Mengubah Aktivitas Biasa Menjadi Ladang Pahala

32
Sebuah aktivitas harian (ilustrasi AI)

Penulis: Robi’ah Machtumah Malayati*

Rutinitas yang terus berulang dapat melahirkan kejenuhan. Saya pun pernah merasakannya. Bukan karena tidak mencintai keluarga, tetapi karena otak manusia memang tidak dirancang untuk terus-menerus melakukan aktivitas yang monoton tanpa variasi.

Bagi sebagian orang, pekerjaan rumah tangga mungkin terlihat sederhana. Tidak ada target penjualan, tidak ada laporan yang harus diselesaikan, tidak ada jabatan yang melekat. Namun, bagi seorang ibu rumah tangga, aktivitas itu justru nyaris tidak pernah berhenti.

Baca Juga: Tips Lindungi Kesehatan Tubuh saat Beraktivitas di Luar

Sejak membuka mata di pagi hari, pekerjaan sudah menunggu. Menyiapkan sarapan, mencuci piring, menyapu rumah, mengepel lantai, mencuci pakaian, memasak, mengurus anak, menemani belajar, hingga memastikan semua anggota keluarga dapat beristirahat dengan nyaman. Ketika malam tiba dan tubuh mulai lelah, sering kali muncul kesadaran bahwa esok hari semuanya akan dimulai lagi. Rutinitas yang sama. Berulang. Lagi, lagi, dan lagi.

Pada titik tertentu, rutinitas yang terus berulang dapat melahirkan kejenuhan. Saya pun pernah merasakannya. Bukan karena tidak mencintai keluarga, tetapi karena otak manusia memang tidak dirancang untuk terus-menerus melakukan aktivitas yang monoton tanpa variasi.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai habituation, yaitu ketika sesuatu yang terus berulang kehilangan daya tariknya sehingga pikiran menjadi jenuh. Ditambah lagi adanya mental load—beban mental yang sering dipikul ibu rumah tangga karena harus terus mengingat berbagai kebutuhan keluarga, bahkan ketika tubuh sedang beristirahat. Tidak heran jika banyak ibu merasa lelah, padahal mungkin tidak banyak keluar rumah.

Lalu, bagaimana agar rutinitas yang tidak bisa dihindari itu tidak berubah menjadi sumber kelelahan batin? Saya menemukan satu cara sederhana yang dapat dilakukan siapa saja, kapan saja, tanpa membutuhkan waktu khusus. Yaitu, mengisi setiap aktivitas rumah tangga dengan dzikir.

Baca Juga: Dzikir sebagai Keseimbangan Spiritual dan Psikologis

Menyapu sambil membaca istighfar. Mencuci piring sambil membaca tasbih. Melipat pakaian sambil bershalawat. Memasak sambil mengucapkan hamdalah. Aktivitasnya tetap sama, tetapi hati sedang melakukan perjalanan menuju Allah.

Mengapa Dzikir Menenangkan Pikiran?

Allah Swt. telah memberikan jawaban yang sangat indah dalam firman-Nya, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Menariknya, apa yang diajarkan Al-Qur’an ini juga sejalan dengan berbagai temuan psikologi modern. Para ahli menjelaskan bahwa pengulangan kata atau kalimat secara teratur (repetitive prayer atau mantra repetition) dapat membantu menenangkan sistem saraf, memperlambat napas, menurunkan tingkat stres, serta meningkatkan fokus.

Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Herbert Benson dari Harvard Medical School memperkenalkan konsep Relaxation Response, yaitu kondisi relaksasi yang muncul ketika seseorang mengulang kata atau kalimat tertentu dengan penuh kesadaran. Respons ini dapat menurunkan ketegangan fisik dan membantu pikiran menjadi lebih tenang.

Bagi seorang Muslim, dzikir tentu lebih dari sekadar teknik relaksasi. Ia adalah ibadah. Tetapi menariknya, Allah memberikan dua hadiah sekaligus: pahala dan ketenangan jiwa. Maka, pekerjaan rumah yang tadinya terasa membosankan berubah menjadi momen mendekat kepada-Nya.

Di antara dzikir yang sangat dianjurkan adalah istighfar. Setiap hari, bukan hanya pakaian yang kotor. Hati kita pun bisa dipenuhi debu: rasa kesal, iri, kecewa, marah, lelah, bahkan prasangka buruk. Jika rumah perlu dibersihkan setiap hari, bukankah hati juga demikian?

Baca Juga: Keistimewaan Berdzikir saat Orang Lain Lalai

Istighfar ibarat sapu bagi hati. Semakin sering seseorang memohon ampun kepada Allah, semakin ringan pula beban yang dipikulnya. Hati yang bersih lebih mudah menerima petunjuk, lebih lapang menghadapi masalah, dan lebih tenang menjalani kehidupan. Allah bahkan memberikan janji yang luar biasa melalui lisan Nabi-Nya, Nabi Nuh, ketika menyeru kaumnya agar memperbanyak istighfar. Allah akan mengirimkan hujan, memperbanyak harta, anak-anak, serta memberikan kebun dan sungai (QS. Nuh: 10–12). Pesan ini menunjukkan bahwa istighfar bukan hanya berkaitan dengan pengampunan dosa, tetapi juga menjadi sebab datangnya keberkahan hidup.

Ada sebuah kisah yang sangat populer di kalangan pesantren tentang Syaikhona Kholil Bangkalan. Dikisahkan, tiga orang datang kepada beliau dengan persoalan yang berbeda. Orang pertama mengeluhkan kemiskinan, orang kedua belum dikaruniai anak, dan orang ketiga mengeluhkan musim kemarau yang panjang. Menariknya, kepada ketiganya beliau memberikan jawaban yang sama: perbanyaklah istighfar.

Kisah ini sering disampaikan para ulama sebagai pelajaran tentang luasnya keberkahan istighfar, meskipun bentuknya merupakan hikayat yang populer dalam tradisi pesantren, bukan riwayat hadis yang berdiri sendiri. Pesannya tetap sangat mendalam: ketika hubungan kita dengan Allah diperbaiki, sering kali jalan keluar dari berbagai persoalan pun mulai dibukakan.

Alhamdulillah dan Shalawat: Menambah Nikmat dan Membuka Keberkahan

Selain istighfar, kalimat Alhamdulillah juga layak menjadi teman sepanjang hari. Sering kali kita lebih mudah menghitung pekerjaan daripada menghitung nikmat. Padahal Allah telah berjanji, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7).

Baca Juga: Jangan Biarkan Hati Lelah karena Terus Berlari Mengejar Penilaian Manusia

Mengucapkan Alhamdulillah bukan hanya ucapan di lisan, tetapi latihan pikiran untuk melihat apa yang masih kita miliki, bukan hanya apa yang belum kita capai. Dalam psikologi positif, kebiasaan bersyukur terbukti membantu meningkatkan kesejahteraan psikologis, mengurangi stres, dan membuat seseorang lebih optimis menghadapi kehidupan.

Begitu pula dengan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Saya masih mengingat nasihat KH. Amir Jamiluddin, Pengasuh Pondok Pesantren Putri Walisongo Cukir. Beliau sering berpesan agar memperbanyak shalawat dalam keadaan apa pun. Menurut beliau, shalawat adalah amalan yang penuh keberkahan dan menjadi sebab datangnya keselamatan dunia maupun akhirat.

Betapa indahnya amalan ini. Kita mengirimkan shalawat kepada Rasulullah Saw., tetapi Allah justru melimpahkan rahmat kepada kita. Rasulullah bersabda bahwa siapa yang bershalawat kepadanya satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Bukankah itu keuntungan yang luar biasa?

Dari Rutinitas Menjadi Investasi Akhirat

Barangkali pekerjaan rumah tangga tidak pernah masuk daftar profesi bergengsi. Tidak ada penghargaan tahunan. Tidak ada promosi jabatan. Bahkan sering kali tidak terlihat oleh orang lain. Namun, di sisi Allah, aktivitas yang dilakukan dengan ikhlas dan disertai dzikir bisa berubah menjadi amal yang bernilai.

Lantai yang disapu sambil bertasbih. Pakaian yang dilipat sambil bershalawat. Masakan yang dibuat sambil beristighfar. Semuanya mungkin terlihat biasa di mata manusia, tetapi bisa menjadi luar biasa di sisi Allah.

Baca Juga: Generasi Scroll dan Luntur­nya Semangat Amal Shalih

Mungkin pekerjaan rumah tidak akan berkurang. Besok tetap ada cucian, piring kotor, dan lantai yang perlu dibersihkan lagi. Tetapi hati kita bisa berbeda. Yang semula hanya rutinitas, kini menjadi ibadah. Yang tadinya terasa sia-sia untuk diri sendiri, berubah menjadi investasi akhirat yang terus mengalir. Karena sesungguhnya, yang mengubah nilai sebuah pekerjaan bukan selalu jenis pekerjaannya, melainkan niat dan apa yang kita isi selama mengerjakannya.

Maka, mari kita jadikan setiap sudut rumah sebagai tempat berdzikir. Semoga setiap sapuan, setiap langkah, setiap tetes keringat, dan setiap kalimah thayyibah yang kita rapalkan menjadi saksi bahwa kita pernah mengingat Allah, bahkan di tengah kesibukan paling sederhana sekalipun.



*Robi’ah Machtumah Malayati, Pengajar di Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.