkan diri di atas segalanya, tetapi belajar merawat diri tanpa kehilangan arah kembali kepada Tuhan. Di tengah rutinitas yang melelahkan dan tuntutan yang datang dari segala arah, kita sering lupa bahwa menjaga diri juga bagian dari amanah. Menyayangi diri berarti mengenali batas, mengobati luka, dan menghargai jiwa yang Allah titipkan kepada kita. Dengan mencintai diri secara tepat, kita justru menjadi hamba yang lebih kuat, lebih tenang, dan lebih mampu menjalani hidup dengan hati yang penuh syukur dan bergantung kepada-Nya.
Rumi dalam Fihi Ma Fihi mengajarkan bahwa mencintai diri sendiri bukanlah tindakan yang bertentangan dengan keimanan, melainkan sebuah langkah penting dalam perjalanan spiritual. Menurutnya, self-love sejati lahir dari kesadaran bahwa kita adalah ciptaan Allah yang memiliki nilai unik dan berharga. Rumi mengingatkan bahwa menyadari kekurangan dan kebutuhan kita kepada Tuhan justru memperkuat keimanan, karena kesadaran itu membawa kita kepada kerendahan hati dan ketergantungan penuh kepada Allah.
Baca Juga: Kenapa Rasanya Kosong? Ini Kunci Mengakses Inner Peace
Rumi mengingatkan pula bahwa rasa cinta kepada diri sendiri harus didasari dengan cinta kepada Tuhan agar tidak menyimpang menjadi egoisme. Dalam Fihi Ma Fihi, ia menulis bahwa kasih sejati adalah merasakan cinta Allah dalam diri kita dan memancar keluar. Ketika cinta pada diri berakar pada hubungan dengan Allah, maka self-love menjadi kekuatan yang memperkuat hubungan sosial dan spiritual tanpa mengorbankan iman.
Konteks modern menguatkan pentingnya self-love ini karena tekanan sosial dan standar kecantikan atau keberhasilan seringkali membuat individu merasa tidak cukup atau terasing. Rumi mengajarkan untuk menjauh dari penilaian manusia dan mengarahkan fokus pada nilai yang diberikan Allah dalam diri kita. Dengan mempraktikkan ajaran ini, seseorang bisa hidup dengan penuh rasa syukur, tanpa rasa malu atas kekurangan karena sadar itulah cara Allah menunjukkan kasih sayang-Nya.
Kesadaran bahwa kita “worth it” juga menjadi senjata melawan depresi dan kecemasan. Rumi sering menegaskan bahwa cahaya Ilahi ada dalam setiap jiwa. Menghargai diri tanpa kehilangan keimanan berarti mengakui bahwa jiwa ini adalah cerminan cinta Allah yang sempurna, walaupun manusia itu sendiri belum sempurna. Dengan begitu, kita belajar mencintai proses perjalanan spiritual kita, bukan hanya hasil akhir.
Rumi juga mencontohkan bagaimana mengenali dan menerima kebutuhan kepada Tuhan sebagai kekuatan bagi jiwa. Dalam Fihi Ma Fihi, ia menulis tentang pentingnya terus meminta dan berharap kepada Allah, karena itulah tanda bahwa jiwa hidup dan sadar akan keberadaannya. Di sini, self-love bermakna memelihara dan menghargai kebutuhan spiritual sebagai bagian integral dari keberlanjutan hidup yang bermakna.
Baca Juga: Di Balik Caption ‘Healing’, Saat Istirahat Menjadi Ibadah
Rumi juga menyadarkan kita agar tidak terjebak pada rasa hina diri yang berlebihan, karena hal itu justru menjauhkan kita dari rahmat Allah. Dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 13, Allah berfirman:
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.
Ayat di atas menegaskan bahwa nilai manusia bukan pada ketidaksempurnaan atau kekurangan fisik, melainkan pada kesadaran dan ketaqwaan dalam hati yang sejati. Rumi mengajarkan agar self-love diarahkan pada penghormatan dan pengembangan diri menuju ketaqwaan ini.
Baca Juga: Tujuan Hidupmu Bukan Cuma Cuan: Menemukan Purpose Sejati Ala Rumi
Ternyata Rumi mengajarkan bahwa kamu “worth it” karena kamu adalah ciptaan Allah yang unik dan dicintai, dengan segala kekurangan dan kebutuhan yang membuatmu otentik dan utuh. Mencintai diri tanpa kehilangan keimanan adalah menyadari kelemahan sebagai kekuatan spiritual, menjaga hubungan dengan Tuhan sebagai pusat, dan terus berproses dalam cinta dan keimanan. Pesan ini sangat relevan di era modern sebagai pondasi self-love yang sehat dan bermakna.
Penulis: Silmi Adawiya, Mahasiswa S3 UIN Malang
Editor: Rara Zarary


















