Alasan Bulan Muharram Jadi Bulan Duka

5
Sebuah ilustrasi Muharram

Oleh: KH. Fauzan Kamal*

Penting bagi kita untuk melakukan hijrah maknawi, yaitu berpindah dari amal perbuatan yang kurang baik menuju amal yang jauh lebih baik. 

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

Jamaah Shalat Jum’at yang dimulaikan oleh Allah

Melalui mimbar yang mulia ini, kami mengajak seluruh jemaah yang hadir di majelis penuh berkah ini untuk bersama-sama mengevaluasi aktivitas kita, baik yang berupa ucapan maupun perilaku. Jika sepekan lalu kita telah diingatkan oleh khatib untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan, maka hari ini mari kita konsisten menguatkan keimanan tersebut.

Baca Juga: Waspada, Ini Adalah Ciri Ulama Bani Israel yang Gemar Menjilat

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Di dalam khazanah Islam, takwa sering kali didefinisikan secara ringkas sebagai imtisalul awamir wajtinabun nawahi—berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan perintah Allah, baik yang wajib maupun yang sunnah, serta menjauhi segala larangan-Nya, baik yang haram maupun yang makruh. Selain itu, mari kita pastikan agar aktivitas keseharian kita yang semula bersifat mubah dan biasa, dapat bernilai ibadah di sisi Allah SWT melalui niat yang tulus.

Jamaah Shalat Jum’at yang dimulaikan oleh Allah

Saat ini kita telah memasuki bulan Muharam, yang dalam tradisi masyarakat Jawa sering disebut sebagai bulan Suro (diambil dari kata Asyura). Para ulama terdahulu di tanah Jawa mewariskan kearifan lokal yang tidak sekadar mengedepankan perdebatan dalil, melainkan langsung pada aspek praktik dan rasa. Itulah mengapa para sesepuh kita dahulu sangat menghindari kegiatan yang bersifat hura-hura atau bersenang-senang di bulan ini. Mereka memilih untuk berbelasungkawa, menunduk, dan bertafakur dalam kesedihan.

Sikap ini sejatinya adalah refleksi mendalam atas peristiwa kelam dalam sejarah Islam, yaitu tragedi Karbala, di mana cucu tercinta Baginda Nabi Muhammad Saw, Sayyidina Husein, dibantai dengan keji oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Sungguh tidak beradab rasanya jika di saat keluarga dan cucu Rasulullah Saw, dibunuh, kita selaku umatnya justru bersenang-senang dalam kemewahan duniawi.

Baca Juga: Waspada Kecemasan Berlebih atau OCD, Ini Petunjuk Allah untuk Mencegahnya

Melihat kilas balik sejarah tersebut, kita patut berdoa agar ambisi kekuasaan yang membutakan hati jangan sampai menimbulkan perpecahan dan tragedi serupa di negeri kita. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga negeri Indonesia ini dan menjadikannya sebagai baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang baik, aman, dan penuh ampunan), terlepas dari segala dinamika maupun kebijakan di sana-sini yang masih memerlukan perbaikan.

Jemaah Salat Jumat yang Dirahmati Allah

Dalam momentum tahun baru ini, kita juga patut mengenang jasa para sahabat, khususnya Sayyidina Umar bin Khattab dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang memprakarsai serta mengusulkan penetapan kalender Islam. Tahun baru Hijriah ini dimulai dari bulan Muharam karena merujuk pada momentum hijrahnya Baginda Nabi Muhammad Saw.

Meskipun secara fisik kita tidak ikut berhijrah ke Madinah, penting bagi kita untuk melakukan hijrah maknawi, yaitu berpindah dari amal perbuatan yang kurang baik menuju amal yang jauh lebih baik. Ingatlah bahwa setiap kali usia kita bertambah, hakikatnya jatah hidup kita di dunia justru semakin berkurang dan kita sedang melangkah semakin dekat menuju kematian. Rasulullah SAW mengingatkan hal ini dalam sabdanya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَعْمَارُ أُمَّتِي بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ»

“Umur-umur umatku antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan sedikit sekali di antara mereka yang melewati (usia) itu.” (HR. Tirmidzi)

Baca Juga: Waspada Merayakan Hari Raya dengan Petasan, Ini Hukumnya

Oleh karena itu, mari kita persiapkan generasi dan anak-anak kita agar mampu menjalani hidup yang bermakna dan bermanfaat. Bimbinglah mereka untuk menuntut ilmu sebanyak mungkin, lalu menyebarkannya kepada sesama. Dengan ilmu yang bermanfaat dan mengalir, maka kapan pun Allah SWT memanggil kita kembali keharibaan-Nya, tabungan pahala kita akan terus bertambah di alam kubur.

Jemaah Salat Jumat yang Berbahagia,

Di antara bentuk amal kebaikan yang sangat dianjurkan adalah mengidupkan puasa-puasa sunnah. Jika pada bulan Dzulhijjah lalu kita dianjurkan melaksanakan puasa Arafah sebagaimana sabda Nabi SAW:

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ»

“Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar ia dapat menghapuskan dosa (setahun) sebelum hari tersebut dan (setahun) setelahnya.” (HR. Muslim)

Maka pada bulan Muharam ini, kita disunnahkan untuk menunaikan puasa Asyura (tanggal 10 Muharam). Guna membedakan diri dan tidak menyerupai ritual kaum Yahudi, Rasulullah SAW juga sangat menganjurkan kita untuk mengiringinya dengan puasa Tasu’a (tanggal 9 Muharam), sebagaimana sabda beliau:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ»

“Sungguh, jika aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim)

Ada banyak catatan sejarah mengapa hari tersebut dinamakan hari Asyura (hari kesepuluh). Di antaranya adalah karena momentum tersebut merupakan hari di mana Allah SWT menyelamatkan para nabi-Nya—seperti diselamatkannya Nabi Musa AS dari kejaran Firaun, diterimanya taubat Nabi Adam AS, serta keselamatan nabi-nabi lainnya.

Baca Juga: Waspadai Amal Saleh yang Dibalut Kemungkaran

Oleh karena itu, ibadah puasa yang kita lakukan di bulan ini merupakan bentuk refleksi rasa syukur yang mendalam atas segala pertolongan Allah SWT. Mari kita petik keteladanan dari kisah perjuangan, kesabaran, dan keteguhan iman para nabi tersebut dalam menghadapi ujian kehidupan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ



Pentranskrip: Yuniar Indra Yahya