Logika Hadapi Hawa Nafsu

Sumber: google.com

Oleh: Muh Sutan*

Mengenal

Topik yang tidak pernah habis dibahas. Sebagai seorang pribadi, terlebih muslim yang baik, akan getol memerangi makhluk yang bernama hawa nafsu. Prof. Quraish Shihab dalam buku “Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat” berpendapat, bahwa kata nafs dalam al-Qur’an mempunyai aneka makna, sekali diartikan sebagai totalitas manusia (QS:5;32), tetapi di tempat lain nafs menunjuk kepada apa yang terdapat dalam diri manusia yang menghasilkan tingkah laku (QS:13;11). Namun, secara umum dapat dikatakan bahwa nafs dalam konteks pembicaraan manusia, menunjuk kepada sisi dalam manusia yang berpotensi baik dan buruk.

Seperti keterangan dalam khutbah yang pernah disampaikan ahli tafsir Tebuireng, KH. Musta’in Syafi’ie menyebut bahwa diksi nafs dalam al-Quran ada dua macam orientasi. Pertama, nafs yang berorientasi materi. Kedua, nafs yang berorientasi immateri. Sebut saja materi, misalnya benda, uang, properti, wanita, dan seterusnya. Immateri seperti pangkat, kekuasaan, pujian, dan seterusnya.

Desain awal penciptaan manusia memang memiliki nafsu. Beda dengan malaikat yang tidak bernafsu. Karena itulah, mengapa derajat manusia dipertaruhkan bisa lebih tinggi dari malaikat. Karena memanajemeni nafsu butuh kecerdasan hati dan logika. Malaikat tidak dibekali untuk hadapi itu.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Merujuk penjelasan Imam al-Ghazali dalam Minhajul Abidin, bahwa nafsu masuk dalam kategori ‘aqabatu al-‘awaiq, rintangan godaan. Ada empat godaan; dunia, makhluk, setan, dan nafsu.  Sikap waspada kepada hawa nafsu karena dua hal; pertama, karena hawa nafsu merupakan musuh dari dalam, bukan musuh dari luar. Kedua, karena hawa nafsu merupakan musuh yang disukai, maka manusia yang mencintainya akan menutup mata terhadap segala aib dirinya.

Menelisik

Kita punya kesepakatan bahwa; setan, iblis, dan nafsu adalah kawan karib yang menghantui setiap amal kita. Amal yang baik, yang sudah berpotensi menuai pahala tapi bisa saja tergelincir saat menghadapi makhluk tadi. Kalau mau berperang atau hadapi musuh; kita harus punya strategi jitu, juga senjata yang mendekati akurasi sempurna. Mari kita belajar. Musuh kita, semuanya tidak kasatmata alias tidak terlihat mata. Bagaimana bisa kita memerangi?

Kalau boleh menyinggung, sebenarnya di mana letak kekuatan setan atau iblis. Coba kita cermati, setan itu punya kemampuan kamuflase atau talbis. Semisal, kita sebagai mahasiswa muslim tidak bakal mau pacaran dengan perempuan yang bercelana pendek sepaha karena dianggap tidak islami. Maka dia lebih memilih pacar yang berkerudung, karena dianggap lebih islami. Ada yang janggal, apakah perilaku pacaran itu islami? Nah, disini kita kalah. Setan bisa mengkamuflase seakan-akan keburukan bisa menjadi kebaikan.

Dalam kitab at-Tanwir fi isqathi at-Tadbir karya Ibnu Athaillah as-Sakandari, ada ungkapan yang cukup terkenal di kalangan ‘arifin (ahli makrifah);

الشيطان منديل هذه الدار، يمسح به وسخ المعاصي وكل قبيح وخبيث

Jelas dari ‘ibarah di atas menyebut setan hanyalah seperti tisu (di dunia ini), dia mengusap dengan tisu itu lalu mencemarkan kemaksiatan, kejelekan, dan kejahatan.  Jadi, sebenarnya setan tidak punya wewenang banyak dalam mengatur diri kita, tetapi kita harus tetap waspada. Terlepas dari penafsiran kalau setan adalah sifat buruk atau perilaku jahat, perbuatan durhaka, bukan merupakan fisik atau makhluk dengan wujud tersendiri. Sama saja, kita harus waspada.

Melawan

Boleh kita membaca kisah pasca perang Badar, bahwa Rasulullah sudah mengingatkan; “Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran akbar (besar).” Lalu sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar (yang lebih besar) itu wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, “jihad (memerangi) hawa nafsu.”

🤔  Tafsir al-Fatihah

Seorang muslim yang baik, harus selalu positif-thinking. Begitu pun mengenai pertolongan Allah, kita harus percaya. Dalam satu kajian tasawuf, ada satu keterangan kitab Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari:

مَنْ اسْتَغْرَبَ أَنْ يُنْقِذَهُ اللهُ مِنْ شَهْوَتِهِ وَأَنْ يُخْرِجَهُ مِنْ وُجُوْدِ غَفْلَتِهِ فَقَدْ اسْتَعْجَزَ الْقُدْرَةُ الْإِلَهِيَّةِ : وَكَانَ اللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا

Barangsiapa yang menganggap aneh saat Allah menyelamatkannya dari syahwatnya, dan menganggap aneh saat Allah mengeluarkannya dari wujud lupa dirinya. Maka dia menganggap lemah pada kekuasaan ke-Ilahi-an. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Bagaimanapun kita dekat dengan nafsu syahwat, tapi jika kita menyangka bahwa kita tidak bisa selamat dari syahwat, berarti menganggap Tuhan itu lemah. Ini logika yang ditawarkan Hikam.

Ada cara dari Sayyidina Umar r.a. menghadapi syahwat; semisal kita melihat perempuan atau janda cantik, itu menjadikan kita syahwat. Maka tanggapan Sayyidina Umar, “Biarkanlah syahwatmu itu, yang terpenting kamu berzina. Justru karena kamu mempunyai syahwat itu, dan berhasil tidak melakukan zina, maka itu akan menjadi pahalamu meninggalkan perkara mungkar.”

Karena logikanya, Allah tidak akan menulis “pahala meninggalkan zina” kamu terhadap kerbau atau sapi, karena memang kita tidak bersyahwat kepada hal itu. Tapi Allah akan menulis pahala “meninggalkan zina” karena kita punya syahwat terhadap suatu perkara tersebut (perempuan tadi, misalnya). Untuk contoh lain, misalnya terhadap uang, dan seterusnya. Syahwat itu bisa dikelola (atau kita kekang), sebagai pengingat bahwa kita ini manusia.

Kalau mengambil cara berpikir Ihya’ lebih rasional lagi. Hidup kita tidak bisa selamat itu karena cara berpikir kita dengan durasi khayal. Misalnya, sekarang umur kita 25 tahun, lalu kita bayangkan umur kita sampai 60 tahun, sehingga kita membayangkan ‘tidak mungkin aku bisa lepas dari syahwat dalam durasi sekian panjang’. Tetapi, jika kita yakin bisa selamat dari syahwat itu boleh jika demi Tuhan semata, bisa saja detik itu juga kita mati (tidak dalam keadaan menuruti syahwat). Jadi orang yang menganggap tidak bisa selamat dari syahwat itu karena khayal (kehidupan) dia anggap masih panjang. Jelas anggapan ini memberatkan sekali.

Seperti keterangan dari KH. A. Bahauddin Nursalim (ahli al-Quran dari Rembang)menyebut bahwa kitab Hikam juga pernah memberi komentar tentang hal ini, ‘jika kamu pernah maksiat, yakinlah itu maksiatmu yang terakhir. Agar kamu bisa husnudzon kepada Allah’. Begitu juga kalau kamu melakukan taat, yakinlah bahwa itu taat kita yang terakhir (jika tiba kematian sewaktu-waktu). Tapi kita ini tidak seperti itu, orang yang disebut saleh (diri kita) membayangkan bahwa maksiat itu masih ada durasi waktu panjang kedepan. Itu namanya saleh amatir, orang saleh kok membayangkan hidup panjang. Kalau saleh sungguhan, maka;

وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا

Juga perkataan Ibn Umar yang masyhur;

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُوْلُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ

Seperti itu, beberapa keterangan yang dapat dihimpun oleh penulis. Kurang-lebih, semoga kita selalu mendapat perlindungan Allah Swt. wallahu a’lam.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari.