
Kopi Dingin
Kopi ini sudah dingin
seperti janji yang kau bekukan di ujung malam
dan percakapan kita yang mati muda sebelum sempat mekar
dulu ia hangat di genggamanku
menguap bagai doa yang naik ke langit
sekarang hanya tersisa pahit
yang kau lupa bubuhi gula pada hatiku
kuteguk pelan rindu yang mengendap
dinginnya menikam tulang
lebih kejam dari musim hujan
di dasar cangkir
wajahmu berenang
menjadi bulan yang tenggelam dalam pekat
kopi boleh dingin dan ditinggal pergi
tapi rindu ini api yang diam-diam membakar
Ia tetap setia menunggu
di meja yang sama
menagih pulangmu
Belum Usai
Jam dinding berdetak menertawakanku
kau pergi membawa separuh napas
meninggalkan sisa rindu yang berdebu di sudut kamar
namamu masih berenang di telingaku
seperti lagu lama yang diputar radio usang
Kututup telinga
tapi suaramu merayap
menjadi akar yang tumbuh di dadaku
Kusapu semua jejakmu dari lantai
namun bayangmu lebih licik dari asap
Ia menyelinap lewat celah jendela
duduk manis di kursi yang biasa kau tempati
orang bilang waktu menyembuhkan luka
tapi luka ini pandai berbohong
Ia mengering di luar
namun di dalam rindu kita masih berdarah
dan saling memanggil
kau mungkin sudah tiba di pulang yang baru
sedang aku di sini
menjadi museum
yang merawat kenanganmu agar tidak punah
sebab kisah kita belum usai
Ia hanya dijeda
Menunggu Kamu
Hujan turun seperti kabar yang tak kunjung datang
payungku sudah bolong ditikam rindu
namun kakiku tetap berakar di trotoar ini
jam di pergelangan berdetak mengejek
menghitung detak yang kau titipkan lalu lupa kau ambil
jalanan sibuk melenggang
hanya aku
yang menjadi patung di tengah arus waktu
angin berbisik membawa namamu
membuat bulu kudukku berdiri seperti prajurit siaga
Aku menakar jarak dengan rontoknya daun
berharap setiap gugur adalah satu langkahmu mendekat
langit sudah berganti warna tiga kali
kopi di tanganku mati rasa
tapi janji yang kau sematkan di keningku dulu
masih hidup, bernapas, dan memaksa aku tetap di sini
menunggu kamu
Penulis: Amalia Dwi Rahmah
Editor: Rara Zarary


















