ilustrasi: www.google.com

Oleh: Silmi Adawiya*


Ikhlas adalah buah manis dan intisari dari keimanan seseorang. Tidak heran jika Ibnu Qayyim al-Jauziyah memberi perumpamaan bahwa “amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir, memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Oleh karenanya suatu ketaatan apapun bentuknya jika dilakukan dengan tidak ikhlas dan jujur terhadap Allah, maka amalan itu tidak ada nilainya dan tidak berpahala, bahkan pelakunya akan menghadapi ancaman Allah yang sangat besar.


Jika keikhlasan itu sudah tertanam di dalam jiwa, selayaknya kita harus menjaganya dan memperbaruinya. Agar nilai keikhlasan tersebut tidak rusak, mungkin kita bisa belajar dari keterangan Abu Bakar Ad Daqqaq di bawah ini:


نقصان كل مخلص في إخلاصه رؤية اخلاصه فإذا اراد الله تعالى أن يخلص إخلاصه أسقط عن إخلاصه رؤيته لإخلاصه فيكون مخلصا لا مخلصا

“Rusaknya nilai-nilai keikhlasan adalah ketika seseorang memandang dirinya sebagai orang yang ikhlas dan memandang dirinya yang sanggup untuk ikhlas (sombong). Apabila Allah berkehendak untuk memelihara keikhlasan seseorang, maka dipalingkannya mata hati orang tersebut dari memandang keikhlasannya sendiri.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online


Pesan tersebut tertulis dalam kitab Ar-Risalah al Qusyairiyah. Orang yang ikhlas tidak akan mendeklarasikan bahwa dirinya itu ikhlas. Karena itulah diantara penyebab rusaknya nilai-nilai keikhlasan adalah memandang dirinya ikhlas dan dirinya sanggup untuk ikhlas. Padahal, jika Allah berkehendak untuk terus memelihara keikhlasan seseorang, maka tak mungkin untuknya untuk mengakui keikhlasan yang ada pada dirinya.


Karena itulah, salah satu karakteristik orang ikhlas adalah ia melupakan amalan dan pahala yang telah diperbuat. Dengan begitu ia tidak akan mengingat banyaknya amal yang diperbuat, atau bahkan tidak sama sekali menyebut dirinya sebagai orang yang ikhlas dalam beramal. Dengan pandangan yang demikian, maka tidak kemungkinan untuk meninggikan dirinya sendiri (sombong) dan merendahkan orang lain.

Senada dengan hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi, beliau bersabda:


لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim)


*Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.