
Tebuireng.online— Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai akan membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari cara belajar, bekerja, berdagang, hingga berdakwah. Karena itu, pesantren dinilai perlu mulai mengenalkan literasi AI kepada para santri agar mampu mengikuti perubahan zaman dan tidak tertinggal di era digital.
Baca Juga: Gus Ipang Dorong Santri Kuasai Komunikasi Digital dan Jadi Produsen Narasi Positif
Tokoh Nahdlatul Ulama, Irfan Asy’ari Sudirman Wahid atau yang akrab disapa Gus Ipang Wahid, mengatakan pesantren memiliki modal kuat untuk melahirkan generasi muda yang tidak hanya memiliki kekuatan moral dan spiritual, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi modern.
Pernyataan tersebut disampaikan Gus Ipang di sela kegiatan PMKNU Cirebon beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa tantangan terbesar di masa depan bukanlah AI itu sendiri, melainkan ketertinggalan manusia dalam memahami teknologi tersebut.
Gus Ipang menilai, seseorang yang memahami AI akan memiliki keunggulan lebih dibanding mereka yang menolak atau mengabaikan perkembangan teknologi. Dalam forum yang sama, KH Imam Jazuli dan Gus Miftah turut menyoroti pentingnya pesantren beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan tantangan era digital.
Putra KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah, pengasuh ke-7 Pesantren Tebuireng, itu menilai pesantren ke depan tidak cukup hanya menjadi pusat pendidikan agama. Pesantren juga memiliki peluang besar menjadi ruang lahirnya talenta-talenta muda di bidang digital kreatif dan teknologi.
Baca Juga: Gus Ipang Wahid Beri 3 Rumus Jitu Jadi Generasi Kreatif
Menurutnya, santri memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi content creator, editor video, digital marketer, programmer, hingga entrepreneur muda tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren dan tradisi keislaman.
“Pesantren punya kultur disiplin, kreativitas, dan daya tahan yang kuat. Itu modal penting untuk masuk ke dunia digital,” katanya, seperti dilansir dari tribunnews.com (17/5/2026).
Selain itu, Gus Ipang juga menyoroti pentingnya kemampuan prompting dalam penggunaan AI. Ia menjelaskan bahwa prompting bukan hanya sekadar mengetik pertanyaan kepada sistem AI, tetapi juga melatih pola berpikir logis, kreativitas, kemampuan menyusun ide, hingga keterampilan memecahkan masalah.
Ia menyebut kemampuan prompting dapat membantu santri mengembangkan cara berpikir yang lebih sistematis dan kreatif dalam menghadapi berbagai persoalan.
Menurut Gus Ipang, penguasaan teknologi justru dapat menjadi sarana untuk memperkuat peran pesantren di tengah masyarakat. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas dakwah, meningkatkan kualitas pendidikan, mengembangkan ekonomi pesantren, hingga memperkuat kontribusi sosial santri di era digital.
Baca Juga: Ekonomi Kreatif dalam Pandangan Gus Ipang Wahid
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa modernisasi teknologi tidak boleh membuat santri kehilangan identitas dan nilai-nilai dasar pesantren seperti akhlak, adab, dan tradisi keilmuan.
“Teknologi harus dipakai untuk memperkuat nilai, bukan menggantikan nilai,” ujarnya di depan kader muda NU.
Repro: Albii
Editor: Rara Zarary


















