Tokoh Sentral Pesantren dan Komando Tertinggi Laskar Hizbullah

232
Ilustrasi (istimewa)

Kepemimpinan Laskar Hizbullah secara eksklusif didominasi oleh tokoh-tokoh ulama pesantren. Otoritas mereka tidak hanya berasal dari hierarki militer formal Jepang, tetapi diperkuat oleh status keulamaan, menciptakan model komando ganda yang sangat efektif dalam mobilisasi massa. Salah satu tokoh sentral dalam struktur komando Laskar Hizbullah adalah KH Zainul Arifin. Beliau diangkat sebagai Panglima Tertinggi Laskar Hizbullah. Dengan posisi ini, tanggung jawabnya meluas untuk mengoordinasikan dan menggerakkan ribuan pejuang dari berbagai daerah.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, peran KH Zainul Arifin menjadi semakin krusial. Beliau dengan cepat mengorganisir dan memimpin laskar-laskar Hizbullah dan Sabilillah untuk mempertahankan kemerdekaan. Beliau memimpin pasukannya dalam berbagai pertempuran sengit melawan tentara Sekutu (Inggris) dan Belanda (NICA) yang berusaha kembali menduduki Indonesia. Pasukan yang dipimpinnya aktif dalam pertempuran di sekitar Jakarta dan Jawa Barat. Pasukan Hizbullah yang terdiri dari para santri dan pemuda Muslim menunjukkan keberanian luar biasa dalam menghadapi senjata modern musuh.

Baca Juga: Genealogi Pesantren dan Warisan Kiai

KH Zainul Arifin dikenal sebagai pemimpin yang karismatik, mampu membakar semangat juang pasukannya dengan pidato yang membangkitkan nasionalisme dan keimanan. Setelah masa revolusi, beliau melanjutkan karier di lembaga legislatif, sempat duduk sebagai anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP) pada awal kemerdekaan, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS) sejak tahun 1950 hingga 1953, dan kemudian terpilih sebagai Wakil Ketua DPR. Atas jasa-jasanya, beliau dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui SK Presiden Republik Indonesia No.35 Tahun 1963.

Tokoh ulama lainnya adalah KH Masjkur. Beliau berasal dari Singosari Malang, dan dibesarkan dalam tradisi Islam yang kuat, menimba ilmu di beberapa pesantren terkemuka seperti Pesantren Bungkuk Malang, Kiai Kholil Bangkalan, Siwalan Sidoarjo, Tebuireng Jombang, hingga Jamsaren Solo. Latar belakang pesantrennya memberikan legitimasi kuat di kalangan santri dan masyarakat Muslim.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

KH Masjkur dikenal luas sebagai salah satu pendiri PETA (Pembela Tanah Air) dan pejuang Barisan Sabilillah. Perannya sangat signifikan dalam Pertempuran Surabaya melawan Sekutu pada November 1945. Beliau adalah tokoh agama yang memiliki koneksi dekat dengan Presiden Sukarno. Peran ganda beliau sebagai ulama dan milisi menunjukkan betapa ulama Islam tidak hanya memimpin secara spiritual tetapi juga mengambil peran langsung dalam komando militer, memastikan bahwa gerakan perlawanan memiliki legitimasi ganda, baik di mata agama maupun nasionalisme.

Selain Panglima Tertinggi, terdapat ulama operasional yang memimpin pertempuran di tingkat regional, memperkuat jaringan Hizbullah di seluruh Jawa. KH Hasyim Latief (Jawa Timur), Dikenal sebagai Komandan Tempur Hizbullah yang beroperasi di Jawa Timur. Beliau memimpin Laskar Hizbullah Divisi Sunan Ampel, yang kemudian diorganisir menjadi Resimen 293. Peran Resimen 293 sangat penting dalam masa transisi pasca-kemerdekaan.

Resimen ini terlibat aktif dalam operasi penumpasan pemberontakan PKI di Madiun pada tahun 1948. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa Hizbullah bukan hanya kekuatan anti-kolonial, tetapi juga kekuatan yang loyal terhadap pemerintah pusat dalam menghadapi ancaman domestik. Setelah penumpasan PKI, Resimen 293 diperkecil menjadi dua batalyon, yakni Batalyon 42 Diponegoro dan Batalyon 39 Condromowo, dengan pangkat terakhir Hasyim Latief sebagai Dan Ki Letnan I.

KH Saifuddin Zuhri (Jawa Tengah), beliau merupakan tokoh sentral pergerakan Laskar Hizbullah di Jawa Tengah, khususnya di Karesidenan Banyumas antara 1944-1949. Keterangan dari Kiai Saifuddin Zuhri sangat krusial dalam memahami proses peleburan laskar. Beliau terlibat dalam perundingan tingkat tinggi antara pimpinan kelaskaran dengan pemerintah mengenai integrasi Hizbullah ke dalam TNI.

Baca Juga: Pesantren Tebuireng Tegaskan Peran Santri dalam Mengawal Indonesia Menuju Peradaban Dunia

Kiai Noer Ali (Bekasi), memimpin Laskar Hizbullah Bekasi. Bersama pasukannya, beliau berhasil menghadapi serangan Sekutu dan memenangkan pertempuran penting di wilayah Bekasi. Kemenangan ini membuktikan kemampuan tempur Hizbullah yang signifikan meskipun seringkali hanya menggunakan persenjataan sederhana.

Tokoh-tokoh ini membuktikan bahwa Laskar Hizbullah memiliki struktur komando yang berbasis pada otoritas spiritual ulama, yang secara efektif mengorganisir perlawanan bersenjata di seluruh Jawa. Mereka mampu memastikan bahwa loyalitas pasukan santri tertuju kepada agenda revolusi nasional yang dipayungi oleh semangat keagamaan, menjadikannya kekuatan militer yang sangat efektif dalam mempertahankan kemerdekaan.

Manifestasi Perjuangan Jaringan Pesantren

Laskar Hizbullah dengan cepat menjadi kekuatan yang tersebar luas dan memiliki dampak signifikan dalam Revolusi Fisik Indonesia, memanfaatkan jaringan pesantren sebagai basis otonom. Setelah pembentukan resminya, Barisan Hizbullah berkembang dengan cepat, di mana semua kabupaten di Indonesia membentuk Hizbullah, mencakup wilayah di Jawa dan Madura. Contoh-contoh regional mencakup Hizbullah Surabaya, Hizbullah Gresik, Hizbullah Kediri, Hizbullah Jember, dan Hizbullah Jombang. Penyebaran organisasi yang luas ini, segera setelah inisiasi nasional, mencerminkan otonomi regional yang kuat yang dikoordinasikan melalui jaringan pesantren.

Dalam perkembangannya, Hizbullah yang terbentuk di daerah-daerah ini mulai membentuk resimen-resimen baru. Sebagai contoh, Divisi Sunan Ampel yang berbasis di Jawa Timur bertransformasi menjadi Resimen 293. Keberhasilan regional ini menunjukkan bahwa Hizbullah berfungsi efektif sebagai otoritas militer de facto di wilayah-wilayah yang belum sepenuhnya dijangkau oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang baru terbentuk, mengisi kekosongan militer setelah kekalahan Jepang.

Baca Juga: Santri, Ulama, dan Kemerdekaan

Kontribusi Laskar Hizbullah di garis depan Pertempuran Surabaya pada Oktober-November 1945 adalah bagian yang tak terpisahkan dari sejarah perjuangan. Laskar Hizbullah, yang dikomandoi oleh para ulama, berjuang mempertahankan kemerdekaan di Surabaya. Peran Laskar Hizbullah dalam Perang 10 November terbukti menjadi bagian dari pasukan yang secara gigih melawan pasukan Sekutu. Keterlibatan ini menyoroti kontribusi besar Laskar Hizbullah yang bergerak dengan kekuatan lahir batin serta mental baja untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Semangat para pejuang Laskar Hizbullah ini didorong oleh fatwa Resolusi Jihad yang digelorakan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Resolusi ini menjadi pemantik dan menginspirasi para pejuang untuk terjun ke medan pertempuran. Pertempuran November 1945 di Surabaya menjadi bukti nyata perjuangan ulama dan santri, yang tergabung dalam Hizbullah dan Sabilillah, demi tegaknya negara. Mereka adalah salah satu kelompok penting pada masa perjuangan bangsa Indonesia, yang perjuangannya terkadang tidak banyak diungkap dalam historiografi.

Laskar Hizbullah memainkan peran penting di garis depan pertempuran melawan Sekutu dan Belanda di berbagai lokasi. Di Jawa Barat, Laskar Hizbullah di Garut tercatat memiliki peran krusial dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia antara tahun 1945 hingga 1948. Secara lebih spesifik, di Bekasi, Kiai Noer Ali dan pasukannya mampu menghadapi serangan Sekutu dan memenangkan pertempuran yang terjadi, menunjukkan bahwa pelatihan militer yang mereka terima efektif dalam menghadapi kekuatan militer yang lebih modern.

Transisi menjadi Tentara Nasional Indonesia

Transisi Laskar Hizbullah menjadi bagian integral dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) diputuskan dalam sebuah konferensi penting. Konferensi Laskar Hizbullah se-Jawa dan Madura di Yogyakarta mencapai keputusan aklamasi bahwa Laskar Hizbullah akan bergabung ke dalam TNI.

Proses peleburan ini sangat kompleks dan memerlukan perundingan tingkat tinggi, di mana Kiai Saifuddin Zuhri tercatat berperan penting. Pemerintah menetapkan bahwa kesatuan-kesatuan Laskar Hizbullah dilebur dalam kesatuan setingkat brigade, resimen, batalyon, dan seksi pasukan dalam organisasi TNI. Sebagai contoh, Resimen 293 (Divisi Sunan Ampel) diperkecil dan dilebur menjadi dua unit profesional, yakni Batalyon 42 Diponegoro dan Batalyon 39 Condromowo.

Penting untuk dicatat bahwa proses integrasi ini melibatkan penyaringan. Berdasarkan keterangan Kiai Saifuddin Zuhri, tidak semua anggota kelaskaran dilebur dalam TNI. Ini menunjukkan bahwa terdapat proses filterisasi untuk menyesuaikan standar dan kebutuhan militer profesional yang baru. Setelah mengalami perubahan status yang mendasar, anggota Hizbullah secara perlahan dapat menyesuaikan diri sebagai pejuang profesional dengan semangat juang yang terus menyala. Proses ini merupakan negosiasi identitas yang krusial: bagaimana mempertahankan spirit santri pejuang dan nilai-nilai jihad dalam struktur militer negara yang sekuler.

Baca Juga: Sebagai Santri Kami Bangga dengan Sikap Ta’dzim pada Kiai

Meskipun Laskar Hizbullah sebagai organisasi militer independen berakhir setelah dilebur ke dalam TNI, warisan dan pengaruhnya tetap hidup. Warisan historis utamanya terletak pada sintesis antara semangat jihad yang berakar pada pesantren, nasionalisme yang kuat, dan kedisiplinan militer yang dipelajari dari Jepang.

Banyak tokoh dan kader Hizbullah melanjutkan karier mereka, baik dalam militer profesional maupun politik, menjamin keberlanjutan pengaruh ulama dalam peta kekuasaan Republik. KH Zainul Arifin menjadi tokoh kunci di lembaga legislatif, sementara kader-kader operasional Hizbullah mengisi unit-unit baru dalam TNI, memastikan bahwa loyalitas dan basis moral spiritual pesantren tetap menjadi sumber kekuatan bagi angkatan bersenjata.

Laskar Hizbullah adalah bukti nyata kontribusi ulama yang tidak hanya terbatas pada domain spiritual atau politik, tetapi juga secara langsung terlibat dalam pembentukan fondasi fisik dan profesional angkatan bersenjata Republik Indonesia.

Genealogi pesantren, kiai dan santri dalam perjuangan fisik masa revolusi kemerdekaan serta terbentuknya Tentara Nasional Indonesia (TNI), bahkan tercapainya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak akan terputus bahkan hilang meski tidak ramai tercatat dalam historiografi perjalanan bangsa ini.

Selamat Hari Santri Nasional (HSN). Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia.



Penulis: Muhammad Arief Albani, Penasehat PW IKAPETE PAPUA
Editor: Rara Zarary