
Tebuireng.online– Putra almarhum KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) sekaligus cicit Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama, Irfan Asy’ari Sudirman Wahid atau yang akrab disapa Gus Ipang Wahid, menegaskan pentingnya santri menguasai komunikasi digital di tengah perubahan pola konsumsi informasi masyarakat yang semakin bergantung pada teknologi.
Menurut Gus Ipang Wahid, perkembangan media digital telah mengubah wajah dakwah dan komunikasi publik secara total. Jika dahulu dakwah bertumpu pada mimbar dan panggung, kini perhatian masyarakat lebih banyak tertuju pada layar handphone. Hal tersebut disampaikan Gus Ipang Wahid dalam kegiatan PMKNU Cirebon bersama KH Imam Jazuli dan Gus Miftah pada forum kaderisasi kepemimpinan NU.
Baca Juga: Gus Ipang Sebut Gus Sholah Kompas Moral di Era Digital
“Dunia ke depan akan bersandar pada media yang ada dalam genggaman tangan. Karena itu santri harus menguasai media dan komunikasi digital,” ujar Gus Ipang, dilansir dari liputan6, Sabtu (16/5/2026).
Praktisi komunikasi politik itu menjelaskan bahwa generasi muda saat ini hidup di era algoritma. Kehadiran media sosial, short video, podcast, hingga artificial intelligence (AI) dinilai sangat mempengaruhi cara berpikir, berinteraksi, hingga membentuk opini publik.
Berdasarkan data BPS dan APJII, lanjut Gus Ipang Wahid, penetrasi internet Indonesia pada 2025 telah mencapai lebih dari 80 persen populasi dengan dominasi pengguna berasal dari generasi Z dan milenial.
“Sebagian besar masyarakat mengakses internet melalui smartphone,” jelasnya.
Baca Juga: Gandeng Gus Ipang Wahid, Muslimat NU Ajak Kader untuk Dakwah Via Sosmed
Sebagai putra Gus Sholah yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap perkembangan pesantren dan pendidikan, Gus Ipang Wahid menilai dakwah masa depan harus mampu hadir di ruang digital yang digunakan generasi muda sehari-hari.
“Kalau anak muda hari ini hidupnya di TikTok, Instagram, YouTube, podcast, dan short video, maka dakwah juga harus hadir di sana,” ucap Gus Ipang Wahid.
Ia juga menyoroti berbagai tantangan baru di era digital seperti post-truth, echo chamber, deep fake, hingga manipulasi informasi berbasis algoritma yang dapat mempengaruhi persepsi publik secara masif.
Karena itu, Gus Ipang Wahid menegaskan bahwa santri tidak cukup hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga harus mampu menjadi produsen narasi dan konten yang sehat serta mencerahkan masyarakat.
“Santri tidak cukup hanya menjadi pengguna media sosial, namun harus mampu menjadi produsen narasi dan konten yang sehat, positif, dan mencerahkan,” terangnya.
Baca Juga: Ipang Wahid Stratejik Dorong Santri Jadi Enterpreneur
Lebih lanjut, Gus Ipang Wahid meminta santri agar tidak hanya menjadi penonton di tengah derasnya arus informasi digital, melainkan ikut mengambil peran aktif dalam dakwah dan komunikasi publik.
“Santri harus jadi kreator, komunikator, sekaligus penjaga nilai di tengah banjir informasi,” ungkapnya.
Melalui kegiatan PMKNU tersebut, Gus Ipang Wahid berharap kader muda NU mampu memahami perubahan lanskap media sekaligus membangun kemampuan komunikasi digital yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan etika dan tradisi pesantren.
“Kami ingin santri maupun kader muda NU membangun kemampuan komunikasi digital yang relevan dengan perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai, etika, dan tradisi pesantren,” pungkas Gus Ipang Wahid.
Repro: Albii
Editor: Rara Zarary


















