IMG_3682tebuireng.online– Masih dalam suasana peringatan Haul KH. Ishak Latif, Lembaga Penerbitan Pesantren Tebuireng (LPPT) mengadakan Bedah Buku “Hidup untuk Pengabdian: In Memoriam KH. Ishak Latif” terbitan Pustaka Tebuireng (2015) karya H. Cholidi Ibhar di Gedung KH. M. Yusuf Hasyim lantai 3 Pesantren Tebuireng, Jum’at sore (26/02/2016).

Dalam acara tersebut, panitia mendatangkan narasumber penulis buku tersebut H. Cholidi Ibhar, pembanding satu Dosen Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta Dr. Muhammad Roy Purwanto, pembanding dua Agus Muhammad Zakky Hadzik dan moderator Direktur LPPT  Ahmad Faozan. Selain itu juga dihadiri oleh perwakilan keluarga KH. Ishak Latif, H. Ainur Rofiq yang merupakan keponakan beliau. Sekitar 300 orang dari kalangan santri, mahasiswa, asatidz, pembina, bahkan ada yang menyempatkan datang dari berbagai kota, seperti Malang, Sidoarjo, dan Mojokerto. Kebanyakan mereka adalah para alumni yang rindu kepada KH. Ishak Latif.

Perwakilan LPPT, Lutfi Bahruddin, memberikan sambutan
Perwakilan LPPT, Lutfi Bahruddin, memberikan sambutan

Dalam sambutannya perwakilan Lembaga Penerbitan Pesantren Tebuireng (LPPT), Lutfi Fahrurrozi Bahruddin. Dalam sambutannya, anggota dewan redaksi LPPT ini mengatakan bahwa KH. Ishak Latif patut untuk dikenang. Ia juga menjelaskan bahwa pengajian beliau selalu dirindukan dan tidak mengundang kebosanan, pasalnya dalam mengajar beliau selalu menghadirkan guyonan segar, cerdas, namun tetap fokus pada materi. “Itulah yang menimbulkan kerinduan di hati santri yang pernah ngaji ke beliau,” ungkapnya.

H. Ainur Rofiq, keponakan Yai Ka' memberikan sambutan sebelum diskusi dimulai
H. Ainur Rofiq, keponakan Yai Ka’ memberikan sambutan sebelum diskusi dimulai

Perwakilan keluarga, keponakan Yai Ka’, panggilan akrab KH. Ishak Latif, H. Aniur Rofiq dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Pesantren Tebuireng, pihak penerbit Pustaka Tebuireng, dan penulis buku H. Cholidi Ibhar. Beliau juga mengatakan bahwa 70% kehidupan Yai Ka’ dihabiskan di Pesantren Tebuireng, sisanya dihabiskan di rumah, itupun hanya karena mengisi pengajian dan memenuhi undangan para tetangga dalam intensitas waktu yang ketat, agar tidak mengganggu pengajian di pondok.

H. Cholidi Ibhar mengaku bersama Yai Ka’ selama 6 tahun dari 10 tahun menjadi santri di Pesantren Tebuireng dan tiga tahun menjadi sekretaris pribadi beliau. Pak Ibhar memaparkan pengalaman dan kenangan beliau selama bersama dengan Yai Ka’. Gus Zakky dalam penjelaskannya lebih mengedepankan pengalaman beliau sebagai penyedia kitab, atau “bakul buku” kitab yang diajarkan di Pesantren Tebuireng. Gus Zakky menyandingkan Yai Ka’ dengan Gus Ishom sebagai duo kiai mercusuar di Tebuireng era-70 hingga 2000-an. Dr. Roy Muhammad menjelaskan kisah hidup Yai Ka’ dalam perspektif tasawuf dan menyebut pencapaian keilmuan Yai Ka’ diperoleh dengan tiga hal, yaitu belajar dengan tekun (bil kasbi), usaha pendekatan kepada Allah (bil kasyfi), dan bil hikmah. (abror)

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
SebelumnyaSantri SMA Trensains Pesantren Tebuireng II Kembali Ukir Prestasi
BerikutnyaMelepas Memori tentang Yai Ka’