Dari Trensains Tebuireng ke China, Perjalanan Alicia Mengejar Mimpi Menjadi Dokter

29
dok. trens_edu

Tebuireng.online— Di atas meja belajarnya, buku-buku sains pernah bertumpuk berdampingan dengan kamus bahasa Inggris dan lembar-lembar latihan bahasa Mandarin. Bagi Alicia Isza Az-Zahra Ainurafik, mimpi menjadi dokter tidak pernah lahir secara tiba-tiba. Mimpi itu tumbuh sejak masa kanak-kanak, ketika ia melihat sosok ibunya mengenakan jas putih dan mengabdikan diri bagi kesehatan masyarakat.

Baca Juga: Bangun Kesalehan Ekologis, Pemateri MOSBA Trensains Ajak Santri Baru Rawat Lingkungan

Kini, mimpi itu membawa alumni SMA Trensains Tebuireng tersebut melintasi ribuan kilometer menuju Changsha Medical University, China. Di kampus itu, Alicia akan menempuh pendidikan pada program Clinical Medicine, membuka lembaran baru dalam perjalanan panjang yang telah ia siapkan selama bertahun-tahun.

Pilihan untuk melanjutkan studi di China bukan keputusan yang diambil dalam semalam. Bersama kedua orang tuanya, Alicia mempertimbangkan banyak hal, mulai dari kualitas pendidikan hingga lingkungan kampus yang dinilai ramah bagi mahasiswa internasional.

Meski demikian, satu hal yang tidak pernah berubah adalah impiannya menjadi seorang dokter.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Sejak kecil saya memang ingin menjadi dokter karena terinspirasi dari ibu,” tutur Alicia saat diwawancarai melalui sambungan seluler, (13/7).

Saat kabar kelulusannya diterima, rasa syukur menjadi hal pertama yang memenuhi hatinya. Baginya, keberhasilan tersebut bukan sekadar lolos ke perguruan tinggi luar negeri, tetapi menjadi jawaban atas setiap usaha, doa, dan pengorbanan yang telah dijalani selama ini.

“Saya bersyukur sekali. Rasanya semua usaha yang dilakukan selama ini tidak sia-sia, apalagi bisa membuat kedua orang tua bangga dan bahagia,” ungkapnya.

Baca Juga: Dari Kolam Lele Trensains ke Tambak Rumput Laut, Jalan Sukses Satriyo di Dunia Bisnis

Namun, jalan menuju kampus impian itu jauh dari kata mudah. Alicia harus melalui serangkaian proses seleksi, mulai dari penyetaraan nilai akademik, English Proficiency Test, hingga seleksi administrasi. Berbeda dengan anggapan banyak orang, menurutnya, universitas tujuan justru lebih menaruh perhatian pada kualitas akademik dibanding banyaknya prestasi perlombaan.

Di balik keberhasilannya hari ini, tersimpan mimpi lama yang sempat berubah arah. Ketika masih duduk di bangku SMP, Alicia sebenarnya bercita-cita melanjutkan studi ke Skotlandia atau Inggris. Keinginan itu muncul setelah melihat perjalanan akademik sang tante yang merupakan lulusan University of Aberdeen.

Namun, restu orang tua saat itu belum berpihak pada mimpinya. Ia kemudian mengalihkan fokus ke perguruan tinggi dalam negeri dan sempat mengikuti seleksi Universitas Pertahanan Republik Indonesia. Ketika kesempatan itu belum berhasil diraih, justru sang ibu membuka jalan lain.

“Setelah saya tidak lolos Universitas Pertahanan, ibu malah mengizinkan saya mencoba mendaftar ke beberapa universitas di China,” lanjutnya menjelaskan.

Baca Juga: Cetak Ilmuwan Muslim Global, SMA Trensains Tebuireng Bidik Target 50 Siswa Kuliah di Luar Negeri

Sejak kelas XII SMA Trensains Tebuireng, Alicia mulai menyusun satu per satu kepingan persiapan. Dokumen administrasi yang rumit, proses legalisasi, hingga berbagai persyaratan akademik ia selesaikan dengan teliti agar tidak ada yang terlewat.

Berbeda dengan sebagian pelajar yang aktif mengikuti banyak organisasi, Alicia memilih menjalani masa sekolah dengan ritme yang lebih sederhana. Ia bergabung di organisasi Lensa sebagai Koordinator Divisi Berita, tetapi sebagian besar waktunya ia dedikasikan untuk belajar.

Bukan berarti hari-harinya hanya diisi buku pelajaran. Alicia memiliki cara sendiri dalam mengatur waktu. Baginya, manajemen waktu bukan sekadar membuat jadwal yang padat, melainkan mengetahui tujuan yang ingin dicapai.

Ia membiasakan diri menyelesaikan tugas lebih awal, membaca materi sebelum pembelajaran dimulai, sekaligus menjaga keseimbangan antara belajar, beristirahat, dan beribadah.

“Menurut saya, yang paling penting adalah tahu tujuan kita. Kalau tujuannya jelas, kita akan lebih mudah menentukan prioritas. Ikhtiar harus maksimal, tetapi tetap disertai tawakal kepada Allah.”

Persiapan menuju China juga berarti mempersiapkan diri menghadapi bahasa yang sama sekali baru.

Baca Juga: Peneliti Muda Pesantren, Inovasi Salep Herbal Binahong-Kunyit Bawa Siswi Tebuireng Menang di OPSI 2025

Kemampuan bahasa Inggris sebenarnya telah menjadi bagian dari kesehariannya sejak kecil. Bersama sang ibu, ia terbiasa berdialog menggunakan bahasa Inggris, membaca buku, menonton film, hingga memperluas literasi internasional.

Sementara itu, bahasa Mandarin menjadi tantangan baru yang mulai ia tekuni secara serius saat duduk di kelas XII.

Buku HSK, kursus bahasa, drama China, hingga media sosial menjadi teman belajarnya setiap hari. Untuk memenuhi syarat masuk universitas, ia juga mengikuti tes IELTS dan CSCA dengan latihan yang konsisten melalui berbagai aplikasi pembelajaran dan memperkaya kosakata, khususnya istilah-istilah sains.

Menurut Alicia, kesiapan akademik saja belum cukup bagi pelajar yang ingin kuliah di luar negeri. Ada hal lain yang juga dinilai penting oleh pihak universitas.

“Jangan hanya fokus mengejar nilai. Personal statement dan motivation letter juga harus menunjukkan karakter, tanggung jawab, dan tujuan hidup yang jelas.”

Baca Juga: Dua Tim Riset SMA Trensains Tebuireng Sabet Honorable Mention di Kompetisi Sains Nasional

Di balik seluruh pencapaiannya, Alicia ternyata menyimpan alasan yang jauh lebih besar daripada sekadar memperoleh gelar dokter.

Pengalamannya melihat banyak warga Indonesia memilih berobat ke China membuatnya bertanya-tanya. Baginya, Indonesia juga seharusnya mampu menghadirkan layanan kesehatan yang semakin baik sehingga masyarakat tidak perlu mencari pengobatan hingga ke luar negeri.

Keinginan itulah yang kini menjadi bahan bakar perjalanan akademiknya. Ia berharap, suatu hari nanti ilmu yang diperoleh di negeri orang dapat dibawa pulang untuk memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia.

Perjalanan Alicia juga meninggalkan satu pelajaran sederhana. Bahwa mimpi besar tidak selalu ditempuh melalui jalan yang lurus. Ada rencana yang berubah, ada kegagalan yang sempat datang, dan ada pintu-pintu baru yang terbuka ketika seseorang tidak berhenti melangkah.

“Jangan terlalu memikirkan pandangan negatif orang lain. Tetap fokus pada tujuan, lakukan yang terbaik, dan bangun lingkungan yang saling mendukung serta penuh energi positif.”

Baca Juga: Tiga Siswa Trensains Tebuireng Raih Juara 3 Inovasi Produk di UMSIDA