faturahmantebuireng.online – Suatu hari ketika sedang berkumpul dengan para sahabat, Rasulullah SAW pernah memberikan peringatan, beliau bersabda pada suatu saat nanti akan datang ditengah-tengah kamu wahai umat Islam, dimana orang-orang lain di sekeliling kamu akan bersatu mengerubungimu, seperti bersatunya orang-orang mengerubungi makanan diatas meja hidangan, akan datang suatu saat nanti dimana kondisimu dikepung sedemikian rupa, yang barat mau menerkam dan yang timur mau menghantam, yang selatan akan menginjak-injak, dan utara akan menjelajah. Sebagian sahabat merasa heran dan terkejut lalu mereka bertanya, apakah jumlah kami pada waktu itu sedikit ya Rasulullah SAW? Sehingga kami sampai dikepung sedemikian rupa.

Beliau menjawab sama sekali tidak, kamu tidak sedikit pada saat itu, bahkan jumlahmu sangat banyak, kamu adalah mayoritas, tapi keadaanmu saat itu persis seperti buih di lautan, banyak tapi tidak punya daya dan kekuatan, banyak tapi dipermainkan gelombang lautan, dihempaskan ketepian pantai tanpa punya makna dan arti. Kondisimu pada saat itu kuantitas tanpa kualitas sehingga orang lain enak saja mengepung kamu, akidahmu didangkalkan, dibanjiri dengan peradaban dan kebudayaan yang menjauhkan dari agama. Dari segi maksiat dan munkarat seluruhnya mengepung sampai kita melepaskan nilai-nilai islam. Celakanya sambung beliau, akan dicabut kehebatanmu dimata musuh-musuhmu sehingga pada saat seperti itu orang lain memandang umat Islam enteng saja, remeh, tidak ada apa-apanya, pada saat itu di hatimu dicampakanlah penyakit wahn, sahabat kemudian bertanya, apakah penyakit wahn itu ya Rasulullah SAW? Beliau menjawab, terlalu cinta terhadap dunia dan terlalu takut mati, materialistis dan takut resiko, dua penyakit inilah yang menyebabkan yang mayoritas dipermainkan oleh minoritas.

Dari cerita Hadits diatas kita bisa membaca, bahwa Rasul SAW telah menganalisa kondisi sosial umat islam pada akhir zaman kelak. Seyogyanya kondisi ini di kontemplasikan dengan apa yang kita hadapi saat ini. Sepertinya orang non muslim tidak sungkan lagi menistakan Tuhan, Nabi, seluruh substansi dan simbol agama Islam, yang tak lain merupakan perpaduan yang cocok, antara ketidak berdayaan orang islam dengan kedengkian non muslim. Terakhir ini ada film yang menistakan baginda Nabi besar Muhammad SAW dengan judul innocence of muslims, para pembuat film pastilah tahu dan sadar bahwa lebih dari 1.2 milyar muslim di seluruh dunia atau sekitar 20% populasi dunia akan marah dengan ulahnya, tapi pertanyaanya kenapa mereka tidak takut dan gentar? Padahal salah satu keistimewaan yang diberikan Allah SWT hanya kepada Rasullulah SAW dan umatnya, adalah ditolong dan dimenangkan dengan cara ditanamkan rasa takut  dan gentar di hati musuh saat mereka berada ditempat yang berjarak tempuh sebulan perjalanan.

Umat islam saat ini semakin jauh dari kodratnya, lupa akan atribut keagamaannya, mungkin lupa akan substansi beragama itu sendiri. Melupakan ibadah pada akhirnya melemahkan islam secara gradual, membuat para musuh Islam semakin merasa superior. Pernahkah kita berpikir apa yang kita lakukan berdampak sistemik terhadap kebobrokan agama kita, sholat itu tiang agama, barang siapa mengerjakan solat maka dia menegakan agama dan barang siapa yang meninggalkannya maka dia telah merusak agama. Artinya rongrongan dan perusakan agama secara sistemik, masif dan terstruktur, bukan hanya dari luar namun dari dalam umat islam sendiri.

Bahkan dimensi merusak agama dan menghina Tuhan jauh lebih luas lagi, orang yang paling menghina tuhan bukan hanya dia yang melecehkan Nabi atau Tuhan, tapi orang yang bersumpah dengan nama Tuhan dia ingkari, seperti para koruptor yang bersumpah atas nama Tuhan dengan simbolisasi kitab suci diatas kepalanya namun dia ingkari, dan merampok hak-hak jutaan rakyatnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Reaksi Sebagai Pleidoi Umat

Kita harus marah, benci, bahkan menuntut agar orang yang telah melecehkan Nabi kita dihukum seberat-beratnya, karena bagi umat Islam, melecehkan Rasul sama saja dengan menghina Tuhan, karena Tuhanlah yang telah memberi predikat maksum (terbebas dari cela dan dosa) kepada para Rasulnya. Kalau kita hanya diam dan meridhoi terhadap para penghina Tuhan, maka keimanan dan keislaman kita patut dipertanyakan. Karena tidak memiliki ghiroh (semangat) keagamaan.

Sampai saat ini ada berbagai aksi yang telah dilakukan di berbagai belahan dunia, seperti demonstrasi didepan kedutaan besar Amerika Serikat, ungkapan kecaman, dan protes dari berbagai ulama dan pemimpin Negara-negara timur tengah dan aksi paling agresif adalah melakukan penyerangan kekantor-kantor duta besar hingga menewaskan pejabatnya seperti yang dilakukan Libia, terkadang hal ini menjadi blunder terhadap image muslim yang negatif. Karena bagaimanapun reaksi anarkis yang dilakukan umat islam itu yang mereka harapkan. Sehingga dunia dapat melihat dan melegitimasi bahwa benar adanya Islam sebagai agama kekerasan dan terorisme. Pada akhirnya umat Islam sendiri yang dirugikan. Sebaiknya apapun protes yang di lakukan, tidak mereduksi nilai-nilai Islam rahmatan lilalamiin (cinta kasih bagi semesta alam), dengan langkah-langkah yang cerdas, dinamis dan harmonis. Sehingga apa yang kita maksudkan bisa terwujud dan memberi manfaat bagi umat manusia.

Butuh Aksi Bukan Anarki

Sebagai umat yang memiliki rasa tasamuh dalam beragama, kita wajib dan terus mengupayakan agar para penista agama dihukum seberat-beratnya. Produksi, distribusi film atau media apapun yang melukai perasaan seluruh umat beragama harus dihentikan. Saling toleran dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara, saling menjaga perasaan, karena merekapun tidak akan senang ketika agamanya dilecehkan, tapi kenapa mereka melecehkan? jangan menghina kalau memang tidak ingin dihinakan. Kita upayakan agar negara barat melakukan evaluasi terhadap kebebasan berekspresi untuk dibatasi, karena kami yakin tidak ada agama apapun dibumi ini yang ingin keyakinannya dilecehkan.

Apa yang kita hadapi saat ini bisa menimbulkan perpecahan terhadap umat diseluruh dunia, pada akhir bulan september 2012 kami mengapresiasi sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menyampaikan pidato dan usulannya disidang umum PBB, mengenai perlunya konvensi dan protokol PBB tentang pelarangan penistaan agama. Seruan presiden SBY ini disambut hangat oleh Organisasi Negara Islam (OKI). Sementara mayoritas negara barat masih kebingungan apakah masih mempertahankan kebebasan penistaan Agama dengan dalih pelanggaran HAM, atau memilih solusi terbaik, yaitu  dengan menyetujui pelarangan penistaan agama dengan argumentasi melindungi semua agama dari penistaan, yang dampaknya terwujud tatanan dunia yang damai.

Solusi Harmonis nan Dinamis

Kita sebagai makhluk sosial tidak bisa hidup sendiri, pasti membutuhkan keberadaan orang lain dalam kehidupan sosial masyarakat, berbangsa dan bernegara. Maka dibutuhkan rasa saling menghargai dan menghormati, perbedaan adalah keniscayaan, tidak bisa kita memaksakan kehendak kepada orang lain. Maka toleransi kita sebagai makhluk tuhan dan tidak mengklaim kebenaran adalah milik kita pribadi. Dibutuhkan jiwa besar yang mampu meneladani terhadap masyarakat dan umatnya. Dalam hal ini agar kita kembali kepada fitrah beragama, yaitu menegakan toleransi sebagai dasar pokok (akidah) beragama, pemahaman dan pengamalan toleransi harus menjadi  kesadaran pribadi dan kelompok, yang selalu diaktualisasikan dalam kehidupan beragama maupun interaksi sosial.

Toleransi yaitu bersikap atau bersifat menghargai, menghormati pandangan kepercayaan, kebiasaan, perilaku, dan apapun yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian dan keyakinan kita. Toleransi dalam pengertian seperti ini terkadang menjadi sesuatu yang sangat berat bagi pribadi yang belum menyadarinya. Padahal membawa makna besar dalam kehidupan bersama dalam segala bidang, apalagi dalam konteks relasi beragama. Toleran dalam kehidupan beragama menjadi mutlak adanya, karena kita hidup berdampingan dan hidup eksis dengan agama lainnya baik agama samawi maupun agama ardli, dalam kehidupan umat manusia. Tentunya agama-agama itupun sama berkembangnya. Perbedaan adalah keniscayaan, hidup damai berdampingan adalah harapan. (Aa)

Achmad Fatturohman,

Redaksi Majalah Tebuireng, sedang menempuh studi di Madina Institute Cape Town Afrika Selatan

 


Abu dawud sulaiman bin asy’as, sunan abi dawud, (Beirut : Daru al-kutub al-arabi) juz 4, hal 184

Abu hamid muhammad al-ghazali, ihya ulum ad-din (Beirut : Darul kutub al-ilmiyah) juz 1

 

 

 

SebelumnyaMengenang Kebesaran Imam Nawawi Bag. 2
BerikutnyaMengkultuskan Orang Shaleh