Retakan Cermin

40
Sebuah ilustrasi kehidupan keluarga

“Aku harus kuat… kan?” Dias menatap dirinya sendiri di cermin yang mulai kusam di sudut kamar. Retakan kecil di sisi kanan membuat bayangannya tampak terbelah dua, seolah ada dua versi dirinya, yang ingin menyerah, dan yang dipaksa bertahan.

“Ayah sudah tidak ada,” gumamnya pelan. “Kalau aku juga lemah, siapa lagi?”

Ia menarik napas panjang. Matanya sembab, bukan karena baru menangis, tapi karena terlalu sering menahan semuanya sendirian.

“Ini bukan pilihan,” lanjutnya, kali ini suaranya lebih tegas. “Ini tanggung jawab.”

Ia menyentuh permukaan cermin itu, dingin. Sama dinginnya dengan kenyataan yang harus ia jalani sejak lulus SMA dua bulan lalu.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

***

Dulu, setelah pengumuman kelulusan, teman-temannya sibuk membicarakan kuliah. Ada yang sudah diterima di kampus negeri, ada yang merencanakan merantau. Grup chat mereka penuh dengan foto-foto pendaftaran dan mimpi masa depan. Dias hanya membaca.

Bukan karena ia tidak punya mimpi. Ia punya. Bahkan sangat besar. Ia ingin menjadi guru. Ia ingin mengajar anak-anak di kampungnya, seperti dulu gurunya yang sabar membimbingnya.

Tapi mimpi itu seperti harus ia lipat rapi, disimpan dalam-dalam, karena kenyataan di rumah jauh lebih mendesak.

Ayahnya meninggal setahun lalu karena sakit yang tak sempat diobati dengan layak. Sejak itu, rumah kecil mereka seperti kehilangan tiang penyangga. Ibunya hanya ibu rumah tangga. Dua adiknya, Rani kelas 2 SMP dan Lila kelas 5 SD, masih butuh biaya sekolah, makan, dan kehidupan yang layak. Dias… adalah satu-satunya laki-laki di rumah itu.

***

“Mas, nanti uang SPP-ku gimana?” tanya Rani suatu malam, ragu-ragu.

Dias yang sedang menghitung uang di meja hanya tersenyum kecil. “Tenang, nanti Mas cari.”

“Mas capek ya?” sela Lila polos.

Dias menggeleng. “Nggak. Mas kuat.” Padahal, ia tahu itu bohong.

Pagi-pagi sekali, sebelum matahari benar-benar naik, Dias sudah bangun. Ia membantu ibunya memasak seadanya, lalu berangkat ke pasar untuk bekerja sebagai kuli angkut.

Tangan yang dulu terbiasa memegang buku kini harus mengangkat karung beras, sayuran, dan barang-barang berat lainnya. Bahunya sering pegal, telapak tangannya mulai kasar.

“Masih muda, kok kerja begini?” tanya seorang pedagang suatu hari.

Dias hanya tersenyum. “Belajar kuat, Pak.” Ia tidak pernah menceritakan semuanya. Tidak semua orang perlu tahu.

***

Kadang, saat lelah tak tertahankan, ia kembali ke kamar dan berdiri di depan cermin itu lagi.

“Aku capek…” bisiknya. Bayangannya diam. Tidak menjawab.

“Tapi aku nggak boleh berhenti.” Ia mengingat wajah ibunya yang mulai menua sebelum waktunya. Kerutan halus di wajah itu bukan karena usia, tapi karena beban.

Ia mengingat Rani yang diam-diam sering belajar sampai larut malam. Ia tahu adiknya itu ingin terus sekolah.

Ia mengingat Lila yang masih suka bercerita tentang cita-citanya menjadi dokter. Dan setiap kali itu pula, Dias merasa hatinya seperti diremas. “Kalau aku menyerah, mereka bagaimana?” katanya pada dirinya sendiri.

***

Suatu sore, hujan turun deras. Dias pulang dengan pakaian basah kuyup. Hari itu ia hanya mendapat sedikit upah karena pasar sepi.

Ia masuk rumah dengan langkah pelan. Ibunya sedang duduk di ruang tengah, menjahit baju lama agar bisa dipakai lagi.

“Sudah makan, Nak?” tanya ibunya lembut. Dias mengangguk, meski sebenarnya belum.

Ia tidak ingin ibunya khawatir. Namun saat ia hendak masuk kamar, ibunya memanggil.

“Dias…” Ia menoleh.

“Maaf ya… Ibu belum bisa bantu banyak.” Kalimat itu sederhana, tapi menghantam dada Dias keras sekali.

Ia berjalan mendekat, lalu duduk di samping ibunya. “Bu,” katanya pelan, “jangan bilang begitu. Aku yang harusnya minta maaf karena belum bisa bikin Ibu tenang.”

Ibunya menggeleng, matanya berkaca-kaca.

Dias menggenggam tangan ibunya. “Ayah memang sudah nggak ada… tapi aku ada, Bu. Aku janji, aku akan jaga Ibu dan adik-adik.”

***

Malam itu, setelah semua tidur, Dias kembali berdiri di depan cermin. Ia menatap dirinya lama.

“Aku nggak boleh cuma bertahan,” katanya lirih. “Aku harus maju.”

Ia mengambil selembar kertas dari meja. Itu adalah brosur beasiswa yang ia dapat dari temannya dulu.

Selama ini ia hanya menyimpannya, merasa itu bukan untuknya. Tapi malam itu, ia membukanya lagi.

“Kalau aku bisa kuliah sambil kerja… mungkin masih ada jalan.” Untuk pertama kalinya, bayangannya di cermin tidak terlihat terbelah. Seolah dua sisi dirinya mulai menyatu.

Hari-hari berikutnya tidak menjadi lebih mudah. Dias tetap bekerja di pasar, tetap bangun pagi, tetap pulang dengan tubuh lelah.

Tapi ada sesuatu yang berbeda. Ia mulai mengisi formulir beasiswa. Ia mulai belajar lagi di sela-sela waktu. Ia mulai berani berharap.

Rani pernah melihatnya membaca buku di malam hari. “Mas mau kuliah?” tanyanya dengan mata berbinar.

Dias tersenyum kecil. “Doakan saja.” Lila ikut mendekat. “Kalau Mas jadi guru, aku mau jadi murid Mas!” Dias tertawa pelan, untuk pertama kalinya dalam waktu lama.

***

Suatu pagi, sebelum berangkat kerja, ia kembali berdiri di depan cermin. “Aku belum sampai,” katanya. “Tapi aku sudah berjalan.”

Ia mengusap wajahnya, lalu tersenyum. “Dan aku nggak sendirian. Aku punya alasan untuk terus kuat.” Ia mematikan lampu kamar, lalu melangkah keluar. Di luar, matahari mulai terbit. Tidak terlalu terang, tapi cukup untuk menunjukkan jalan.

Seperti hidupnya. Tidak sempurna. Tidak mudah. Tapi masih ada cahaya. Dan selama itu ada, Dias tahu, ia tidak akan berhenti berjuang.



Penulis: Ummu Masrurah