Bentuk Cinta dari Tuhan

7
Sebuah ilustrasi

Bentuk Cinta dari Tuhan

Aku mulai paham bentuk cinta dari Tuhan,
bukan saat semua doa segera menemukan jawabannya,
bukan pula ketika seluruh harapan jatuh tepat di pangkuanku.

Justru pada jalan-jalan yang dipersulit,
pada rencana-rencana yang runtuh sebelum sempat tumbuh,
pada air mata yang diam-diam jatuh di penghujung malam.

Dulu aku mengira cinta adalah tentang memiliki,
tentang segala yang berhasil kugenggam dan tak pernah pergi.
Namun waktu mengajariku hal yang berbeda.

Bahwa ada cinta yang bekerja dalam kehilangan,
ada kasih yang bersembunyi di balik penolakan,
ada penjagaan yang tampak seperti perpisahan.

Dan kini, setiap kali semesta tidak berjalan sesuai inginku,
aku tak lagi buru-buru menyebutnya luka.
Sebab mungkin saja, di balik pintu yang tertutup itu,
Tuhan sedang menyelamatkanku dari sesuatu
yang belum sanggup kupahami.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tidak Semua Pantas Disebar

Tidak semua kebahagiaan pantas kita sebar,
sebagian lebih indah jika tinggal menjadi rahasia
antara hati yang bersyukur dan langit yang mendengar.

Ada bahagia yang cukup dirayakan dalam diam,
tanpa unggahan, tanpa cerita panjang,
tanpa keinginan untuk membuat dunia ikut mengetahui.

Sebab tidak semua hal baik membutuhkan saksi.
Ada yang tumbuh lebih kuat ketika dijaga,
ada yang mekar lebih lama ketika tidak terlalu banyak disentuh.

Aku belajar bahwa kebahagiaan bukan perlombaan,
bukan sesuatu yang harus dibandingkan
atau dipertontonkan kepada banyak mata.

Maka beberapa hal kupilih kusimpan sendiri;
doa yang akhirnya terkabul,
pertemuan yang lama kunanti,
dan ketenangan yang perlahan kembali.

Karena terkadang,
bahagia yang paling utuh adalah bahagia
yang tidak sibuk mencari pengakuan.


Sunyi Tak Seburuk Itu

Ternyata hidup dalam sunyi tidak seburuk itu.

Awalnya aku takut pada sepi,
takut pada hari-hari yang berjalan tanpa banyak percakapan,
takut pada ruang-ruang kosong yang terlalu lama kutinggali sendirian.

Aku pikir keramaian adalah obat bagi segala kegelisahan.
Aku pikir banyaknya orang di sekitar
akan selalu berarti banyaknya kebahagiaan.

Namun ternyata tidak.

Dalam sunyi, aku menemukan banyak hal
yang selama ini hilang tertelan kebisingan.

Aku menemukan diriku yang sebenarnya,
yang tak perlu berpura-pura kuat,
tak perlu sibuk menjelaskan apa pun kepada siapa pun.

Sunyi mengajariku bahwa ketenangan
tidak selalu datang dari luar.
Kadang ia tumbuh perlahan dari dalam dada,
saat kita berhenti mengejar perhatian
dan mulai berdamai dengan diri sendiri.

Dan kini, ketika malam datang membawa kesendiriannya,
aku tak lagi menganggapnya musuh.

Ternyata hidup dalam sunyi tidak seburuk itu;
ia hanya cara lain bagi semesta
untuk mempertemukan seseorang
dengan dirinya sendiri