peci miringJudul buku: Peci Miring

Penulis: Aguk Irawan

Penerbit: Javanica ( PT. Kaurama Buana Antara)

Tebal: 389 halaman

Cetak: 2015

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Resensor: Ahmad Faozan*

Banyak orang gagal memahami identitas seorang Gus Dur sebagai salah satu tokoh paling kontroversial di Indonesia. Kini dari mulai namanya hingga wujudnya di jadikan simbol dalam berbagai bentuk, seperti patung Gus Dur sedang membaca buku di Jakarta. Sosok Gus Dur yang suka ceplas ceplos, ide dan gagasannya yang jauh melesat kedepan terbukti hingga sekarang ini terus menjadi perbincangan di ruang publik. Tafsir seseorang putera KH. A. Wahid Hasyim ini, sedikit demi sedikit mulai terkuak selepas kepergiannya.

Tak terkecuali, novel ‘Peci Miring’ karya Aguk Irawan, pengagum Gus Dur asal Yogyakarta ini, mencoba menbedah riwayat hidup Gus Dur dalam bentuk sastra. Jauh sebelum novel ini terbit, ‘Mata Penakluk’, karya Abdullah Wong sudah lebih dulu hadir dihadapan publik. Penulis buku ‘Sang Penakluk Badai’ ini mencoba memberikan informasi mengenai jejak Gus Dur di masa mudanya. Yang selama ini, belum banyak diketahui oleh masyarakat awam.

Gus Dur muda merupakan seorang pengembara ilmu sejati. Ia berangkat dari pesantren satu ke pesantren lainnya. Sebelum pada akhirnya, menghantarkan pengembaraan ilmiahnya di belahan Afrika dan Eropa. Sosoknya yang tak bisa puas menerima pengetahuan dari dalam kelas, membuatnya banyak melakukan ‘pemberontakan’. Demi kebebasan meraih banyak pengetahuan segala aturan yang memagarinya selalu di terobosnya. Misalnya, sikap suka membolos kuliah karena mengganggap mata pelajarannya sudah pernah di pelajarinya. Perpustakaan merupakan salah satu tempat favoritnya untuk bermesraan dengan buku.

Kegemarannya membaca buku mewarisi kebiasaan positif yang dilakukan ayahnya, KH. A. Wahid Hasyim. Bagi Gus Dur, mendekatkan dengan buku serasa menautkan dirinya dengan sang ayah. Petikan syair hikmah ayahnya ia pegang kuat, “Setiap manusia adalah anak dari hasil jerih payahnya. Semakin keras berusaha, semakin pantas ia jaya. Cita-cita yang tinggi dapat mengangkatnya lebih tinggi. Semakin keras berkemauan, semakin terang derajat itu. Tiada langkah mundur baginya orang-orang yang memiliki kemajuan. Tak ada kemunduran bagi orang-orang yang menghendaki mundur.”(halaman 108)

Gus Dur yang terlahir dari rahim darah biru, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari pendiri NU memiliki keuntungan tersendiri. Lingkungannya ikut serta membentuk kepribadiannya. Sudah mafhum, jika Gus Dur di didik untuk menjadi orang besar meneruskan perjuangan keluarganya. Kendati demikian, hidupnya tak semulus yang dibayangkan. Sejak kecelakaan yang merenggut nyawa ayahnya, membuatnya berubah secara drastis. Yang semula, nakal dan bandel hingga tak naik kelas kemudian berubah menjadi seorang anak yang mandiri, gigih, dan menjadi petarung kehidupan.

Perjalanannya dari Jakarta ke Yogyakarta untuk menimba ilmu di pesantren Krapyak asuhan KH. Maksum Ali hingga ke KH. Chudori Tegalrejo Magelang banyak membawa pengaruh besar bagi kehidupannya. Ia mampu menyerap pengetahuan agama dari para gurunya dengan tepat dan cepat. Bahkan, tak ada satupun gurunya yang tak mengakui kehebatannya. Tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan standar ilmu pengetahuan yang diterapkan pesantren yang ia tempati. Kemandiriannya dalam belajar, membantu meningkatkan pengetahuannya.

Walaupun toh, belajarnya sudah diselesaikan dengan cepat. Ia harus kembali ke pesantren kakeknya. Niat hati untuk mengembangkan pengetahuannya, justru menjadi awal untuk menjadi seorang guru mengaji. Pamannya, Kiai Fatah, dan simbahnya KH. Bisri Syansuri dan KH. Abd. Wahab Hasbullah terkagum-kagum melihat kecakapan dan keluasaan ilmu Ad Dahil. Wajar, jika mereka kemudian memberikan dukungan kepada Gus Dur untuk melanjutkan petualangan ilmiahnya di luar benua.

Kampus Al Azhar Mesir menjadi tempat pelabuhan selanjutnya. Perguruan paling bergengsi di zamannya itu, justru membuatnya kecewa total. Pelajaran yang ada sudah pernah di pelajari, tak jauh beda dengan pesantren Kakeknya. Gus Dur pun banyak menghabiskan waktu membaca buku di perpustakaan, menonton film, dan berdiskusi dengan banyak ilmuan di luar kampus. Sehingga, pada akhirnya ia gagal merampungkan studinya. Ia pun pindah ke Baghdad, untuk menamatkan studinya.

Sepulangnya dari pengembaraan ilmiah. Ia pun kembali ke pesantren dan perlahan-lahan aktif menjadi seorang intelektual muda dan pejuang sosial kemanusiaan di negerinya. Terangkatnya beliau, sebagai presiden Indonesia mewakili kaumnya, masyarakat pesantren. Pasca pemaksaan pemunduran dirinya dari tapuk pemerintahan, Gus Dur pun tetap kembali ke pesantren. Tanpa meninggalkan identitas kesantriannya, ia tampil sebagai tokoh pemersatu umat manusia. Siapa yang tertindas dan terdholimi selalu mendapatkan pembelaan darinya.

Nah, inilah salah satu tokoh yang patut di teladani. Meskipun, latarbelakangannya santri, tidak mudah terbawa arus dan mudah tergoda dengan kekuasaan, kemewahan, dan kekayaan. Kesederhanaan, kemandirian, keberanian, dan pelayan umat kapan pun dan dimanapun menjadi identitas kulturalnya sebagai seorang santri. Selain menjadi inspirasi bagi generasi setelahnya, tak perlu ragu bagi pemerintah untuk menobatkannya sebagai pahlawan nasional.


  • Kepala Penerbit Tebuireng dan pegiat Sanggar kepoedang, Komunitas Penulis Muda Tebuireng
SebelumnyaRisalah Tirai: Nafas
BerikutnyaJihad Seorang Perempuan