
Di era digital saat ini, kegiatan menggulir layar (sroll) media sosial telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Hampir semua orang, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, sudah terbiasa membuka aplikasi media sosial tanpa tujuan yang jelas, terutama ketika sedang bosan atau ingin mengisi waktu luang. Apa yang awalnya hanya hiburan ringan kini berubah menjadi rutinitas yang sulit dipisahkan dari aktivitas harian. Padahal, seperti dikemukakan Feri Sulianta (2025), kebiasaan ini membawa dampak emosional yang lebih kompleks dibandingkan yang kita bayangkan.
Media sosial menawarkan hiburan cepat melalui foto, video, dan interaksi singkat yang memberi sensasi tenang dalam waktu singkat. Saat seseorang sedang tertekan atau jenuh, aktivitas ini seolah menjadi pelarian yang mudah dan instan. Namun, ketenangan itu bersifat semu. Setelah berhenti menggulir, rasa kosong, tidak nyaman, atau cemas kerap muncul kembali karena masalah utama tidak pernah benar-benar dihadapi. Pada titik inilah kebiasaan scroll dapat menciptakan siklus emosional yang melelahkan.
Baca Juga: Patah Hati Ternyata Plot Twist Terbaik dari Allah
Dalam Islam, waktu adalah amanah dan nikmat yang harus dijaga. Nabi Muhammad Saw., mengingatkan dalam Hadisnya:
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ
“Dua nikmat yang banyak manusia dilalaikan di dalamnya, yaitu: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya waktu luang. Namun, secara ironis, di saat itulah banyak orang biasanya lalai. Kebiasaan untuk menggulir layar tanpa henti menjadi salah satu bentuk ketidakberdayaan zaman sekarang: waktu yang seharusnya dimanfaatkan untuk membaca, beribadah, berdiskusi, atau melakukan kebaikan, perlahan-lahan tersita oleh kegiatan yang tidak memberi manfaat signifikan.
Situasi ini menciptakan apa yang dikenal sebagai “generasi scroll” sekelompok individu yang sangat terhubung dengan dunia digital, tetapi kehilangan semangat untuk berbuat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mereka aktif di media sosial, tetapi kurang aktif dalam interaksi sosial dan spiritual. Seiring bertambahnya waktu yang terbuang, semakin sedikit kesempatan untuk beramal shalih atau meningkatkan kualitas diri.
Baca Juga: Menjaga Hati di Tengah Budaya Oversharing
Dampak Negatif pada Kesehatan Mental dan Fisik
- Mengikis Semangat Amal Shalih
Semakin banyak waktu yang hilang untuk hal-hal sia-sia, semakin sedikit ruang untuk ibadah, belajar, membaca Al-Qur’an, atau menolong sesama. Padahal amal shalih membutuhkan fokus dan kesadaran, bukan pikiran yang terpecah oleh distraksi digital.
- Menumpulkan Hati
Nabi Saw., menyebut hati bisa berkarat seperti besi. Kebiasaan scroll yang dipenuhi hiburan dan kesia-siaan membuat hati sulit menikmati ibadah dan menjauh dari ketenangan spiritual.
- Memicu Rasa Tidak Puas dan Perbandingan Sosial
Melihat kehidupan orang lain yang tampak ideal dapat melemahkan rasa syukur. Islam mengajarkan untuk melihat kepada yang lebih rendah dalam urusan dunia agar tidak meremehkan nikmat Allah.
- Menghabiskan Waktu Tanpa Manfaat (Lahwun/La’b)
Menyia-nyiakan waktu termasuk perbuatan yang tidak dicintai Allah. Menggulir layar berjam-jam tanpa niat dan tujuan termasuk bentuk kelalaian yang dibahas dalam banyak ayat dan hadis.
Baca Juga: Cara Rumi Menghadapi Overthingking dan Doomscrolling
Langkah-langkah Mengatasi Kebiasaan Scroll dalam Islam
- Menata Niat dan Kesadaran (Tajdīd an-Niyyah)
Ketika membuka ponsel, tanyakan pada diri sendiri: “Apa tujuan saya?”
Islam mengajarkan bahwa setiap amal tergantung niatnya. Niat yang jelas mencegah seseorang terseret ke scroll tanpa arah.
- Menetapkan Batasan Waktu (Al-Waqt Muhasabah)
Atur durasi khusus, misalnya 15–20 menit, dan gunakan pengingat. Ini bentuk pengelolaan waktu yang selaras dengan konsep muhasabah dalam Islam.
- Mengisi Waktu Senggang dengan Dzikir dan Membaca Al-Qur’an
Ini obat dasar yang diajarkan Nabi SAW untuk menenangkan hati. Setiap kali ingin scroll karena gelisah, alihkan ke dzikir ringan seperti subhanallah atau astaghfirullah.
- Mengutamakan Amal Kecil namun Konsisten
Nabi Saw., bersabda:
“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang konsisten meskipun sedikit.” Mengganti sebagian waktu scroll dengan amal kecil seperti, membaca satu halaman Qur’an, sedekah digital, atau shalat sunnah sudah menjadi bentuk perbaikan besar.
- Menghindari Waktu-waktu Genting dari Media Sosial
Seperti setelah bangun tidur, sebelum tidur, atau saat sedang emosi. Pada waktu seperti ini, seseorang lebih mudah terdorong ke scroll impulsif.
Baca Juga: Loquor Ergo Sum: Eksistensi, Lisan, dan Marwah Ulama di Era Digital
- Mengikuti Majelis Ilmu atau Konten Islami yang Terarah
Jika tetap ingin memakai media sosial, pilih konten yang menambah pengetahuan, iman, dan wawasan.
- Memperbanyak Aktivitas Nyata
Islam mendorong aktivitas fisik, silaturahmi, tolong-menolong, dan karya nyata. Mengalihkan sebagian waktu ke kegiatan tersebut membantu memutus siklus scroll.
Fenomena generasi scroll bukan hanya persoalan teknologi, tetapi persoalan pengelolaan waktu dan hati. Islam hadir dengan panduan yang jelas tentang pentingnya menjaga waktu sebagai nikmat Allah. Dengan menyadari dampak kebiasaan scroll dan menerapkan langkah-langkah islami untuk mengendalikannya, setiap orang dapat kembali menghidupkan semangat amal shalih, menata hati, dan memperbaiki kualitas hidup secara spiritual maupun sosial.
Penulis: Ibnu Ubaidillah
Editor: Rara Zarary


















