(ket. paling kanan) Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Rahman, KH. Faiz Syukron Makmun foto bersama usai memberikan materi dalam halaqah di Tebuireng. (foto: kopiireng)

Tebuireng.online– Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Rahman, KH. Faiz Syukron Makmun menjadi pemantik dalam Halaqah Fikih Peradaban. Dalam kesempatan itu ia mengungkapkan urgensi mempelajari dan mengembangkan kitab kuning kepada ratusan peserta halaqah di gedung Yusuf Hasyim Tebuireng Jombang, Sabtu (17/9/2022).

“Kemuliaan yang ada pada agama kadang-kadang tidak terlihat istimewa, luar biasa dan tidak membawa kebaikan, itu karena kita tidak mau melakukan riyadhoh jadidah yang bentuknya nanti seiring sesuai jaman, contohnya dengan kitab kuning, kita mengira kitab kuning sangat sederhana, akan tetapi dengan kitab kuning, umat manusia meletakkan kaki satu di Andalusia dan kaki yang satu di daratan Cina,” ungkapnya.

Semua itu, menurut Kiai Faiz merupakan bibarakati kitab kuning. Beliau bertanya, kenapa mereka hebat? Karena mereka memahami fikih peradaban, contohnya saja kitab Fathul Qorib segala aspek kehidupan kita ada disana mulai dari thoharoh, aqsamul miyah,  sampai hukum pidana, perdata dan ekonomi ada disitu, sayangnya kita tidak mengembangkan apa yang ada didalam kitab kuning tersebut.

Tidak hanya itu, menurutnya, tema acara yang diselenggarakan yaitu “Fikih Peradaban, Fikih Siyasah dan Negara Bangsa”, sangat pas dengan Tebuireng.

“Ada fikih peradaban, di dalamnya ada al-fiqhu dan al-hadoroh. Saya rasa semua orang di sini paham bahwa makna al-fiqhu di sini adalah pemahaman, sedangkan al-hadoroh adalah hasil segala upaya dan budidaya manusia,  kemampuan intelektual, kemampuan fungsi luhur manusia yang kemudian sehingga menghasilkan 1 yang disebut peradaban pada aspek yang bersifat lahiriyah. Dan Tebuireng adalah motor penggerak utama,” tegasnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Oleh karena itu, lanjut Kiai Faiz Syukron, maka dari sini perlu kiranya bagi kita semua untuk membudidayakan pengembangan kajian kitab salaf untuk menyemai kebermanfaatan yang sangat istimewa di dalamnya.  

Untuk diketahui, acara halaqah yang diinisiasi PBNU dan Kemenag ini berjalan cukup interaktif antara pemantik dan peserta halaqoh, hal itu dibuktikan dengan melonjaknya jumlah penanya yang mengantongi banyak pertanyaan yang ingin disampaikan kepada para pemantik.

Pewarta: Naila Indah

SebelumnyaPeringati Satu Abad NU, Prof. Masykuri Bakri Bicarakan Ini
BerikutnyaPimpinan Masjid Agung Sumedang ke Tebuireng, Ada Apa?