Jangan menangis, namun sayang sekali, nyatanya negara-negara muslim tertinggal oleh negara-negara lain yang dulunya sama-sama miskin. Pernyataan ini didasarkan pada data United Nation Development Programme (UNDP) yang menyebut bahwa indeks perkembangan manusia di negara-negara muslim masih rendah. Rendah dalam tingkat literasi, pendidikan, partisipasi politik dan ekonomi, serta pemberdayaan perempuan.

Kebangkitan sebuah negara bisa dimulai dari pendidikan, dengan mencerdaskan anak-anak bangsa yang nantinya akan menjadi pemegang tonggak kemajuan. Ibnu Asyur (1879-1973) menjadi tokoh sentral yang dikaji pemikiran pendidikannya dalam buku yang diangkat dari disertasi Anang Firdaus ini. Ide dan gagasan Ibnu Asyur bisa kita lihat dalam karyanya yang berjudul Alaysa as-Subhu bi Qarib yang ditulis antara tahun 1903-1906 dan baru diedarkan pada 1940.

Ibnu Asyur adalah seorang ulama ahli tafsir dan maqashid syariah yang lahir di Tunisia pada 1296 H atau 1879 M dari sebuah keluarga terhormat dari Andalusia. Kitab Ibnu Asyur yang lain ialah Maqashid Syari’ah al-Islamiyyah, at-Tahrir wa at-Tanwir, dan Ushul Nidham al-Ijtima’i fi al-Islam. Kitab-kitab tersebut menjadi ramuan yang lengkap untuk memulai konstruksi pemikiran pendidikan maqashid Ibnu Asyur.

Kitab Alaysa as-Subhu bi Qarib yang mulanya telah menuai pro-kontra di antara masyayikh di al-Zaytunah, pada akhirnya mampu meyakinkan para pemimpin Islam dan pemangku kebijakan pendidikan. Kitab ini terbukti mampu mengubah wajah pendidikan di Tunisia pada waktu itu. Keberhasilan tersebut tentu tak terlepas dari pendekatan keilmuan kitab ini yang bercorak interdisipliner (menggunakan tinjauan berbagai sudut pandang ilmu serumpun yang relevan secara terpadu).

Jika kita rasakan, ada stagnasi metodologi dalam perkembangan pemikiran Islam, termasuk pendidikan Islam. Penafsiran dan pengetahuan agama cenderung bersifat absolut, rigid, dan kaku sehingga sulit membuka diri pada perubahan serta enggan menerima kritik dan dialog. Setidaknya hal itulah yang disampaikan oleh Amin Abdullah dalam pengantar buku ini. Solusi yang ia tawarkan, ialah dengan membawa pendekatan ilmu agama ke scope yang lebih luas, yaitu multidisipliner, interdisipliner, dan transdisipliner.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pendidikan Islam yang selama ini masih bernuansa tasawuf-akhlaqi (sistem kepercayaan yang ditelan mentah) akan bergeser pada paradigma maqashidi. Maqashid ialah sebuah konsentrasi keilmuan yang menempatkan tujuan dasar syariat Islam. Namun, berbicara tentang maqashid seharusnya tidak terbatas pada syariat saja, melainkan dalam seluruh sendi kehidupan. Ini karena maqashid menjadi sari dari al-Quran yang kita anggap telah lengkap.

Itulah beberapa penjelasan pendahuluan dan latar belakang buku ini. Memang, buku yang diangkat dari disertasi tidak dimaksudkan untuk menjadi buku populer. Pembahasan di dalamnya kritis dan berat bagi mereka yang masih dalam tahap pemula dengan berhamburan istilah Arab. Judulnya yang sangat segmented akan sulit untuk menarik pembaca awam, bahkan para mahasiswa pendidikan Islam. Namun bagi para akademisi, buku ini akan jadi sangat lezat karena menyuguhkan paradigma baru dalam pemikiran Islam.

Identitas buku:

Judul: Menggagas Pendidikan Maqashidi
Penulis: Mohamad Anang Firdaus
Penerbit: Pustaka Tebuireng
Cetakan: I, Apri 2021
Tebal: liv + 343 hlm.
Ukuran: 15×23 cm
ISBN: 978-623-6098-01-1
Pengulat: Hilmi Abedillah (anggota Sekolah Membaca Tebuireng)

SebelumnyaZamakhsyari Dhofier: Gaya Tebuireng, Menggabungkan Elemen Tradisional & Modern
BerikutnyaKemakmuran Masjid di Era Pandemi