
“Healing” belakangan menjadi fenomena populer di kalangan generasi milenial dan Gen Z. Pada mulanya, istilah ini merujuk pada proses pemulihan mental dan emosional akibat stres, trauma, atau luka batin yang mengganggu kesehatan psikis seseorang. Namun dalam perkembangannya, healing berubah menjadi gaya hidup yang identik dengan liburan, berkunjung ke tempat wisata, menikmati kopi di kafe, atau menyantap makanan yang dianggap mampu mengembalikan suasana hati.
Baca Juga: Kenapa Masih Galau Setelah Healing? Cek di Mana Hatimu Bersandar
Menurut Alam, penggunaan kata healing di media sosial pada akhir 2021 hingga 2022 meningkat pesat (dalam Muthoharoh, 2022: 74).[1] Fenomena ini memperlihatkan bagaimana healing tidak lagi dipahami sebagai proses penyembuhan yang mendalam, melainkan aktivitas penyegar rutinitas yang bersifat instan. Padahal, secara konsep, healing sebagaimana digunakan dalam psikologi merujuk pada proses pemulihan mental dan emosional dari stres, tekanan, atau luka batin.
Lalu, apa sebenarnya makna healing dalam pandangan Islam? Dan apa bedanya dengan sekadar refreshing?
Makna Healing dalam Islam
Ternyata kata “healing” ini sudah dibahas dalam ajaran Islam. Dalam perpesktif Islam, makna healing memiliki padanan dengan istilah al-syifā’ yang berarti penyembuhan. Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ
“Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi sesuatu (penyakit) yang terdapat dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang mukmin.”
Baca Juga: Cara Rumi Menghadapi Overthingking dan Doomscrolling
Ayat ini muncul setelah Allah mengingatkan bahwa setiap yang hidup pasti akan mati dan kembali kepada-Nya. Karena itu, manusia diarahkan kepada Al-Qur’an sebagai syifā’ (obat) bagi berbagai penyakit hati seperti iri, dengki, atau kegelisahan batin, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi hamba yang beriman.
Menurut Imam al-Qurthubi, penyembuhan dalam ayat ini bukan hanya untuk tubuh, tetapi terutama bagi penyakit hati seperti kecemasan, kegelisahan, dan pertentangan, [2] hal yang kini banyak dialami generasi muda meski hidupnya tampak “baik-baik saja” di media sosial.
Perbedaan Healing dan Refreshing
Dalam konteks era sekarang, healing sering dilakukan melalui refreshing, padahal secara konsep keduanya berbeda.
- Refreshing adalah rehat fisik dari aktivitas yang membuat tubuh dan pikiran kembali segar.
- Healing adalah penyembuhan batin serta memulihkan relasi dengan diri sendiri dan dengan Allah.
Keduanya dibutuhkan, tetapi tidak boleh dipertukarkan. Liburan bisa menyegarkan, tetapi tidak selalu menyembuhkan. Sebaliknya, penyembuhan batin tidak selalu harus dilakukan di luar rumah atau di tempat wisata; terkadang ia justru terjadi dalam muhasabah, dzikir, atau sujud yang panjang.
Istirahat sebagai Ibadah dalam Pandangan Ulama
Kiai Hasyim Asy’ari menyinggung soal bolehnya berwisata bagi penuntut ilmu sebagai pengisi daya semangat ketika kembali belajar. Berikut redaksinya dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim pada bab dua, yaitu adab penuntut ilmu terhadap dirinya sendiri, poin kesembilan.
“ولابأس أن يريح نفسه وقلبه وذهنه وبصره إذا كل شيء من ذالك وضعف بتنزه وتفرج في المتنزهات بحيث يعود إلى حاله ولايضيع عليه.” انتهى
“Tidak masalah bagi penuntut ilmu untuk mengistirahatkan jiwa, hati, pikiran atau matanya ketika lelah dan lemah (bosan/tidak bersemangat dalam belajar) dengan cara berwisata dan bersantai di tempat-tempat destinasi wisata dengan harapan dapat kembali pada kondisi semula serta tidak menyia-nyiakan kondisi tersebut.”
Baca Juga: Self Healing Melalui Komunikasi Intrapersonal
Pandangan ini menunjukkan bahwa refreshing diperbolehkan, bahkan dianjurkan, jika dilakukan untuk mengembalikan energi dan semangat ibadah. Dengan niat yang benar, istirahat bisa menjadi bagian dari ibadah.
Pada akhirnya, healing dalam Islam bukan sekadar jalan-jalan untuk melepas penat. Healing adalah proses menyembuhkan hati, menata jiwa, dan mengembalikan diri kepada Allah. Sementara refreshing adalah sarana untuk menjaga keseimbangan kebutuhan fisik dan mental.
Keduanya penting, tetapi harus ditempatkan secara proporsional. Ketika istirahat dilakukan dengan niat yang benar bukan untuk lari dari masalah, tetapi untuk kembali lebih kuat maka rehat itu sendiri bisa menjadi ibadah. Sebab tubuh yang segar dan hati yang tenang lebih mudah untuk taat, lebih siap untuk beribadah, dan lebih kuat menghadapi kehidupan.
Baca Juga: Awas! Self Healing Bisa Membahayakan Bila Salah Kaprah
[1] Anisa Mutohharoh, “Self Healing: Terapi atau Rekreasi?,” JOUSIP: Journal of Sufism and Psychotherapy 2, no. 1 (2022): 73–88, https://doi.org/10.28918/jousip.v2i1.5771.
[2] Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Qurṭubī, al-Jāmi‘li Aḥkām al-Qur’ān (Tafsīr al-Qurṭubī), tahqīq: Aḥmad al-Bardūnī dan Ibrāhīm Aṭfayyiš, Kairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, cet. ke-2, 1384 H/1964 M.
Penulis: Ibnu Ubaidillah, Mahasantri Tebuireng
Editor: Rara Zarary


















