Tebuireng.online- Bagaimana menjaga kitab tua yang sudah lapuk oleh usia? Apalagi bila ada lembaran ijasah sanad yang terselip didalamnya. Jika lembaran itu dibiarkan, kita takut semakin rusak. Untuk itu, Nahdlatut Turats mengadakan pelatihan “Digitalisasi dan Katalogisasi Turats Pesantren dan Islam Indonesia” di pesantren Alakhyar Tambak Agung, Labang, Bangkalan, Madura. Program ini akan dilaksanakan bergantian di empat pesantren dari tanggal 19 – 30 Mei 2022.

Bertepatan Tim Perpusnas RI (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia) sedang bertandang ke Jawa Timur. Akhirnya, mereka pun diundang mampir di Pesantren al-Akhyar untuk berbagi ilmu mitigasi manuskrip.

Pada sesi tanya jawab, seorang peserta bertanya, “Apakah manuskrip yang hanya satu lembar seperti kertas sanad, boleh dilaminating?” tanya seorang peserta. Perwakilan tim Perpusnas pun menjawab, bahwa manuskrip tidak boleh dilaminasi. Alasannya karena laminasi dapat membuat keasaman kertas meningkat dan memperparah kerusakan pada manuskrip.

Menurut tim Perpusnas, seiring bertambahnya waktu, kertas yang dilaminasi pun akan berubah warna (menjadi abu-abu misalnya). Kemudian ketika kita membuka plastik laminasi untuk mengeluarkan kertas manuskrip, justru akan membuat kertasnya sobek. Akhirnya, manuskrip tersebut semakin rusak.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Alternatifnya, kertas manuskrip diletakkan diantara dua lembar plastik OHP. Kemudian sisi-sisi plastik tersebut ditutup menggunakan selotip sambil menyisakan sedikit ruang untuk udara di ujung-ujungnya. Maka hal ini tentu memudahkan untuk menjaga manuskrip tersebut,” pungkasnya.


Pewarta: Alamuddin

SebelumnyaPelatihan Digitalisasi dan Katalogisasi Turots Pesantren
BerikutnyaSetelah Kamu Pergi