Isra Mikraj, Momentum Memperbaiki Shalat Menjelang Ramadan

10
Puncak acara Haul ke-15 Gus Dur (Abdurrahman Wahid) digelar di Pesantren Tebuireng, Ahad malam (22/12/2024) bada Isya’. Dalam salah satu sambutan, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) menceritakan sosok Gus Dur. Foto: tebuireng.online
Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Machfudz (Gus Kikin) saat acara Haul Gus Dur. (Foto: tebuireng.online)
Melaksanakan shalat dengan baik bukanlah perkara mudah. Banyak orang mampu mendirikan shalat, tetapi belum tentu mampu menghadirkan kekhusyukan dan kesadaran penuh di dalamnya. Oleh sebab itu, peringatan Isra Mikraj menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi diri.

Alhamdulillah, setiap tahun umat Islam kembali dipertemukan dengan rangkaian bulan-bulan istimewa yang mengantarkan menuju Ramadan. Salah satu momentum penting dalam perjalanan spiritual tersebut adalah peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad saw. yang diperingati setiap tanggal 27 Rajab. Jika dihitung, peristiwa ini berlangsung kurang lebih tiga puluh tiga hari sebelum datangnya bulan Ramadan. Setelah Isra Mikraj, umat Islam akan memasuki pertengahan bulan Sya’ban melalui peringatan Nisfu Sya’ban, lalu berjumpa dengan Ramadan yang penuh keberkahan.

Baca Juga: Menjaga Spirit Ramadan dan Menjadi Santri Sejati

Rangkaian waktu ini tentu bukan kebetulan. Ada hikmah besar yang dapat dipetik oleh umat Islam. Isra Mikraj hadir sebagai pengingat agar setiap muslim mempersiapkan diri menyambut Ramadan dengan memperbaiki kualitas ibadah, terutama shalat.

Isra Mikraj merupakan salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah Islam. Pada malam yang agung itu, Nabi Muhammad saw. melakukan perjalanan luar biasa dan menerima secara langsung perintah shalat dari Allah Swt. Awalnya, kewajiban shalat diperintahkan sebanyak lima puluh kali dalam sehari semalam. Atas saran Nabi Musa as., Rasulullah saw. memohon keringanan kepada Allah hingga akhirnya ditetapkan menjadi lima kali sehari.

Peristiwa tersebut menunjukkan betapa pentingnya kedudukan shalat dalam Islam. Shalat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan secara langsung kepada Rasulullah saw. di Sidratul Muntaha. Karena itulah shalat bukan sekadar kewajiban, melainkan sarana utama membangun hubungan seorang hamba dengan Allah Swt. Shalat merupakan tiang agama yang menjadi fondasi kehidupan seorang muslim.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Baca Juga: Resolusi Jihad dan Spirit Kebangsaan untuk Generasi Bangsa

Namun demikian, melaksanakan shalat dengan baik bukanlah perkara mudah. Banyak orang mampu mendirikan shalat, tetapi belum tentu mampu menghadirkan kekhusyukan dan kesadaran penuh di dalamnya. Oleh sebab itu, peringatan Isra Mikraj menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi diri. Menjelang Ramadan, setiap muslim perlu bertanya kepada dirinya sendiri: sudahkah shalat yang dilakukan sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.? Sudahkah shalat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah?

Masih ada waktu sekitar satu bulan sebelum Ramadan tiba. Kesempatan ini seharusnya digunakan untuk memperbaiki kualitas shalat sedikit demi sedikit. Sebab Ramadan adalah bulan yang penuh limpahan pahala dan rahmat Allah. Akan sangat disayangkan jika seseorang memasuki Ramadan tanpa terlebih dahulu memperbaiki ibadah yang paling mendasar.

Dalam sebuah hadis yang sangat terkenal, Malaikat Jibril pernah datang ke hadapan Rasulullah saw. dan bertanya tentang Islam, iman, dan ihsan. Ketika ditanya tentang ihsan, Rasulullah menjawab:

“An ta’budallaha ka-annaka tarahu, fa illam takun tarahu fa innahu yaraka.” Artinya, beribadahlah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Allah melihatmu.

Inilah hakikat ihsan yang semestinya hadir dalam setiap shalat. Ketika seseorang berdiri menghadap Allah, ia harus berusaha menghadirkan kesadaran bahwa dirinya sedang berhadapan dengan Sang Pencipta. Jika kesadaran seperti ini dapat dibangun, maka shalat tidak lagi menjadi rutinitas yang dilakukan tanpa makna, melainkan menjadi ibadah yang hidup dan menghadirkan kedekatan spiritual.

Baca Juga: Santri, Ulama, dan Kemerdekaan

Shalat yang baik akan melahirkan perubahan dalam perilaku. Allah Swt. menegaskan bahwa shalat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Oleh karena itu, kualitas akhlak seseorang sering kali berkaitan erat dengan kualitas shalatnya. Ketika shalat semakin baik, kehidupan seseorang pun akan semakin terarah menuju kebaikan.

Setelah Isra Mikraj, umat Islam juga akan memasuki Nisfu Syakban. Momentum ini menjadi kesempatan untuk menenangkan hati dan mempersiapkan diri menyambut Ramadan. Dalam tradisi umat Islam, Nisfu Syakban dipahami sebagai waktu untuk memperbanyak doa, memohon ampunan, dan membersihkan hati sebelum memasuki bulan suci.

Dengan demikian, Isra Mikraj dan Nisfu Syakban sesungguhnya merupakan rangkaian persiapan menuju Ramadan. Isra Mikraj mengingatkan pentingnya memperbaiki shalat, sedangkan Nisfu Syakban menjadi momentum memperbaiki hati dan memperbanyak istighfar. Keduanya mengantarkan umat Islam memasuki Ramadan dengan kesiapan yang lebih baik.

Bagi para santri, pesan ini menjadi sangat penting. Shalat hendaknya dilakukan dengan penuh konsentrasi dan kesungguhan. Jangan sampai shalat dilakukan sambil melamun atau membiarkan pikiran mengembara ke mana-mana. Shalat yang khusyuk menuntut kehadiran hati dan kesadaran penuh terhadap setiap bacaan dan gerakan yang dilakukan.

Peringatan Isra Mikraj bukan sekadar acara seremonial tahunan. Ia adalah panggilan untuk melakukan perbaikan diri. Momentum ini mengajak setiap muslim untuk menata kembali kualitas ibadahnya sebelum memasuki Ramadan. Harapannya, setelah menyelesaikan pendidikan dan kehidupan di pesantren, para santri tumbuh menjadi pribadi-pribadi saleh yang menjadikan shalat sebagai fondasi utama dalam kehidupan mereka.

Baca Juga: Menjaga Warisan Sanad

Semoga melalui peringatan Isra Mikraj, hati kita semakin dekat kepada Allah Swt., shalat kita semakin baik, dan kita dapat menyambut Ramadan dengan kesiapan spiritual yang lebih matang. Dengan demikian, berbagai keberkahan dan kemurahan Allah yang tersedia di bulan Ramadan dapat diraih secara maksimal.



*Disusun dari tausiah pada peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad saw. di Pesantren Tebuireng, 19 Januari 2026.