Penuh Haru, Santri Tebuireng 3 Bersalaman dengan para Guru Jelang Kepulangan

87
Para santri bergiliran untuk bersalam-salaman dengan para ustadz-ustadzah sebelum liburan Ramadan (foto: tbi3)

Tebuireng.online— Suasana haru menyelimuti lingkungan Tebuireng 3 saat para santri bersiap kembali ke rumah masing-masing dalam momen birrul walidain. Tradisi penuh makna ini menjadi waktu bagi para santri untuk berpamitan sekaligus memohon doa restu kepada para asatidz dan asatidzah sebelum meninggalkan pesantren.

Satu per satu santri berbaris rapi untuk menyalami para guru dengan penuh takzim. Beberapa santri tampak menundukkan kepala dengan mata berkaca-kaca, menandakan rasa hormat dan terima kasih atas ilmu, bimbingan, serta nasihat yang telah diberikan selama berada di pesantren. Momen ini bukan sekadar perpisahan sementara, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan kepada para pendidik yang telah menjadi orang tua kedua bagi para santri.

Baca Juga: Satu Abad NU, Tebuireng 3 Gelar Peringatan Isra Mikraj dan Sambut Ramadan

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Muhammad Mansyur menyampaikan pesan penting kepada para santri agar memanfaatkan kepulangan ini sebagai kesempatan untuk berbakti kepada orang tua. Ia menegaskan bahwa kepulangan santri merupakan momen birrul walidain, yakni kesempatan untuk menunjukkan kasih sayang, ketaatan, dan bakti kepada ayah dan ibu di rumah.

“Ketika pulang, niatkan untuk berbakti kepada orang tua. Hormati mereka dan jaga sikap di rumah,” pesan beliau kepada para santri.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Beliau juga mengingatkan para santri agar berhati-hati dalam menggunakan telepon genggam ketika berada di rumah. Menurutnya, teknologi harus dimanfaatkan secara bijak agar tidak melalaikan kewajiban serta adab terhadap orang tua.

Foto bersama para santri, ustadz dan ustadzah di depan pondok pesantren (foto: tbi3)

Dalam sambutannya, Ustadz Muhammad Mansyur turut menyampaikan kisah tentang bayi yang dapat berbicara sejak kecil sebagai tanda kekuasaan Allah. Disebutkan bahwa ada tiga bayi yang dapat berbicara, yaitu bayi pada kisah Juraij, Nabi Yusuf, dan Nabi Isa. Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa Allah memiliki kuasa atas segala sesuatu, sehingga manusia hendaknya senantiasa menjaga keimanan dan ketaatan.

Sementara itu, Ketua Yayasan Hajarun Najah Tebuireng 3 juga menyampaikan pesan kepada para santri sebelum mereka kembali ke rumah masing-masing. Ia berharap para santri tetap menjaga sikap, akhlak, dan nama baik pesantren ketika berada di tengah masyarakat.

“Saya tunggu kabar baik dari kalian semua,” pesan beliau dengan penuh harapan.

Baca Juga: Kirim 24 Penegak, Pramuka Tebuireng 3 Ikuti Perkemahan di Pesantren Al-Azkiya

Selain itu, para santri diingatkan untuk berhati-hati selama berada di rumah, menjaga diri, serta tetap mengamalkan ilmu yang telah dipelajari selama di pesantren.

Momen bersalaman ini menjadi salah satu tradisi yang selalu dinantikan sekaligus mengharukan di lingkungan pesantren. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada guru, kegiatan ini juga menjadi pengingat bagi para santri bahwa ilmu yang mereka peroleh harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.

Bersamaan dengan penuh doa dan harapan, para santri akhirnya meninggalkan pesantren untuk sementara waktu. Mereka pulang membawa bekal ilmu, nasihat, serta harapan dari para guru agar kelak menjadi generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan berbakti kepada orang tua.



Pewarta: Ika Safitri, Pembina Pesantren Tebuireng 3 Riau.