Gerbang depan SMA. A. Wahid Hasyim (Foto: Abror)

tebuireng.online– Budaya ‘’jam karet’’ masih saja menjadi kebiasaan di berbagai tempat dan dilakukan oleh berbagai kalangan, termasuk siswa-siswi dan para guru. Untuk memutus kebiasaan buruk tersebut, mulai hari Senin (09/01/2017) SMA A. Wahid Hasyim Tebuireng Jombang menerapkan kebijakan gerbang tertutup untuk siswa maupun guru yang terlambat. Kebijakan ini juga bagian dari penindakan sikap indisipliner yang masih marak dilakukan.

Sebelumnya, kebijakan gerbang sekolah tertutup ini hanya disasarkan kepada para siswa-siswi yang  terlambat. Namun karena ditemukan pula guru yang kerap terlambat, maka sekolah juga menerapkan kebijakan tersebut kepada para pendidik. Maksimal kedatangan ke sekolah bagi guru dan siswa adalah 6.45 WIB.

SMA A.Wahid Hasyim Tebuireng  telah menerapkan beberapa kebijakan yang cukup tegas bagi siswa yang terlambat, di antaranya penggundulan, pemberian alpha, shalat di depan ruang tata usaha sekolah, mengaji di depan ruang kepala sekolah yang jumlah juznya ditentukan oleh guru BK, dan beberapa penindakan lainnya.

Menurut penuturan Bapak Joko Pitono selaku Waka Humasy SMA A. Wahid Hasyim Tebuireng, semua kebijakan ini dilakukan untuk membiasakan budaya tepat waktu sekaligus untuk mengamalkan apa yang terkandung dalam surah al Asr. Tujuannya agar seluruh warga SMA A. Wahid Hasyim bisa memanfaatkan waktunya dengan semaksimal mungkin dan tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang merugi.  Bapak Joko Pitono, berharap dengan peningkatan kedisiplinan dalam hal waktu, juga dapat diikuti dengan kedisiplinan dalam bidang lain.

Soal penerapan kebijakan baru ini, lanjut Pak Joko, bertujuan mengembalikan fungsi guru sebagai yang digugu dan ditiru, uswah, dan teladan bagi murid-muridnya. Dalam poin kebijakan ini, menariknya, SMA A.Wahid Hasyim Tebuireng akan memberikan sanksi bagi guru yang terlambat dengan memberikan surat peringatan apabila telah melewati batas teguran sebanyak tiga kali.  Apabila guru menerima surat peringatan lebih dari tiga kali, maka guru tersebut akan dikeluarkan. Sanki ini juga berlaku bagi siswa-siswi yang terlambat.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Apa yang diterapkan di SMA A. Wahid Hasyim Tebuireng  Jombang terhadap keterlambatan masuk sekolah bisa dijadikan sebagai contoh di sekolah-sekolah lain. Sebelum kebijakan ini berlaku, banyak warga SMA A. Wahid Hasyim Tebuireng Jombang baik siswa maupun guru kerap kali terlambat. Namun, setelah kebijakan ini diterapkan, Pak Joko mengakui bahwa jumlah siswa dan guru yang telat semakin berkurang.


Pewarta:   Najib M/Rizky Hanivan

Editor:      Munawara

Publisher: M. Abror Rosyidin

SebelumnyaForum Peduli Bangsa: Pentingnya Sinergi antara Perguruan Tinggi dan Pesantren
BerikutnyaCeramah di Masjid al Manar Ponorogo, Gus Sholah Sampaikan Indahnya Kebersamaan