Bangun Kesalehan Ekologis, Pemateri MOSBA Trensains Ajak Santri Baru Rawat Lingkungan

7
Pesantren Sains Tebuireng melanjutkan rangkaian Masa Orientasi Santri Baru (MOSBA) dengan menyoroti isu lingkungan. Langkah ini diwujudkan lewat pembekalan materi bertema “Budaya Peduli Lingkungan Pesantren Tebuireng” yang digelar di Masjid Salahuddin Wahid, Jombang, Jawa Timur, Selasa (07/07/2026).

Tebuireng.online- Pesantren Sains Tebuireng melanjutkan rangkaian Masa Orientasi Santri Baru (MOSBA) dengan menyoroti isu lingkungan. Langkah ini diwujudkan lewat pembekalan materi bertema “Budaya Peduli Lingkungan Pesantren Tebuireng” yang digelar di Masjid Salahuddin Wahid, Jombang, Jawa Timur, Selasa (07/07/2026). Agenda ini sengaja dihadirkan sejak dini untuk menumbuhkan kesadaran ekologis para santri baru.

Hadir sebagai narasumber utama, Direktur Bank Sampah Tebuireng, Ustadz Ahmad Faozan, M.H., mengajak seluruh santri memahami bahwa krisis lingkungan hidup saat ini sudah menjadi tantangan global. Berbagai fenomena krusial seperti pemanasan global, perubahan iklim, darurat sampah plastik, penggundulan hutan, polusi udara, hingga tumpukan limbah makanan menjadi potret nyata yang mengancam keberlangsungan bumi.

Sebagai jangkar spiritual, Ustadz Ahmad Faozan menyitir firman Allah Swt. dalam Surah Ar-Rum ayat 41. Ayat tersebut menegaskan bahwa berbagai kerusakan di darat dan laut tidak lepas dari dampak buruk perilaku manusia sendiri. Landasan teologis ini menjadi pengingat kuat bahwa menjaga kelestarian alam merupakan bagian dari manifestasi iman dan tanggung jawab setiap muslim.

Ia mengakui, tata kelola sampah di Indonesia secara umum memang belum berjalan optimal, dan problem ini juga sempat menjadi tantangan internal di Tebuireng. Namun, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, Pesantren Tebuireng terus berbenah memperkuat sistem tata kelola limbah domestik melalui pembentukan beberapa organisasi santri pencinta alam, seperti Santri Husada, HIPAMPALA, SASPALA, OSAS, OWASIS, hingga optimalisasi Bank Sampah Tebuireng dan TPS3R.

Biar gerakan ini tidak sekadar menjadi teori di atas kertas, ratusan santri baru diajak untuk langsung merutinkan aksi nyata yang sederhana di lingkungan asrama. Mulai dari memilah sampah sesuai jenisnya, menjaga higienitas kamar dan ruang kelas, menghemat penggunaan air dan daya listrik, hingga menghidupkan kembali tradisi roan atau kerja bakti massal secara berkala.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ustadz Ahmad Faozan juga mengulas kembali pesan penting dari almarhum KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) mengenai bahaya abai terhadap lingkungan. Ia mematahkan cara pandang kolot yang selama ini keliru dianut oleh sebagian kalangan masyarakat pesantren.

“Kalau dulu anak mondok terkena penyakit kudis atau gudik sering dianggap sebagai stempel berkah dari pondok. Padahal, itu menunjukkan lingkungan yang kurang bersih dan kurang sehat. Orang yang berilmu justru tercermin dari kemampuannya dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungannya,” tegas Ustadz Ahmad Faozan.

Melalui orientasi bertema lingkungan ini, Pesantren Sains Tebuireng berharap para santri baru tidak hanya fokus mengejar kecerdasan akademik semata, melainkan tumbuh menjadi figur yang peka terhadap kelestarian alam. Spirit ini dinilai sangat selaras dengan nilai dasar BERKAH—Berilmu, Etika, Religius, Kreatif, Amal Salih, dan Hikmah—serta ajaran Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari yang menempatkan keluhuran adab terhadap sesama makhluk sebagai pilar penting pendidikan Islam.


Pewarta: Aulia

Editor: Sutan