
Bisik Waktu
Waktu berbisik di sela jarum jam yang lelah
katanya sabar
tapi detikmu menampar pipi rindu
Aku duduk di beranda penantian
menghitung hujan yang tak turun
namamu kusulam di tasbih
setiap butirnya jadi jembatan pulang
Kau datang bukan sebagai kabar
tapi sebagai jeda yang memanjang tanpa titik
kursi kosong di sampingku masih setia
memeluk bayangmu yang belum berwujud
bisik waktu: “Tunggu”
maka kutunggu dengan doa yang tak berhenti berlari
sebab penantian ini bukan tentang kalah
tapi tentang cinta yang sedang diajari cara tumbuh
Tuhan tahu
sabar ku sedang diuji
agar layak menyambutmu
Derai Tanya
Tanya berderai dari langit-langit dada
jatuh tak bersuara
Kau pergi bukan sebagai perpisahan
tapi sebagai titik yang lupa ditutup
Aku memungut serpihan tanya di lantai doa
satu per satu kutimbang di neraca rindu
kalender di dinding mengejek
menertawakan tanggal yang terus berlari tanpamu
malam meminjam suaramu
lalu mengembalikannya sebagai gema yang menusuk
pintu kupeluk erat
takut harapan menyelinap keluar saat aku terlelap
derai tanya: “kapan?”
jawabnya hanya angin yang sibuk menampar jendela kosong
Ku simpan namamu di saku sajadah
biar Tuhan tahu aku belum selesai menunggumu
sebab tanya yang jatuh paling deras
justru yang tak pernah sempat kuucapkan
Gerbang Ikhlas
Kulewati gerbang ikhlas dengan langkah yang dulu pincang
kunci pintu rindu sudah kuserahkan pada waktu
biar dia yang mengunci atau membuka
hatiku tak lagi menagih hujan
sebab tangisnya sudah kubuat bendungan
namamu kini tak berisik
hanya jadi tasbih yang kusimpan di dada
langit tak bertanya “sudah selesai?”
ia hanya memeluk kosong ku dengan awan yang lapang
Aku pulang bukan sebagai yang kalah
tapi sebagai daun yang rela jatuh demi tunas baru
di depan gerbang ikhlas
Aku temukan diriku utuh tanpa memilikimu
Penulis: Amalia Dwi Rahmah
Editor: Rara Zarary


















