Santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Khoiriyah Hasyim Seblak Jombang mengaji seputar Keadilan Gender Islam (KGI), Jumat (17/6).

Tebuireng.online— Belajar setara dan adil harus dimulai sejak dini, hal ini juga penting untuk dilakukan santri agar saat dewasa tidak merasa aneh dengan gagasan tersebut. Selain itu, menjadi penting bagi santri karena akan bergulat dengan wacana keislaman, termasuk mampu mengidentifikasi pemahaman Islam yang adil dan tidak, pemahaman yang merendahkan dan tidak.

Hal itu disampaikan oleh Dosen Pascasarjana PTIQ Jakarta, Nur Rofiah saat Ngaji KGI (Keadilan Gender Islam) bersama santri putra/putri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Khoiriyah Hasyim Seblak Jombang, Jumat (17/6/2022).

“Penting bagi santri belajar tentang setara dan adil, karena santri akan terus bergulat dengan wacana keislaman, sehingga santri mampu mengidentifikasi pemahaman Islam yang adil dan tidak,” ungkapnya.

Dalam forum kajian itu, penulis buku Nalar Kritis Muslimah ini menjelaskan bagaimana sejarah keadilan dalam Islam, yaitu bagaimana mengubah sistem kehidupan yang masih dzalim sehingga hanya menjadi anugerah bagi pihak kuat, namun menjadi musibah bagi pihak lemah (dluafa) dan rentan dilemahkan (mustadl’afin) menjadi sistem kehidupan yang menjadi anugerah bagi semua pihak, terutama pihak lemah dan rentan. Cita-cita Islam adalah menjadi anugerah bagi alam semesta, bukan musibah. Maka menjadi muslim dan muslimah harus berikhtiyar menjadi bagian dari anugerah tersebut.

“Saat menjadi santri, jadilah santri yang menjadi anugerah bagi pak Yai dan bu Nyai. Dan saat menjadi Ibu Nyai atau Pak Yai, maka jadilah Ibu dan Bapak Yai yang anugerah bagi santri,” katanya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
Para santri menyimak materi KGI di aula Pondok Seblak.

Perempuan asal Pemalang itu meminta kepada para santri untuk mampu memperlakukan sesama manusia dengan perlakuan yang baik, termasuk berlaku baik pada teman, dan tidak menjadi toxic, mensupport dalam kebaikan sesama santri, dan tidak membuat pihak lain merasa dirugikan atau dipermalukan.

Selain itu, Ia juga berharap para santri belajar sejak dini untuk mampu memahami tafsir-tafsir yang berkeadilan, serta mampu mengamalkannya dengan sebaik mungkin. Salah satunya adalah dalam menghormati kedua orang tua, termasuk ibu, yang tentu juga merupakan seorang perempuan.

Bagi Alumnus Pondok Pesantren Seblak itu, santri di pondok pesantren akan berproses terus menerus menuju diri yang lebih baik dan terbaik, agar bisa hidup sesuai dengan tuntunan Allah dalam Islam, termasuk dalam hal menyikapi secara baik kemanusiaan perempuan.

“Santri mampu memanusiakan manusia, termasuk perempuan. Perempuan adalah ibu kehidupan yang harus dihormati dan juga dipahami pengalaman biologis dan sosialnya,” terangnya.

Ada lima pengalaman biologis perempuan yaitu menstruasi, hamil, melahirkan, nifas, dan menyusui. Menurutnya ini adalah pengalaman yang sangat berat bagi perempuan dan tidak dirasakan atau dialami oleh laki-laki, oleh karena itu, penting bagi santri memahami hal ini sebagai tanggung jawab bersama untuk tidak semakin membuat perempuan merasa sakit.

Hal itulah yang disampaikan pada para santri baik putra/putri untuk mampu memahami perannya sejak dini, memiliki wawasan soal berkeadilan, dan menyadari perlunya kerja sama dalam kebaikan, kemaslahatan, dan kebermanfaatan dalam kehidupan termasuk nanti saat berumah tangga.

Pewarta: RZ

SebelumnyaMufti Rusia Perkuat Hubungan Keislaman dengan Tebuireng
Berikutnya10 Etika Santri Terhadap Dirinya Sendiri Menurut Kiai Hasyim Asy’ari