
Tebuireng.Online– Santri Madrasah Muallimin Hasyim Asy’ari Tebuireng menggelar seminar umum metodologi dasar Bahtsul Masail di Aula Lantai 1 Gedung Yusuf Hasyim, Jumat (24/10/2025).
Kegiatan ini menghadirkan narasumber KH. Muhibbul Aman Aly, ulama terkemuka dari Pasuruan yang dikenal luas sebagai aktivis Bahtsul Masail di lingkungan pesantren. Beliau juga menjabat sebagai Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Besuk, Kejayan, Pasuruan.
Baca Juga: Menggemakan Bahtsul Masail Multdisipliner, Interdisipliner, dan Transdisipliner (Bagian I)
Dalam sambutannya, Ustadz Yunus Hamid, Kepala Madrasah Muallimin Hasyim Asy’ari Tebuireng, menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu membangkitkan kembali semangat kajian Bahtsul Masail di lingkungan Pesantren Tebuireng yang mulai berkurang dalam beberapa tahun terakhir.
“Kita semua bersyukur bisa hadir dalam forum metodologi dasar Bahtsul Masail ini. Beberapa tahun belakangan, kegiatan semacam ini mulai kendor di sekitar kita. Namun dengan semangat para santri Muallimin, masih ada harapan besar Bahtsul Masail dapat kembali berkembang di Tebuireng,” ujarnya.
Ustadz Yunus juga mengingatkan, pada masa lalu, forum Bahtsul Masail di Pesantren Tebuireng pernah sangat maju berkat peran KH. Ishom Hadziq (Gus Ishom) yang dikenal memiliki penguasaan mendalam terhadap kitab kuning.
“Dulu di Tebuireng, Bahtsul Masail berkembang pesat lewat lembaga Majmu‘ Buhlus. Sekitar tahun 1990-an, ketika almarhum KH. Ishom Hadziq pulang dari Pondok Lirboyo, beliau kembali menghidupkan semangat Bahtsul Masail melalui program kutub turats. Bahkan KH. Yusuf Hasyim sempat ingin mengembalikan Tebuireng ke suasana salaf seperti di masa Mbah Hasyim,” tuturnya mengenang.
Baca Juga: Menggemakan Bahtsul Masail Multidisipliner, Interdisipliner, dan Transdisipliner (Bagian II)
Lebih lanjut, beliau berharap para santri Muallimin dapat menjadi generasi penerus yang bertanggung jawab terhadap kajian kitab dan kegiatan ilmiah di Tebuireng.
“Kami berharap para santri Muallimin inilah yang kelak menjadi penanggung jawab penuh kajian kitab di Tebuireng. Sebab, jika tidak ada kegiatan keilmuan di pesantren, menurut Gus Sholah, Tebuireng hanya akan menjadi tempat besar karena sejarah dan makam para masyaikh di belakangnya,” pesan beliau.
Melalui kegiatan ini, para santri diharapkan tidak hanya memahami metodologi dasar Bahtsul Masail, tetapi juga mampu menghidupkan kembali tradisi ilmiah pesantren yang telah menjadi ciri khas Tebuireng sejak masa KH. Hasyim Asy’ari.
Pewarta: Dimas Setyawan Saputro
Editor: Rara Zarary


















