Belajar Menghargai Perbedaan Pendapat dari Gus Dur dan Gus Sholah

Buku terbitan Pustaka Tebuireng
  • Judul Buku : KH. Abdul Wahid Hasyim dalam Pandangan Dua Putranya
  • Penulis : Tim Pustaka Tebuireng
  • Tebal Buku : 55 halaman
  • Penerbit : Pustaka Tebuireng
  • Tahun Terbit : 2015
  • ISBN : 978602805353
  • Peresensi : Dimas Setyawan Saputra*

Beberapa minggu lalu kita memperingati 100 hari kepergian guru kita semua, KH. Salahudin Wahid. Dalam kepergiannya, beliau banyak sekali meinggalkan pemikiran mengenai agama dan juga bangsa. Sebagai seorang tokoh yang lahir dari pesantren, fatwa dan kebijikan beliau sering kali menjadi acuan dalam kehidupan keseharian bangsa.

Dalam berbangsa, beliau dapat dikatakan berhasil menyatukan antara Keislaman dan Kebangsaanang yang mana hal tersebut jarang sekali dimiliki oleh ulama-ulama yang ada di daerah Timur Tengah. Bisa jadi, konfilk yang berkepanjangan di daerah Timur Tengah, dikarenakan ulama-ulama sana, telah gagal menyatukan nilai-nilai kebangsaan dan keislaman.

Menurut KH. Salahuddin Wahid kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan tetapi dapat berjalan secara bersamaan. Nilai-nilai tersebut dapat dikatakan warisan dari sang ayah yakni KH. Abdul Wahid Hasyim. Beliau sendiri sangatlah berperan penting pada saat peletakan asas-asas bangsa Indonesia (Pancasila).

Peran KH. Abdul wahid Hasyim mengenai kebangsaan dan keislaman adalah bentuk pencapaian seorang ulama dalam memberikan peran andil dalam pembangunan Negara Republik Indonesia pasca terbebas dari negara jajahan. Buku yang berjudul  “KH. Abdul Wahid Hasyim dalam pandangan dua putranya (Dialog Gus Dur dan Gus Sholah mengenai pandangan politik keislaman sang ayah ) merupakan kumpulan artikel Gus Dur dan Gus Sholah yang dimuat di harian Media Indonesia pada bulan Oktober 1998.

Dalam buku ini kita disuguhkan bagaiamana kedua putra beliau, Gus Dur dan Gus Sholah saling beradu argumen dalam menilai sosok sang Ayah dalam padangan berpolitik dan perannya dalam ikut andil dalam merumuskan Pancasila.  Sejak tampil memimpin NU hampir 15 Tahun silam, Gus Dur telah mencoba menghidupkan tradisi pemikiran kritis di kalangan NU dan mencoba membangun wacana pemikiran keagamaan baru.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Begitu besarnya concern Gus Dur untuk membangkitkan tradisi pemikiran di kalangan NU, sampai-sampai muncul fenomena “Gusdurian”, terutama dikalangan anak muda. (hal. Vii) Gus Dur yang telah menjadi seorang intelektual di kalangan NU, berhasil membawa NU pada era yang baru yakni, “berani dalam berfikir kritis dan berwawasan luas”.

Maka tak ayal ketika Gus Dur membicarakan atau menulis suatu hal mengenai padangan politiknya, lawan mapun kawan tak berani untuk mengkritik. Hal tersebut beralasan karena keilmuan mereka tidak sebanding dengan Gus Dur. 

Kemudian munculah Gus Sholah, adik kandung Gus Dur yang memberanikan diri untuk tampil mengkritik sang kakak. Wujud pengkritikan tersebut beralasan bahwa, kedua tokoh ini berupaya saling memberikan angin segar terhadap jamaah NU. Bahwa sesama saudara bukan berarti tidak boleh berbeda pendapat.

Justru dengan hal demikian membuka wawasan bahwa berbeda pendapat adalah suatu hal rahmat tersendiri untuk dunia intelektual.  Dari dialog tersebut, tercermin pilihan sikap masing-masing, yaitu bentuk benegara secara sekuler (Gus Dur) dan negara tidak sekuler (Gus Sholah).

🤔  Sampai Senja Itu

Tetapi perbedaan pandangan politik tersebut tidak serta merta menjadikan kedua saudara itu tidak akur. Justru saling menghormati satu sama lain, seperti uraian Gus Dur  di bawah ini mengenai tulisan yang dirilis di Harian Media Indonesia pada tanggal 8 dan 9 Oktober 1998  yang dikritik oleh sang adik, Gus Sholah:

“Dalam harian media Indonesia edisi 17 Oktober 1998, dimuat artikel karya Ir. Salahuddin Wahid, salah seorang pendiri Partai Kebangkitan Umat (PKU). Walaupun katanya ia bermaksud mengadakan koreksi terhadap penulis, dalam kenyataannya ia tidak pernah menghubungi penulis dalam kaitan mendirikan partai tersebut. Padahal, menurutnya ini adalah koreksi. Baru kali ini ada koreksi yang diberikan tanpa menghubungi pihak yang terkena tindakan itu. Tetapi tidak mengapa. Namanya juga bersaudara, sehingga masih banyak media lain untuk mengekalkan sikap politik.” (hal. 23) 

Ketika mendapati jawaban atas kritik yang disampaikannya, Gus Sholah pun kembali menuliskan artikel yang ditujukan kepada Gus Dur yang dimuat oleh Harian Media Indonesia. Pada tulisan tersebut tergambar jelas bagaiaman Gus Sholah sangat menghormati Gus Dur sebagai seorang intlektual sekalgus sebagai seorang kakak. Tulisan itu sebagaiamana terlampir dibawah ini;

“Dalam media Indonesia tanggal 23 Oktober 1998, KH. Abdurahaman Wahid (Gus Dur) membuat tulisan; “Terserah Suara Rakyat”, untuk menanggapi kembali tulisan tanggapan dari penulis. Tulisan penulis itu sama sekali tidak ada kaitan dengan Partai Kebangkitan Umat (PKU) yang dianggap Gus Dur merupakan koreksian terhadap dirinya. Penulis yakin bahwa perbedaan pandangan politik antara dua bersaudara tidak harus menyebabkan renggangnya persaudara. Di dalam keluarga Wahid Hayim, sejak kecil kami di dorong ibu untuk tidak malas berfikir. Kami dibiasakan untuk berani bersikap, berani berbeda pendapat dan mengemukakan pendapat itu, asal disampaikan dengan cara yang baik. Penulis mencintai, menghormati dan mengagumi Gus Dur sebagai kakak sekaligus sebagai tokoh luar biasa. Tetapi kalau penulis mempunyai perbedaan pendapat dengan Gus Dur dalam masalah kemasyarakatan yang penting adalah sesuatu yang wajar kalau pendapat itu disosialisasikan, penulis yakin Gus Dur menghormati perbedaan pendapat, dari manapun datangnya, apalagi dari adiknya sendiri.” (hal.30)

Dari penggalan catatan artikel di atas antara Gus Dur dan Gus Sholah mengambarkan bagaimana perbedaan pendapat harus diterima secara baik, meskipun perbedaan tersebut datang dari saudara sendiri.

Pada akhirnya, kedua sosok tersebut antara Gus Dur dan Gus Sholah telah berhasil membangkitkan berfikir kritis ditengah masyarakat NU, bahwa perbedaan bukan salah satu faktor kehancuran, tetapi sebagai rahmat yang dapat dirasakan oleh semua orang. 

Kini dua bersaudara tersebut telah meninggalkan kita untuk selamanya. Tetapi karya dan segala pemikiran beliau berdua akan selalu abadi untuk dikaji hingga menjadi pedoman hidup kita dalam berproses menuju insan kamil. Terima kasih banyak guru.

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.