sumber gambar: pinterest

Oleh: Qurrotul Adawiyah*

Masih dengan hal yang sama
meskipun kalender bertanda mengakhiri periodenya
pandemi tetap saja tak bertolak dari kehidupan manusia
mengusik, menggelisahkan, mematikan cipta kesedihan

Memang tak hanya cerita fiksi menjadi coretan dengan tinta darah
kabar-kabar berterbangan dari ujung kota hingga pedesaan
membumikan angka genap hingga ganjil dengan berbagai peringatan
menjadikan adanya perlakuan yang sama

Larangan dengan harapan terlaksanakan
dijadikan berbagai macam ancaman
bermacam berita saling berkejaran
dari kematian hingga pertikaian ketidakbenaran
atas kesaksian palsu demi sebuah hidup yang nyaman

Menahan diri bertolak dari keramaian
munajat doa menjadi pegangan
menjaga jarak diantara persaudaraan
agar makhluk kecil tak kasatmata terhenti kembali aman

Mencabuk dunia bagai ancaman
menjaga gelayut tangan mencengkeram
gelak pun bungkam pada kecemasan
karena jahatnya melebihi kebiadaban

Para petarung sejati berakhir pada sunyi
mengheningkan diri
merapal mantra berharap keajaiban terganti
bangku-bangku kuliah belum sepenuhnya diduduki
di atas meja masih ada coretan tagihan buku bacaan
tangisan rindu yang belum tuntas terbayarkan

Kini, tak ada keberangkatan menggapai angan lagi
aku menunggu kepergianmu untuk kembali

Hingga detik demi detik tak ada jeda
rindu yang terus menerus bercerita
bahwa satu musibah hingga bencana lainnya
melanda bangsa Indonesia

Dari kepergian para ulama
hingga kau datang bermain-main mencari mangsa
tak ada rasa iba pada insan yang tak berdosa.

*Mahasantri Mahad Aly Jombang.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
SebelumnyaPerusak Nilai Keikhlasan
BerikutnyaKisah Seorang Anak Ingin Mendapatkan Uang