sumber ilustrasi: media.com

Oleh: Abror Rosyidin*

Sebelum Fajar menyingsing
aku membuka mata, menepi
melihat indahnya sepasang bola mata
ditemani cicak yang mencecak
dan ayam berkokok

Dalam sepi Ia menata sajadah menggulung selimut putih
menengadah kepada Yang Maha Menyelimuti

Setapak menapaki jalan ke depan
curam menekuni sepanjang hari
dari mega merah kepada langit yang menghujam

Hingga kembali bertemu matahari menghilang terbenam atas kerelaan penuh,
haturan syukur tersulam di sepertiga malam

Ikrar suci atas anjuran kekasih Tuhan
telah diutarakan dengan keringat bercucuran
diudarakan doa demi doa,
sakral nan mengharukan menjemput cinta yang lama terpendam di bawah bui keterkungkungan

Hingga disambut nada pujian terlantun indah nian

Hari-hari seumur jagung,
bersambung nada-nada syahdu,
memutar tasbih menyambut ketenangan kalbu

Syahdan, rasanya tak mau pergi dari genggaman sendu
teruslah menjadi tali pengikat rasa rindu,
bilamana nanti telah kembali pada dzat pemberi rindu.

*Santri Tebuireng.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
SebelumnyaMendidik Generasi Z di Era 4.0
BerikutnyaJangkar Keindonesiaan dan Obor Peradaban