Oleh: Ma’muri Santoso*

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar peringatan hari lahir ke-98 NU. Angka tersebut bila didasarkan pada hitungan kalender hijriyah, karena jam’iyah ini didirikan pada 16 Rajab 1344 H. Sedangkan peringatan Harlah dalam versi masehi sudah dilakukan pada 31 Januari lalu. Peringatan harlah dalam dua versi sering dilaksanakan dalam tradisi NU.

Diusianya yang mendekati satu abad, NU telah memberikan kontribusi yang demikian besar bagi perjalanan bangsa, khususnya dalam mewarnai kehidupan beragama yang ramah, toleran, serta konsistensi sebagai jangkar keindonesiaan sekaligus perekat kemajemukan di negeri ini.

Tidak saja saat ini, namun sebelum bangsa ini merdeka, banyak tokoh NU yang gigih dalam berjuang hingga turut membidani lahirnya republik ini.

Banyak pahlawan nasional yang berasal dari kalangan ulama. KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH As’ad Syamsul Arifin, KH Abdul Wahid Hasyim, serta banyak ulama lain yang tidak saja menjadi pelopor Islam rahmatan lil alamin penerus dakwah Walisongo, namun juga secara gigih dalam menggelorakan sikap nasionalisme.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kecintaan terhadap Tanah Air sama pentingnya dengan kecintaan terhadap agama. Ulama NU telah menggelorakan spirit hubbul wathan minal iman. Kecintaan terhadap Tanah Air merupakan bagian dari wujud ajaran keimanan.

Keimanan yang kuat mesti dibarengi dengan kecintaan terhadap Tanah Air. Seseorang mesti mencintai tempat di mana ia dilahirkan, tumbuh berkembang, serta dewasa kelak. Dengan demikian, praktik beragama yang terlalu bersemangat, namun tidak disertai dengan sikap cinta terhadap Tanah Air, tentu saja kadar keimanannya patut dipertanyakan.

Spirit muassis (pendiri) NU dalam meramu semangat keagamaan dan kebangsaan akan selalu relevan untuk dijadikan modal berharga bagi bangsa ini dalam menapaki perjalanan selanjutnya.

Tantangan terhadap kebhinekaan yang dapat timbul sewaktu-waktu penting untuk selalu diikat dengan semangat kecintaan terhadap Tanah Air. Sikap yang mesti dimiliki dan terpatri dengan kokoh dalam jiwa setiap anak bangsa.

Selain itu, fondasi gerakan para ulama tersebut juga masih terus relevan mengingat bangsa ini sering dihadapkan pada persoalan agama, sosial kemasyarakatan, serta problem kebangsaan. Tidak boleh ada bagian dari anak bangsa ini, disebabkan karena tidak memahami sejarah dengan benar dan utuh, sehingga memaksakan kehendak dengan mengorbankan aset berharga, yakni semangat kebangsaan untuk merajut persatuan.

Sumbangsih Peradaban

Selain konsistensi dalam menampilkan corak keislaman yang moderat, jangkar keindonesiaan, serta perekat kebhinekaan, peran NU juga selalu dinanti guna memberikan sumbangsih bagi kemajuan peradaban umat manusia di dunia.

Sebuah tatanan dunia yang maju dengan menjunjung tinggi semangat perdamaian, mengedepankan sisi-sisi kemanusiaan, serta etika bersama untuk saling menghormati sesama warga bangsa di dunia.

Di era globalisasi seperti sekarang ini, tidak ada sekat satu negara dengan negara lainnya. Demikian pula tidak ada satu negara yang mampu mencukupi segala kebutuhan penduduknya tanpa menjalin kerja sama dengan bangsa lain. Pada aspek ini, seringkali muncul dinamika yang dapat mengganggu hubungan satu negara dengan negara lainnya.

Sering diundangnya NU secara kelembagaan maupun tokoh-tokohnya untuk berbicara di forum-forum internasional menunjukkan bahwa NU didengar dan diperhatikan pandangan-pandangannya, khususnya terkait dengan sumbangsih dalam upaya mencegah, melerai, maupun menyelesaikan konflik guna mewujudkan perdamaian dunia.

NU diharapkan dapat terus mendorong terciptanya perdamaian dunia. Konflik pada dasarnya hanya akan merugikan semua pihak serta dapat menghambat kemajuan umat manusia dalam upaya memajukan peradaban dunia.

Umat manusia memang tidak bisa lepas dari sebuah kepentingan yang berbeda-beda satu sama lain. Namun kepentingan tersebut hendaknya jangan sampai melupakan sifat dasar manusia yang sebenarnya, yakni cinta akan kedamaian dan keadilan.

Disinilah peran penting organisasi sosial keagamaan, termasuk NU dan Muhammadiyah untuk dapat terus mendorong terciptanya tata kehidupan dunia yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan serta spirit perdamaian guna memajukan peradaban dunia.

*Santri PP. Al Aqobah dan PP. Tebuireng Jombang.

SebelumnyaGenggaman Sendu
BerikutnyaHari Lahir ke-67 IPNU, untuk Peradaban dan Kemajuan Bangsa