Pesan Besar di Balik Perginya Ramadan

73

Bulan Ramadan adalah bulan yang menjadi ladang pahala. Banyak jiwa-jiwa yang yang kembali kepada ketenangan yang sebenarnya. Bulan yang malamnya diisi dengan salat, juga diisi dengan do`a sembari mengakui lemahnya diri. Bulan yang siangnya diisi dengan tilawah al-Quran sembari melawan diri dari lapar dan haus. Bulan yang paling banyak diisi dengan ibadah. Bulan di mana masjid-masjid terisi penuh, bulan yang menjadikan si pelit menjadi si dermawan. Lantas, apa setelah Ramadan usai?

Hari berlalu dan Ramadan pergi berganti Syawal. Namun, ibadah dan ketaatan bagi seorang muslim bukan hanya tergantung pada bulan tertentu. Bahkan sebaliknya, ketaatan dan amal salih adalah sesuatu yang harus senantiasa ada pada diri seorang muslim.Sampai kapan? Sampai kematian datang. Allah ta`ala berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Artinya: “Dan beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang al-yaqin (Kematian)”. (Q.S. Al-Hijr ayat 99)

Ramadan adalah bulan latihan untuk memperbanyak amal di bulan-bulan berikutnya, dan bukan sebagai satu-satunya bulan untuk ketaatan dan beribadah.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Amal Seorang Muslim Antara Diterima dan Ditolak

Di antara tanda diterimanya sebuah amalan adalah berlanjutnya amalan tersebut. Lantas, apakah amalan yang kita lakukan pada saat Ramadan masih berlanjut pada bulan-bulan berikutnya? Betapa indahnya sebuah kebaikan yang diiringi dengan kebaikan setelahnya, dan betapa buruknya kebaikan yang diiringi keburukan setelahnya! Dan sungguh sangat disayangkan jika mulianya ketaatan berganti dengan hinanya kemaksiatan!

Abdul Aziz Bin Abi Rawad berkata: “Aku telah menemui mereka yang bersungguh-sungguh dalam amal salih, dan setelah melakukannya (amal salih) ada sebuah kegelisahan di hati mereka `Apakah yang mereka lakukakan (amal salih) diterima atau tidak?’”

Orang-orang yang khawatir amal ibadahnya tidak diterima akan bersungguh-sungguh dan bersegera menuju ketaatan. Mereka tidak akan puas dan memandang besar kepada amal yang telah mereka lakukan. Allah ta`ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

Artinya: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan (berinfak/beramal), sementara hati mereka merasa takut (khawatir), karena mereka tahu bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.”

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: “يَا عَبْدَ اللَّهِ، لَا تَكُنْ مِثْلَ فُلَانٍ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ”

Artinya: Dari Abdullah Bin `Amr -Radiyallahu `anhumaa- ia berkata: “Rasulullah -Shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda: “Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti si Fulan. Dahulu ia biasa shalat malam, kemudian ia meninggalkan shalat malam.”

Jangan menjadi seperti Fulan, ketika Ramadan selalu membasahi lidahnya dengan bacaan Al-Qur`an dan setelahnya meninggalkan Al-Qur`an! Jangan menjadi seperti Fulan, ketika Ramadan memperbanyak salat malam, namun setelahnya bahkan meninggalkan salat wajib! Jangan menjadi seperti Fulan, ketika Ramadan menginfakkan hartanya, namun setelahnya meninggalkan infaq dan sedekah!

Puasa 6 hari di Bulan Syawal

Puasa Ramadan kemudian diikuti puasa 6 hari di bulan Syawal pahalanya seperti puasa setahun penuh. Hal ini karena satu kebaikan sepadan dengan 10 kebaikan. Dan bagi yang memiliki qadha puasa (puasa ganti) hendaknya memulai dengan mengganti puasanya terlebih dahulu, hal ini melihat keutamaan puasa wajib jika dibandingkan puasa sunnah.

Dan bagi perempuan, sebisa mungkin mengusahakan menyelesaikan qadha puasanya sebelum menemukan hal-hal yang menyibukkannya dan berujung pada tidak digantinya puasa Ramadan sampai datang ramadan berikutnya.

Bulan Ramadan pergi dan berganti, tapi Tuhan Ramadan tetap sama di setiap bulan. Menjadi istiqomah bukan hanya perkara bulan tertentu, tetapi menjadi istiqomah harus dilakukan di setiap saat dan di setiap keadaan.

Baca Juga: Bolehkah Menggabungkan Qadha Puasa Ramadan dan Puasa Syawal?


Penulis: Norma Melani Khaira

Editor: Sutan