
Tulisan ini lahir dari kegelisahan seorang anak desa yang memendam harapan untuk kembali ke tanah kelahirannya, dengan membawa perubahan terutama dalam cara pandang masyarakat terhadap pendidikan perempuan di tengah maraknya praktik pernikahan usia dini yang tidak semestinya.
Sebagai perempuan yang berasal dari keluarga sederhana di desa, perjalanan hingga mencapai jenjang pendidikan magister bukanlah sesuatu yang mudah. Proses tersebut tidak hanya menuntut ketekunan pribadi, tetapi juga menghadapi berbagai tantangan sosial, termasuk tekanan lingkungan sekitar. Tidak jarang, konstruksi sosial di desa justru menjadi sumber ketidaknyamanan atau tantangan tersendiri ketika pulang, sehingga bagi sebagian perantau, menetap di rantau terasa lebih menjadi pilihan yang rasional, selain jaminan ekonomi yang penuh kepastian.
Baca Juga: Cerita Anak Rantau
Namun demikian, pengalaman merantau membuka perspektif yang berbeda. Ketimpangan antara desa dan kota menjadi semakin nyata, baik dalam aspek pendidikan, infrastruktur, maupun kesempatan kerja. Desa menyimpan banyak potensi, tetapi belum dikelola secara optimal. Oleh karena itu, perubahan tidak dapat dilakukan secara individual, melainkan membutuhkan kolaborasi antar generasi muda yang memiliki kesadaran kolektif untuk membangun daerah asalnya.
Kegelisahan semakin menguat ketika setiap kali kembali ke desa, tidak terlihat adanya perubahan signifikan dari tahun ke tahun. Permasalahan infrastruktur seperti jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki menjadi simbol stagnasi pembangunan. Pergantian kepemimpinan desa seringkali hanya menghadirkan harapan baru tanpa realisasi yang nyata.
Di sisi lain, praktik pernikahan dini masih terus berlangsung dan bahkan berujung pada tingginya angka perceraian. Ironisnya, meskipun dampak negatifnya telah diketahui, sebagian masyarakat termasuk orang tua masih mempertahankan pola pikir lama: menikah cepat dianggap sebagai solusi ekonomi. Sementara itu, pendidikan bagi perempuan masih dipandang tidak penting, dengan asumsi bahwa pada akhirnya perempuan akan kembali pada peran domestik. Padahal, pendidikan justru menjadi bekal penting untuk meningkatkan kualitas hidup, bahkan dalam menjalankan peran domestik sekalipun.
Kondisi ini menimbulkan dilema bagi para perantau: tetap bertahan di kota dengan segala peluangnya, atau kembali ke desa yang penuh dengan keterbatasan. Namun, sebagai anak muda perantau seharusnya tidak sekadar tentang mobilitas sosial, melainkan juga membawa tanggung jawab moral untuk berkontribusi pada daerah asal. Ilmu dan pengalaman yang diperoleh di luar seharusnya dapat menjadi modal untuk mendorong perubahan, sekecil apa pun bentuknya.
Baca Juga: Anjuran Merantau bagi Seorang Muslim, Persiapkan Hal Ini
Perubahan tersebut dapat dimulai dari lingkup terkecil, dengan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan, khususnya lingkup keluarga. Pendidikan memiliki peran strategis dalam mengubah pola pikir masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak lagi terjebak dalam siklus pernikahan dini yang berimplikasi pada rendahnya kualitas sumber daya manusia.
Memang tidak semua orang memiliki kewajiban atau kesiapan untuk kembali ke desa. Keterbatasan fasilitas dan akses menjadi tantangan nyata yang tidak bisa diabaikan. Namun, jika bukan dari mereka yang telah memiliki kesadaran dan akses pendidikan, kepada siapa lagi harapan perubahan itu akan disandarkan?
Mengakui segala keterbatasan desa bukan berarti menyerah pada keadaan. Justru dari situlah muncul panggilan untuk berkontribusi. Pertanyaannya, adakah di antara generasi muda yang bersedia kembali, tidak hanya untuk pulang, tetapi juga untuk mengabdi?
Kejujuran harus diakui: kembali sendirian bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan jejaring, solidaritas, dan rasa kebersamaan untuk menggerakkan perubahan. Harapan akan adanya teman seperjuangan menjadi penting, karena perubahan sosial tidak lahir dari individu yang bekerja sendiri, melainkan dari kolektivitas yang saling menguatkan.
Baca Juga: Anak Rantau Lebih Bisa Mandiri
Pada akhirnya, tulisan ini adalah ajakan sekaligus refleksi. Bagi mereka yang telah menuntaskan sebagian mimpinya di perantauan, mungkin sudah saatnya mempertimbangkan untuk kembali bukan sekadar pulang, tetapi membawa makna pengabdian. Desa tidak kekurangan harapan, tetapi membutuhkan tangan-tangan yang bersedia mewujudkannya.
Penulis: Qurratul Adawiyah
Editor: Rara Zarary


















