
Kita yang Hampir
Ada cerita dalam setiap menitnya kita
Kadang tertawa, kadang marah, kadang pun menangis
Semua seakan perasaan itu nyata
Dengan aku bersamamu, dan kau bersamaku
kita yang mudah hampir bersama
realitanya susah untuk menerima
saling melengkapi rasanya hanya tulisan
pertanda bahwa jiwa dan raga kita banyak namun dan tapi
Separuh yang Tidak Pernah Utuh
Sejenak aku bertahan
Bertumpu pada ranting daun yang rapuh
Terjatuh dan tertatih untuk sembuh
Sangat menyedihkan
Berkali-kali mencoba untuk sembuh
Namun hati yang separuh ini tidak pernah utuh
Haruskah ada pengganti?
Haruskah ada objek?
Jika akhirnya selalu menyakitkan, keharusan itu dirasa tidak perlu.
Doa-doa yang Tidak Menangis
Sajadah malam ini tidak basah
Kering, sama seperti air mataku
Rasanya menangis sudah tidak punya ruang
Hanya ingin bercerita pada Sang Pencipta
Sebuah doa yang aku pasrahkan
Baik menurutku, belum tentu baik menurut-Nya
Maka, aku sudah tidak menangisi doa-doaku
Agar selalu tekabul
Hening dalam Dzikir
Di antara detak dan jeda, aku belajar diam
bukan karena tak punya kata,
melainkan karena nama-Mu
terlalu dalam untuk bersuara
Hening ini bukan kosong, ia penuh oleh ingat
yang berulang pelan di dada
Setiap tarikan nafas
adalah panggilan,
setiap hembusan
adalah penyerahan
Aku duduk sebagai hamba,
tanpa tuntutan apa-apa,
selain ingin dekat
tanpa jarak makna
Penulis: Nabila Rahayu
Editor: Rara Zarary


















