
Tebuireng.online— Dalam menghadapi tantangan pergaulan dan kenakalan remaja di tengah pesatnya perkembangan era digital, MPK/OBTP SMA Abdul Wahid Hasyim (SMA AWH) Tebuireng menggelar Seminar Remaja dan Sosialisasi Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) pada hari Sabtu (20/06/2026) di Shelter SMA A Wahid Hasyim.
Mengusung tema “Keren itu Berkarakter: Menghadapi Tantangan Pergaulan dan Kenakalan Remaja di Era Digital” acara diikuti oleh seluruh siswa kelas X dan XI. Ketua Panitia, Mirza Andi Alfian, mengajak teman-temannya untuk membangun pergaulan yang sehat, produktif dan sesuai dengan nilai norma sosial dan nilai moral yang baik.
Baca Juga: Guru SMA AWH Ikuti Workshop HOTS Berbasis Literasi, Numerasi, dan AI
Arifin Ali Purwadi, S.Si., M.Pd, mewakili Kepala Sekolah SMA A. Wahid Hasyim, juga memberikan sambutan. Beliau menekankan bahwa teknologi saat ini ibarat pisau bermata dua, yang penggunaannya dapat mengarah pada hal baik maupun buruk tergantung pada penggunanya.
“Jadi keren itu harus berkarakter. Bekal anak-anak terkait teknologi Harus baik sehingga teknologi bisa dibawa ke arah yang lebih baik,” pesan Arifin. Ia berharap seminar ini mampu memfasilitasi siswa untuk melakukan literasi teknologi agar dapat bersikap dan bergaul dengan bijak.

Seminar ini dilanjutkan dengan pemaparan materi dari para narasumber. Pemateri pertama dari perwakilan KUA Kecamatan Diwek, Khurotul Aini, M.Pd. yang menyoroti berbagai tantangan mental dan perilaku Generasi Z saat ini. Beliau memaparkan bahwa Gen Z memiliki kecenderungan menyukai hal serba instan, sangat ambisius namun kurang sabar dalam berproses, berjiwa bebas, dan mudah terbawa arus atau Fear of Missing Out (FOMO).
Baca Juga: Tingkatkan Literasi Siswa, SMA A Wahid Hasyim Gelar Pelatihan Menulis Resensi
Solusinya, Khurotul Aini mengajak para siswa untuk menjadi “Gen Z Qur’ani”. Karakter ini didefinisikan sebagai generasi yang keren, di mana lisan, hati, pikiran, serta perbuatannya selalu berlandaskan teguh pada nilai-nilai Al-Quran.
“Generasi keren, generasi hebat yang mampu membaca Al-Quran. Tidak hanya membaca tapi bagaimana kalian memahami Al-Quran itu terutama diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi mulutnya, hatinya, pikirannya dan perbuatannya itu berdasar Al-Quran,” ujar Khurotul Aini.
Sesi seminar remaja ini dilanjutkan oleh psikolog Frida Tia Rahma, S.Psi., M.Psi., bersama rekannya, Mbak Putri. Frida mengenalkan para siswa mengenai perkembangan psikososial remaja yang cenderung impulsif, “Otak emosinya itu dia lebih cepat berkembang daripada otak pertimbangan atau rasional. Jadi ini yang bikin teman-teman remaja kurang bisa mempertimbangkan dampaknya,” jelasnya.
Selain itu, Psikolog lulusan Universitas Muhammadiyah Malang ini mengingatkan ancaman nyata dunia digital, diantaranya Cyberbullying dan Kecanduan Digital.
“Bully-bully, komentar-komentar secara fisik, bully secara verbal, itu dia dilakukan melalui sosmed atau dunia digital yang berdampak depresi,” tegas Frida.
Baca Juga: Angkat Budaya Global, SMA AWH Tebuireng Gelar Pentas Seni Artemus Meriah
Kecanduan yang dimaksud yakni pada video pornografi, game online bahkan judi online. Hal ini dapat memicu produksi hormon dopamin berlebih yang membajak fungsi otak.
“Kalau di psikologi itu dia sudah termasuk ke dalam gangguan kesehatan mental. Jadi memang butuh yang namanya penanganan khusus,” ungkap Psikolog RS Hasyim Asy’ari itu.
Melanjutkan Frida, Mbak Putri menambahkan bahwa karakter yang kuat itu seperti “kompas” di era digital untuk memberikan pedoman dalam memilih tindakan yang positif.
“Karakter itu sifatnya individu yang berkaitan dengan moral, sosial, dan keagamaan. Nah karakter ini juga dipengaruhi oleh pengalaman dan pengbiasaan. Ibaratnya begini, karakter itu adalah sebuah jejak dari kebiasaan kecil yang teman-teman sudah terapkan sebelumnya,”
Dengan hal tersebut, ia juga menyebut era digital kehilangan beberapa karakter seperti kejujuran, empati, tanggung jawab, dan pengendalian diri. Hilangnya karakter ini salah satunya disebabkan adanya penyimpangan penggunaan Artificial Intelligence (AI).
Baca Juga: Angkat Budaya Global, SMA AWH Tebuireng Gelar Pentas Seni Artemus Meriah
Di akhir sesi seminar, Putri menyoroti etika penggunaan AI. AI diperbolehkan sebagai alat bantu belajar dan mencari ide, namun tidak boleh digunakan untuk menyalin tugas secara utuh, menyebarkan hoaks, maupun melakukan tindakan cyberbullying.


















