
Pada dasarnya dalam penerimaan luka ataupun kekurangan dalam diri sendiri adalah sangat sulit untuk langsung direspon apalagi langsung bisa benar-benar diterima. Banyak pesakitan dulu yang harus dilewati. Sembuh bukan berarti tanpa proses.
Baca Juga: Toxic Parenting dalam Perspektif Islam
Banyak sekali tuntutan untuk selalu bahagia, selalu tersenyum, bahkan dituntut untuk selalu kuat padahal dalam kenyataannya kita juga berhak punya ruang untuk berkata bahwa diri kita capek, Lelah, kesal dalam semua keadaan.
Dan ironisnya, kalimat-kalimat penyemangan seperti ‘badai pasti berlalu’, ‘ambil saja hikmahnya’, ‘harus tetap semangat’ dan lain sebagainya bisa termasuk pada kalimat toxic positivity. Mengapa? Karena hal demikian adalah pemaksaan sudut pandang positif secara berlebihan ke dalam segala situasi.
Tulisan ini bertujuan untuk saling berbagi informasi tentang mengapa tuntutan untuk selalu berpura-pura bahagia ini justru menjadi belenggu psikologis yang merusak dan juga mengapa kita perlu kembali belajar untuk tidak hanya merayakan luka tetapi juga bisa menerima luka secara jujur.
Baca Juga: Toxic Positivity, Apakah Selalu Berpikir Positif Itu Sehat?
Permasalahn dari toxic positivity ini adalah penolakan terhadap realitas emosional. Ketika kita mengalami musibah atau permasalahan dalam hidup, lalu kita membutuhkan waktu untuk bisa memproses rasa sakit tersebut. Seperti agaknya tangisan kita diangap sebagai tanda kelemahan, kemaharan kita bahkan dicap sebagai kekuranbersyukuran dan keluhan kita seringkali diangap rengek-an berisik.
Memang tidak banyak orang yang mengerti tentang pengertian dari Toxic Positivity, namun kita yang sadar akan hal itu seharusnya tidka memperlakukan orang dengan perilaku yang demikian, seolah-olah rasa kesal, rasa sedih, dan rasa marah kita tidak di validasi. Padahal memvalidasi perasaan itu sangat penting. Mengapa? Karena Ketika seseorang merasa perasaannya divalidasi atau diterima maka ia cenderung lebih nyaman untuk terbuka, hal inilah yang dapat mengurangi perasaan negatif lainnya.
Tidak jarang dari kita yang berpikir bahwa menunjukkan kesedihan itu berarti kita rapuh, padahal ketika kita terus-terusan memendam perasaan juga tidak membuat seketika luka itu menjadi hilang. Emosi-emosi yang tidak diakui inilah yang akan justru menumpuk dan menimbulkan luka baru sehingga kita menjadi semakin kewalahan.
Baca Juga: 7 Tipe Orang Toxic yang Harus Kamu Jauhi
Dalam pendekatan Acceptance and Commitment Therapy (ACT), Hayes, Strosahl, dan Wilson (2012) menjelaskan bahwa menerima pengalaman emosional yang tidak menyenangkan bukan berarti menyukai rasa sakit tersebut, tetapi berhenti menghabiskan energi untuk menyangkalnya sehingga kita bisa fokus menjalani hidup sesuai nilai-nilai yang kita yakini.
Menerima luka juga bukan berarti kita terus berlarut dalam kesedihan. Justru dengan kita mengakui bahwa ‘iya, ternyata ini memang menyakitkan’, kita bisa mulai mencari cara agar bisa bangkit. Umpanya dengan luka fisik, semakin kita pura-pura tidak terluka, maka luka itu tidak akan pernah sembuh, tetapi kalau kita membersihkan luka itu, merawatnya, maka perlahan luka itu akan mengering.
Kita juga perlu mengingat bahwa tidak ada manusia yang hidup tanpa luka. Entah itu karena kehilangan orang yang disayang, gagal dalam mencapai impian dan atau eksperasi yang tidak sesuai kenyataan. Ya, semua itu adalah bagian dari kehidupan yang tidak melulu bisa selesai hanya dengan ucapan ‘semangat ya’ kadang ucapan ‘gapapa kok, nangis aja dulu, istirahat aja dulu, annti kalau sudah selesai, ayok berjuang lagi’ kalimat itu yang terasa lebih menenangkan.
Sehingga daripada kita sibuk berpura-pura kuat di depan semua orang, lebih baik kita jujur pada diri sendiri. Akan sangat tidak apa kalau hari ini belum baik-baik saja. Akan sangat tidak apa juga kalau proses sembuhnya membutuhkan waktu. Yang terpenting adalah kita tidak memutuskan untuk berhenti melangkah.
Baca Juga: Terjebak dalam Pertemanan Toxic
Mari bertumbuh meski dengan banyak pesakitan dari banyak pengalaman yang pernah kita lalui, pada akhirnya menjadi positif memang baik, akan tetapi bukan selamanya positif itu punya perspektif harus selalu menutupi kesedihan, kekecewaan, marah dan kesal.
Justru ketika kita berani mengakui perasaan-perasaan itu maka kita akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara emosional. Karena benar memang bahwa proses untuk pulih itu tidak dimulai dari berpura-pura baik saja, melainkan dari keberanian untuk berkata ‘hari ini aku memnag sedang tidak baik-baik saja, dan itu sangat tidak apa-apa.


















