
Tujuan hidup menurut Rumi bukanlah semata-mata meraih cuan atau keuntungan duniawi, melainkan menemukan makna dan tujuan sejati yang berakar pada hubungan dengan Sang Pencipta. Dalam kitab Fihi Ma Fihi, Rumi menegaskan bahwa tugas utama manusia di dunia adalah untuk beribadah kepada Allah, dan segala hal lain yang dilakukan tanpa tujuan tersebut adalah sia-sia. Ia menegaskan bahwa manusia sebagai makhluk ciptaan Allah memiliki misi tunggal yang tidak boleh dilupakan meski sibuk dengan urusan duniawi. Senada dengan firman Allah:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zāriyat:56)
Baca Juga: Di Balik Caption ‘Healing’, Saat Istirahat Menjadi Ibadah
Rumi menjelaskan bahwa dunia menawarkan gemerlap yang mempesona sehingga seringkali manusia lupa akan tujuan utama penciptaannya, yaitu beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Dalam Fihi Ma Fihi, Rumi mendorong agar manusia tidak terjebak dalam kesibukan materi yang mengalihkan perhatian dari tugas spiritual yang hakiki, yaitu menghubungkan jiwa dengan Tuhan yang bersifat kekal.
Menurut Rumi, manusia adalah kombinasi unsur jasmani dan ruhani yang selalu bertentangan. Jasmani bersifat sementara dan cenderung mencari kesenangan duniawi, sedangkan ruhani adalah individu yang abadi dan berorientasi pada spiritualitas. Tujuan hidup sejati adalah mengutamakan kebutuhan ruhani melalui ibadah dan penghambaan kepada Allah, bukan sekadar mengejar kesenangan fisik atau materi.
Rumi memperlihatkan bahwa ketika manusia hidup hanya untuk meraih kekayaan dan kehormatan dunia, ia sesungguhnya telah melupakan tujuan paling penting yaitu “wushul” atau penyatuan dengan Tuhan. Dalam Fihi Ma Fihi, ia menggunakan bahasa sufistik untuk menggambarkan keadaan seorang hamba yang telah menyatu dengan Allah, yakni saat hati dan seluruh inderanya tenggelam dalam kesadaran ilahi.
Baca Juga: Kenapa Red Flag Itu Muncul? Memahami Hikmah di Balik Masalahmu
Rumi juga menegaskan bahwa kehidupan yang baik adalah kehidupan yang digerakkan oleh cinta sejati kepada Tuhan. Cinta itu bukan sekadar gejolak rasa yang datang dan pergi, tetapi merupakan poros yang mengarahkan seluruh tujuan hidup. Cinta Ilahi adalah cahaya yang menuntun langkah, memberi ruh pada setiap usaha, dan mengisi makna di balik setiap tindakan. Tanpa kehadiran cinta, segala bentuk keberhasilan dunia tak lebih dari ruang hampa yang tidak memiliki denyut. Kesuksesan yang tampak megah di mata dunia pun akan terasa kering ketika tidak bertaut dengan sumber cinta yang hakiki. Rumi mengajak kita untuk kembali menata hati, sebab hanya dengan cinta Ilahi, hidup menemukan kedalaman, arah, dan ketentraman yang sejati.
Rumi menempatkan Tuhan sebagai tujuan utama di atas segala urusan duniawi seperti jabatan, kekuasaan, dan kekayaan. Dalam Fihi Ma Fihi, ia menggambarkan bagaimana para pemilik kekuasaan tidak serta-merta mendapatkan kedamaian sejati tanpa mendekatkan diri kepada Tuhan. Ini menunjukan bahwa tujuan hidup sejati bukanlah status sosial, melainkan pengabdian kepada hakikat hidup yang lebih agung.
Dalam konteks pengajaran dan pencarian tujuan, Rumi menulis bahwa kesedihan dan kerinduan yang kita rasakan adalah karena jiwa yang terpisah dari Tuhan. Kerinduan ini memotivasi manusia untuk terus mencari dan mendekati Sang Pencipta, agar hidupnya menjadi bermakna dan penuhi dengan keberkahan spiritual, bukan sekedar material.
Baca Juga: Patah Hati Ternyata Plot Twist Terbaik dari Allah
Rumi menggambarkan kehidupan manusia sebagai sebuah perjalanan menuju kepada Tuhan, di mana materi dan dunia adalah ujian bukan tujuan akhir. Dalam Fihi Ma Fihi, ia mengajak pembaca untuk memahami bahwa benar-benar hidup berarti mampu menyeimbangkan dan mengutamakan nilai-nilai spiritual, yang pada akhirnya membawa kepada kebahagiaan hakiki dan keselamatan di dunia dan akhirat.
Pesan Rumi dalam Fihi Ma Fihi mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang mencari cuan, tapi tentang menemukan makna sejati melalui hubungan dengan Allah. Kesuksesan hakiki adalah berhasil menjalankan misi hidup sebagai hamba yang beribadah dan mencintai Tuhan, sehingga jiwa mencapai kesejatian dan kebahagiaan abadi, jauh melampaui kesenangan dunia.
Penulis: Silmi Adawiya, Mahasiswa S3 UIN Malang
Editor: Rara Zarary


















