Menata Gejolak Batin Melalui Tingkatan Nafs

13

Penulis: Syifa Aliyya Nafi Azmi*

Kita hidup di zaman yang serba tersedia. Amarah bisa diluapkan hanya dengan satu ketikan di kolom komentar. Kekecewaan dapat ditumpahkan melalui satu unggahan story. Kegelisahan pun seolah bisa ‘diobati’ dengan scrolling tanpa henti hingga larut malam. Semuanya terasa mudah dan instan. Namun, mengapa setelah itu hati justru terasa semakin lelah, dan kekosongan yang kita rasakan tidak benar-benar hilang?

Pernahkah Anda merasa menyesal setelah meluapkan emosi? Namun pernahkah Anda juga menyesal apabila menyimpan dan memendam amarah tersebut? Dua-duanya menyakitkan dan pernah kita alami. Perang batin seperti ini banyak dialami oleh kita terutama di tengah kehidupan yang serba cepat dengan informasi yang menumpuk. Notifikasi tak berhenti, ekspektasi terus bertambah, sementara ruang untuk diam dan merenung semakin sempit. Wajar kalau batin kita sering kelelahan.

Baca Juga: Mengenal Tazkiyatun Nafs, Kunci Penyucian Hati dan Mendekatkan Diri kepada Allah

Dalam Psikologi Islam dan tradisi tasawuf, dikenal konsep tingkatan nafs, yaitu kondisi-kondisi jiwa yang menggambarkan perjalanan batin manusia dalam mengendalikan dorongan, emosi, dan kesadaran diri.

Tingkatan pertama yaitu Nafs Amarah. Nafs amarah merupakan kondisi saat jiwa kita mudah menyerah pada ego dan emosi buruk. Dalam bahasa psikologi, ini adalah momen ketika kita gagal mengontrol diri dan hanya mencari kesenangan instan. Contohnya sangat dekat dengan keseharian kita: menulis komentar pedas di media sosial saat emosi, atau belanja berlebihan dengan dalih self-reward padahal uang saku sudah menipis.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Saat berada di fase ini, pikiran jernih kita biasanya tertutup oleh ego sesaat. Akibatnya, kita sering kali menyesal belakangan. Pada saat amarah memuncak, tindakan impulsif tersebut mungkin terasa benar dan memuaskan ego, namun pada akhirnya hanya menyisakan penyesalan.

Tingkatan kedua, Nafs Lawwamah. Tingkatan ini merupakan fase transisi yang sering memicu guilt feeling atau rasa bersalah di dalam diri kita. Contohnya, setelah kita kalah oleh kemalasan, seperti begadang nonton film sampai kesiangan salat Subuh dan bolos kuliah, batin kita merasa gelisah dan menyesal: “Kenapa ya aku malas banget kemarin?”

Baca Juga: Negeri Ini Harus Berani Menyembelih Nafsunya Sendiri

Penyesalan ini sebenarnya adalah tanda yang sehat. Artinya, alarm moral di dalam diri kita masih aktif bekerja untuk mengevaluasi tindakan buruk yang sudah kita lakukan. Banyak orang terjebak di fase ini terlalu lama dan berubah menjadi self-blame, yaitu kecenderungan untuk terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Padahal nafs lawwamah seharusnya menjadi batu loncatan untuk memperbaiki diri, bukan alasan untuk terus menyalahkan diri.

Dalam psikologi modern, kemampuan mengenali emosi dan mengendalikan impuls dikenal sebagai self-regulation. Konsep ini memiliki kesamaan dengan proses mujahadah dalam tasawuf, yakni usaha sungguh-sungguh untuk mengendalikan dorongan negatif agar seseorang dapat bertindak secara lebih bijaksana. Kesadaran terhadap kesalahan yang muncul pada fase nafs lawwamah menjadi titik awal penting dalam proses pengendalian diri tersebut.

Tingkatan ketiga sekaligus puncak kedamaian batin ialah Nafs Muthmainnah. Pada tahap ini, kita berada pada kondisi jiwa yang tenang. Di ranah psikologi, fase ini setara dengan kesehatan mental yang sejahtera (well-being). Orang yang sudah mencapai tahap ini punya emosi yang matang. Mereka tidak mudah cemas atau minder saat melihat update kesuksesan orang lain di Instagram, tetap tenang saat menghadapi tumpukan tugas kuliah, dan selalu merasa cukup (qana’ah). Allah sendiri memanggil jiwa yang tenang ini dengan penuh kasih dalam QS. Al-Fajr: 27-28,

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝٢٧ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً ۝٢٨

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha lagi diridhai.” (QS. Al-Fajr: 27–28)

Baca Juga: Logika Hadapi Hawa Nafsu

Ketenangan batin ini tentu tidak datang tiba-tiba. Psikologi mengingatkan bahwa karakter dan perilaku kita terbentuk dari proses belajar dan kebiasaan sehari-hari, bukan dari satu momen pencerahan yang tiba-tiba mengubah segalanya. Dalam tasawuf, proses ini disebut riyadah, yakni latihan spiritual yang dilakukan secara sabar dan konsisten. Mulai dari hal kecil: berhenti sejenak sebelum membalas pesan dengan nada marah, memilih istighfar ketika emosi memuncak, atau sekadar duduk diam sebentar sebelum mengambil keputusan.

Perjalanan dari nafs amarah menuju nafs muthmainnah bukan soal menjadi manusia yang sempurna. Manusia pasti memiliki jalan hidupnya masing-masing. Ada yang saat ini masih di tingkatan nafs amarah, atau bahkan sudah muthmainnah. Yang terpenting adalah kesadaran diri untuk berubah meski sadar untuk mencapai tingkatan tertinggi tersebut pasti harus dengan konsisten dan sabar.

Kesadaran tersebut dapat dimulai ketika kita menyadari bahwa diri sedang dikuasai oleh ego. Alih-alih meluapkannya secara impulsif, kita dapat belajar mengekspresikan emosi dengan cara yang lebih sehat. Ego dan emosi merupakan bagian dari diri manusia yang tidak perlu ditekan sepenuhnya, tetapi perlu dikelola agar tidak berkembang menjadi ledakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Baca Juga: Sembelih Ego

Contoh sederhana yang bisa kita lakukan ialah berhenti sejenak sebelum bereaksi dan merenung sebentar sebelum memutuskan. Karena pada akhirnya, tasawuf dan psikologi Islam sama-sama mengajak kita untuk satu hal: mengenal diri sendiri secara jujur. Jadi, hari ini kita sedang berada di tingkatan yang mana? Sudahkah kita mulai mengenalinya?