Menjaga Santri di Ruang Digital

7
Sebuah ilustrasi santri dan teknologi (AI)

Penulis: Inggar Saputra*

Kemajuan teknologi, khususnya internet dan media sosial, menuntut setiap orang mampu mengenali dan menguasainya. Bagi santri di pondok pesantren, kehadiran teknologi dapat mempermudah berbagai aktivitas. Berbagai manfaatnya dapat dirasakan, seperti memperkaya wawasan pengetahuan, melatih cara berpikir kritis, serta memperluas jaringan pertemanan. Oleh karena itu, teknologi perlu dimanfaatkan secara positif agar mampu meningkatkan kualitas kehidupan santri.

Baca Juga: Mengintegrasikan Teknologi dan Tradisi di Pesantren

Belakangan ini berkembang pesat kecerdasan buatan, atau Artificial Intelligence (AI) Generatif, yang dapat dijadikan sarana untuk mengakses berbagai sumber ilmu. Penggunaan aplikasi seperti ChatGPT, Gemini AI, dan Claude menjadi cara belajar yang efektif. Dalam lingkungan pesantren, AI Generatif dapat membantu santri memahami konsep ilmu agama yang sulit, menerjemahkan teks, mencari referensi, serta menghemat waktu belajar.

Namun demikian, terdapat catatan penting mengenai risiko yang menyertainya, seperti potensi bias informasi dan pelanggaran etika, yang perlu diantisipasi. Misalnya, AI Generatif bisa saja memberikan jawaban yang tidak tepat terkait hukum Islam. Jika digunakan tanpa disertai sikap kritis, hal ini justru dapat menurunkan kemampuan menghafal, melumpuhkan proses berpikir mendalam, serta menumbuhkan budaya meniru atau plagiarisme.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang menjaga tradisi dan nilai keagamaan kini menghadapi tantangan baru. Kemajuan teknologi harus dapat diintegrasikan dengan nilai-nilai akhlak dan ajaran agama. Tanpa arahan yang benar, kemudahan akses informasi justru dapat menggeser fokus belajar, mengurangi rasa kebersamaan, dan menimbulkan kerusakan akhlak.

Baca Juga: Belajar Penguatan Media Sosial Pesantren

Untuk merespons kondisi itu, para santri perlu mempelajari literasi digital sebagai sebuah kemampuan menyeleksi informasi dari dunia digital. Keterampilan literasi digital akan membudayakan santri mengakses informasi, teknologi dan jaringan digital secara kritis dan bertanggungjawab. Bagaimanapun setiap informasi tidak sepenuhnya benar, sehingga diperlukan sikap kritis dan bijaksana dalam menyeleksi informasi yang masuk dalam kehidupan kita.

Allah SWT sudah mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kelalaian) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al‑Hujurat:6)

Literasi digital juga mengajarkan cara memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. Santri perlu terbiasa membedakan antara fakta dan opini sehingga terbiasakan berfikir objektif. Selain itu, perlu diwaspadai maraknya kasus penipuan daring dan perjudian online. Tanpa pengendalian diri, santri berisiko menjadi korban aksi kejahatan di ruang digital.

Dalam hal ini, setiap santri perlu memiliki kecakapan digital dengan memahami penggunaan teknologi secara positif dan bermanfaat. Mengenali perangkat keras, lunak dan mesin pengakses informasi menjadi kebutuhan utama. Jangan sampai keinginan mendapatkan pengetahuan justru melanggar hak asasi orang lain dan melemahkan daya kritis. mengambil jawaban dari AI secara utuh tanpa dikaji ulang sehingga melahirkan budaya plagiarisme di dunia pendidikan.

Baca Juga: Pengelolaan Konten dan Keamanan Digital untuk Pengelola Media Pesantren

Selain itu, penting bagi santri menjaga keamanan data pribadi agar tidak dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab. Misalnya perlu ada pembudayaan aktif mengganti kata sandi terhadap akses email dan perangkat aplikasi seluler secara rutin. Ini penting sebagai mitigasi resiko terhadap berbagai kejahatan siber seperti phishing dan deepfake.

Penggunaan media sosial juga harus mengikuti etika, syariat Islam, dan norma yang berlaku di ruang publik. Maraknya perundungan di media sosial yang dialami figur publik maupun netizen secara umum perlu menjadi perhatian kita bersama. Dalam merespons ini, kalangan santri perlu menjadi pelopor berbahasa yang baik dan bijak menyikapi perbedaan pendapat. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT:

Ini sejalan dengan firman Allah SWT: “Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia” (QS. Al-Isra:53)

Keragaman pandangan di media sosial perlu dihargai dengan membiasakan untuk menahan diri dari memberikan komentar negatif dan menghindari cyberbullying (perundungan siber) serta body shaming. Jika berbeda pendapat, sampaikanlah dengan bahasa yang sopan tanpa menyerang pribadi.  

Baca Juga: Bagaimana Pesantren Berdakwah di Era Digital

Allah SWT mengingatkan kita semua: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (QS. Al‑Hujurat:12)

Sebagai penutup, santri perlu membangun budaya berinteraksi yang positif dan sehat di ruang digital. Dalam berkomentar atau membagikan unggahan, peganglah prinsip ajaran Islam “Berkatalah yang baik atau diam” (HR. Bukhari). Sikap ini penting mengingat banyaknya informasi di media sosial yang bersifat memprovokasi, menghasut dan menebar kebencian diantara sesama pengguna media sosial.

Bagaimanapun perkembangan teknologi bukan musuh, melainkan tantangan yang harus dikelola dengan bijaksana. Bagi santri, kuncinya terletak pada menjaga keseimbangan. Santri perlu menguasai teknologi untuk mendukung ilmu dan ibadah, namun tetap memegang teguh syariat dan akhlak. Melalui literasi digital yang baik, keamanan data yang terjaga, serta etika komunikasi yang luhur, santri dapat menjadi pelopor kedamaian dan kebaikan di ruang digital.

Keberhasilan menjaga dan membimbing santri membutuhkan sinergitas di lingkungan pesantren. Pengasuh dan ustadz berperan membimbing, menyusun dan menjadi teladan dalam menegakkan aturan penggunaan gawai yang jelas. Pengurus pesantren bertugas menyediakan akses internet yang aman dan rutin melakukan pelatihan literasi digital. Sementara itu, setiap santri harus memiliki komitmen pribadi yang kuat dan saling mengingatkan satu sama lain agar tetap berada di jalan yang benar dalam memanfaatkan teknologi.

Baca Juga: FGD Media Tebuireng Perkuat Kolaborasi Menuju Profesionalitas Media Pesantren



*Penggiat Literasi Rumah Produktif Indonesia. Senang menulis di media massa cetak dan online. Saat ini aktif di Perkumpulan Rumah Produktif Indonesia. Mengajar di beberapa perguruan tinggi swasta. Instagram: @bunginggars.