Romo KH. Salahuddin Wahid menyampaikan ceramah di depan para jamaah Masjid al Manar di Komplek Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Ponorogo, Ahad (22/01/2017). (Foto: Amin Zen)

tebuireng.online—Pengasuh Pesantren Tebuireng, Dr. Ir. KH. Salahuddin Wahid melakukan agenda lawatan ke Kabupaten Ponorogo pada Ahad (22/01/2017). Pagi harinya dalam agenda pertama beliau memenuhi undangan ceramah di halaman Masjid al Manar Ponorogo dengan tema “Indahnya Kebersamaan”. Beliau menjelaskan bahwa kebersamaan identik dengan persaudaraan, tetapi berbeda.

Bagi kiai 74 tahun tersebut, belum tentu antar saudara bisa terjalin kebersamaan, sebaliknya kebersamaan bisa terwujud tidak dengan saudara, tetapi dengan pihak lain. Menurut Gus Sholah, sapaan akrab beliau, rasa persaudaraan terkadang tidak dipengaruhi oleh gen atau keturunan. “Saudara kandung saja ada yang dekat ada yang tidak,” kata Gus Sholah di depan jamaah Masjid al Manar yang berada di komplek Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Ponorogo tersebut.

“Terhadap saudara harus saling percaya, saling membantu, saling memahami, saling mengalah, saling teposeliro, saling berkomunikasi dengan baik, saling mendoakan, saling mengingatkan, tentunya dengan cara yang baik,” terang suami dari Nyai Hj. Faridah tersebut.

Alumnus ITB tersebut mengingatkan hadirin tentang beberapa hal yang dapat merusak persaudaraan, di antaranya kepentingan pribadi ditempatkan di atas kepentingan keluarga, tidak amanah, adu domba pihak lain, dan menyebarkan atau membuat berita hoax. Persaudaraan sosial atau ukhuwah meliputi banyak kalangan, bisa dengan ukhuwah islamiyah (persaudaraan antar sesama umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa setanah air), dan ukhuwah insaniyah atau basyariah (persaudaraan antar umat manusia).

Beliau juga menyoroti polemik seputar al Maidah ayat 51. Dalam kaitannya dengan situasi saat ini, beliau melihat ukhuwah antar umat Islam dan ukhuwah kebangsaan amat terganggu. “Ada perbedaan dalam menafsirkan al Maidah ayat 51, perbedaan itu bahkan terjadi antar tokoh-tokoh Islam dan sebenarnya sudah muncul sejak lama, sejak Rasulullah wafat,” tambah putra pasangan Kiai Wahid Hasyim dan Nyai Solichah tersebut.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Gus Sholah mengkritik terbentuknya dua kubu yang berseberangan terkait dengan pencalonan Basuki Tjahya Purnama atau Ahok dan penistaan agama yang melibatkannya. Terjadi debat panas di antara dua kelompok dan muncul anggapan bahwa yang tidak pro Ahok berarti anti kebhinekaan dan anti ke-Indonesia-an, sedangkan yang pro Ahok adalah anti Islam. Bagi Gus Sholah kedua anggapan tersebut sama-sama tidak benar, karena antara Islam dan Indonesia tidak ada pertentangan.

Memang di dalam umat Islam terdapat banyak aliran yang berbeda beda, bahkan saling bertentangan, seperti Ahlussunnah, Wahabi, Syiah, Ahmadiyah, aliran konservatif dan Aliran liberal. “Ukhuwah Islamiyah mengharuskan kita untuk memperlakukan kelompok Islam yang lain sebagai saudara,” lanjut Gus Sholah.

Sikap tersebut, kata Gus Sholah, dapat dibuktikan dengan sikap saling menghormati pendapat yang berbeda dan tidak saling menyalahkan. “Kita merasa yakin bahwa pendapat kita adalah benar, tetapi kita tidak perlu menyalahkan pendapat kelompok lain yang berbeda, apalagi di lakukan secara terbuka,” pesan beliau kepada ribuan jama’ah yang terdiri dari dosen, mahasiswa, dan warga sekitar.


Pewarta:    Amin Zen

Editor:       M. Abror Rosyidin

Publisher:   M. Abror Rosyidin

SebelumnyaKebijakan Tegas, SMA A. Wahid Hasyim Tebuireng Beri Sanksi bagi Guru yang Telat
BerikutnyaKunjungi Pengasuh Gontor, Gus Sholah Bicarakan Program Pengkaderan di Tebuireng