Franky: Hujan dan Selimut

172
Kisah Franky (ilustrasi: ai/ra)

Franky lahir di rumah yang nadanya selalu berirama dua: hujan yang bertindak dan selimut yang bicara. Ayahnya adalah hujan, diam, tiba-tiba basah, menoreh jejak; ibunya adalah selimut, hangat, menutup, menenggelamkan gaduh menjadi napas. Di bawah langit semacam itu, dingin bukan cacat; dingin adalah bahasa. Hujan berbicara lewat langkah; selimut membalas lewat kata.

Suatu sore, hujan turun seperti pendulum yang tak mau berhenti. Jalanan mengkilap seperti cermin yang pecah halus. Franky, bocah dengan wajah yang mudah cemberut, menempel di ambang jendela memohon sesuatu yang pada zamannya terasa seperti kebutuhan esensial: sekotak es krim. Keinginannya sederhana namun mutlak, seolah mata akan selalu bersih bila es krim itu tidak hadir.

Ibu menengahi kegundahan dengan suara yang menurun, lembut seperti kain katun yang menyingkap tirai: “Anak sholehh… sabar yaa. Ini kan masih hujan. Orang sabar pahalanya besar….” Nada itu bukan sekadar kata; ia adalah ventilasi udara dalam ruangan yang mulai kepanasan. Franky mereda, tetapi derit pintu dan langkah kaki di teras mengabarkan, jawaban lain, lima menit kemudian.

****

Ayah masuk, basah, jaketnya menetes, dan di tangannya ada kantong plastik yang berisi apa yang diminta. Ia meletakkan kantong itu di meja tanpa klaim, tanpa ancang-ancang. Jejak air menetes ke lantai seperti tanda bahwa sesuatu telah terjadi. Frangky menatap kantong itu, menatap ayahnya, lalu memahami: cinta ayah tidak berteriak; ia meninggalkan bukti.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Ayah kok gak bilang dulu?” tanya Franky, setengah protes, setengah kagum.

Ayah tersenyum tipis, menyeka rambut yang tak lagi sebanding dengan jaketnya. “Hujan kadang cukup bicara lewat langkah,” katanya, suaranya pendek seperti sendok menepuk mangkuk.

****

Di rumah itu, kata dan langkah tidak selalu seirama; mereka bergantian memainkan peran. Ibu mengajarkan Franky bahwa kata yang baik mampu menambal luka kecil.

Ketika perebutan remote dengan adik hampir berubah jadi perang saudara, ibu datang dengan kata yang menenangkan: “Anak-anak sholehh… udah ya, jangan berantem. Aa ngalah ya…” Ibu melanjutkan dengan nada ceria yang sedikit bercanda “Nanti mamah beliin remot sepuluh…!”

Kalimat itu menjatuhkan tombol kemarahan. Remote, simbol kendali kecil, mendadak kehilangan beratnya. Dari ibu, Franky belajar bahwa tutur yang terukur mencegah bekas luka yang lama sembuhnya.

Ayah mengajarkan sesuatu yang lain: aksi yang tepat waktu.

Suatu hari, selepas kontrol rutin kakek dari rumah sakit, kami melewati penjual durian. Kakek adalah sosok pecinta durian sejak dulu. Kakek meminta berhenti, “Nanti di depan berhenti dulu yaa, sudah lama gak makan durian.” Kata kakek di kursi belakang.

Ayah berargumen dengan logika kesehatan, bahwa kondisi kakek tidak memungkinkan makan durian. Namun ketika Franky menatap wajah kakek yang menua tapi matanya berbinar seperti anak kecil, ayah menekan rem.

“Kenapa berhenti, ayah? Kan dokter bilang—” Frangky mulai.

Ayah memotong, suaranya tenang. “Ada aturan untuk segala hal. Tapi ada juga waktu ketika hati harus menang. Kalau durian itu membuat kakek tertawa, maka biarkan saja.”

Pelajaran itu masuk ke kepala Franky seperti air yang meresap di tanah kering: fleksibilitas dalam kasih lebih sering jadi bukti hormat daripada kaku menegakkan aturan. Ia mengerti bahwa tidak semua kebaikan harus dikemas dalam logika yang rapi; kadang kebaikan itu spontan, basah, dan berantakan, seperti durian yang manis meleleh di tangan.

****

Seiring waktu berjalan, Franky menyusun aturan hidup dari fragmen-fragmen kecil itu: bicara secukupnya, bertindak cepat saat perlu, dan tahu kapan mengalah demi kebahagiaan bersama.

Kata tanpa aksi terasa hampa; aksi tanpa kata sering kali disalahartikan. Keseimbangan itulah yang membuat rumah mereka adem, sebuah mesin sederhana yang bekerja tanpa sorak-sorai.

Malam-malam rumah itu penuh dengan ritme sederhana. Ibu sering duduk di kursi rotan menenun cerita lewat bisik, sementara ayah memeriksa sudut-sudut halaman, memastikan pagar dikunci rapat. Mereka tidak sempurna. Ayah terkadang salah langkah; ibu kadang lupa menimbang kata. Namun keduanya selalu pulang pada sebuah dasar: memilih apa yang berguna sekarang, bukan apa yang tampak benar di atas kertas.

Franky menyimpan jejak-jejak itu dengan caranya sendiri: ia menaruh remote cadangan di laci bukan sebagai strategi, melainkan sebagai skenario damai; ia mengikat ingatannya pada aroma durian yang hangat dan kelembutan nada ibu. Jejak basah di meja makan menjadi semacam peta, setiap tetesnya mengarahkan dia ke satu pelajaran: cinta bertanya dalam dua bahasa.

****

Percakapan kecil sering menjadi momentum yang mengikat pelajaran itu.

Suatu sore ketika hujan kembali memukul genting, Franky bertanya, “Ayah, kenapa nggak pernah marah dengan lantang? Kenapa mamah selalu nyuruh kita biar tenang?”

Ayah sedikit tertawa, lalu menatap Franky. “Kadang marah itu seperti petir: terang sekali tapi membuat lubang. Ayah memilih basah, bukan petir. Basah untuk menyelesaikan hal, petir lebih sering menakut-nakuti.”

Ibu menimpali, dengan suara yang hangat. “Dan kadang, kata itu seperti selimut: menutupi dingin agar anak bisa tidur. Kita butuh basah yang bertindak dan selimut yang berkata. Dua-duanya adalah kebutuhan.”

Franky menutup mata sejenak, membiarkan kata-kata itu mengendap. Ia merasakan ritme dalam rumahnya; sebuah lagu yang tidak pernah tertulis di partitur, tetapi dimainkan berulang hari demi hari.

Hujan dan selimut, metafora yang kini bukan lagi hanya citraan, melainkan perangkat untuk mengelola kehidupan.

****

Waktu berjalan. Franky tumbuh, menaruh nilai itu ke dalam ransel kehidupannya, ia tidak berisik. Ia lebih memilih kebaikan yang menempel seperti basah di meja makan, sunyi, namun nyata.

Ketika ia membayangkan masa depan, suatu hari memiliki anak yang berebut charger atau remote, ia sudah punya resep: datang cepat seperti hujan, bawa solusi, lalu turunkan nada seperti selimut. “Anak-anak sholehh… jangan ribut, nanti ku beliin sepuluh!.” Kata sederhana yang menenangkan. Aksi yang menyelesaikan. Kombinasi yang membuat rumah tetap adem.

Di akhir, ketika lampu ruang tamu redup dan hujan melambai di luar, Franky sering berdiri di dekat meja makan melihat jejak-jejak basah yang tak sengaja tersisa. Jejak itu selalu mengingatkannya bahwa cinta bisa datang dalam wujud yang sederhana: langkah yang basah, kata yang hangat, durian yang dibagi di kursi belakang, remote yang diselipkan diam-diam ke laci.

Semua hal kecil itu menulis sebuah hikmah besar: mencintai bukan soal sorak-sorai, bukan tentang piala atau pengakuan. Cinta adalah memilih cara yang tepat pada waktu yang tepat—kadang lewat kata, kadang lewat langkah—sehingga rumah tetap menjadi tempat di mana hujan boleh datang, selimut selalu siap, dan anak-anak boleh tertawa tanpa takut.



Penulis: Muhammad Caesar Rifyal Sidqi
Editor: Rara Zarary