Umat Islam di Era Globalisasi Ketiga

93
Ilustrasi era globalisasi (sumber: lajupeduli)
Tantangan globalisasi ketiga hanya bisa dijawab oleh SDM yang cerdas, kritis, dan berkarakter. Investasi terbesar umat Islam di Indonesia harus diawali pembangunan di sektor pendidikan. Sistem yang diajarkan bukan sekadar pendidikan agama formal, melainkan pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kepemimpinan.
Umat Islam di Era Globalisasi Ketiga

Berdasar demografi, umat Islam menempati posisi dominan di Indonesia. Kemenag 2024 melansir jumlahnya sekitar 247.494.481 jiwa, hampir 9 dari 10 penduduk beragama Islam. Angka ini bukanlah statistik sensus belaka, melainkan kekuatan hidup yang terhampar pada sajadah bumi Nusantara. Jumlah ini terkonsentrasi di provinsi-provinsi dengan populasi besar seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah, dan ditopang oleh 41.286 pesantren sebagai jaringan pendidikan yang mengakar di tengah masyarakat. Jika memakai kuantitas pemeluk dan kedalaman institusi pendidikan sebagai alat pengukur kekuatan, maka umat Islam Indonesia seharusnya menjadi salah satu kekuatan penentu pada skala global.

Baca Juga: Merawat Tradisi Lokal di Tengah Arus Globalisasi

Namun kuantitas semata pada kenyataannya tidak berbicara banyak. Dalam realitas globalisasi, umat Islam lebih sering diposisikan sebagai objek, alih-alih subjek. Berbagai nilai yang diserap, sistem yang berjalan, serta narasi yang membentuk kehidupan lebih banyak mengalir dari luar. Maka pertanyaan yang muncul bukan soal ada atau tidaknya kekuatan yang dimiliki, melainkan “mengapa potensi sebesar itu belum mampu bergerak menjadi kekuatan pengarah yang nyata?”

Globalisasi Gelombang Ketiga

Short menjelaskan bahwa globalisasi gelombang ketiga yang dimulai pasca 1989 bukan ekspansi perdagangan semata. Terjadi penetrasi secara masif di tiga sektor, yakni ekonomi, politik, dan budaya. Ketiga sektor ini menghadirkan tantangan nyata dan mendesak karena terjadi secara masif dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Secara ekonomi, globalisasi ketiga memudahkan modal untuk berpindah melewati batas geografis dalam hitungan detik, di sisi lain tenaga kerja dan komunitas lokal tetap terikat pada tempatnya. Akibatnya, umat Islam di Indonesia yang sebagian besar berada pada kelompok ekonomi menengah ke bawah rentan terhadap dampak dari relokasi industri, ketergantungan impor, dan dominasi korporasi multinasional. Secara makro, lembaga-lembaga seperti IMF dan Bank Dunia, yang dipandang oleh Kausar sebagai alat hegemoni Barat, masih memiliki pengaruh signifikan terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Globalisasi gelombang ketiga membawa serta wacana tata kelola global yang mendorong adanya standarisasi demokrasi, hak asasi manusia, dan nilai-nilai liberal ala Barat sebagai norma yang dianut secara universal. Kausar mengkritik ini sebagai bentuk “might is right”, yang kuat mendiktekan kebenaran. Bagi umat Islam di Indonesia, wacana ini terasa bertabrakan dengan nilai-nilai syariah, keluarga, dan moralitas Islam  yang kerap mendapat stigma kolot, serta kerap diposisikan sebagai penghambat modernisasi, bukan sebagai dasar peradaban yang sah.

Baca Juga: Revolusi Literasi Keluarga di Era Globalisasi

Dari seluruh tantangan yang ada, sektor budaya terpenetrasi dengan senyap, tapi membawa dampak langsung pada umat Islam di Indonesia. Internet, media sosial, serta segala produk revolusi informasi telah menjadi kendaraan utama untuk melakukan penetrasi budaya pada sendi-sendi kehidupan masyarakat. Gaya hidup, selera, pola pikir, bahkan definisi kebahagiaan perlahan dibentuk oleh konten yang diproduksi dan dikendalikan dari pusat peradaban Barat. Generasi muda Muslim menjadi objek utama pada tantangan di sektor ini. Mirisnya, mereka menghadapinya tanpa benteng yang kuat.

Jauh dari Ideal

Di tengah tekanan globalisasi ketiga yang kompleks, umat Islam Indonesia harus menghadapinya dalam kondisi yang jauh dari ideal. Para elite di tubuh umat kerap lebih sibuk mengurus kepentingan masing-masing daripada berfokus pada advokasi isu kemasyarakatan dan keumatan secara luas. Isu-isu strategis yang seharusnya mampu disuarakan secara kolektif keumatan sering tenggelam oleh manuver kepentingan elit, sementara kuantitas pengikut yang besar hanya dijadikan komoditas dalam perebutan pengaruh antar lembaga.

Akibatnya, masyarakat Muslim yang seharusnya menjadi tulang punggung kekuatan justru tumbuh apatis, perlahan menjauh dari jamaah, dan mulai kehilangan kepercayaan terhadap lembaga-lembaga yang seharusnya menaungi kepentingan mereka. Di sinilah akar sesungguhnya dari lemahnya bargaining power umat, bukan pada minimnya jumlah, melainkan pada hilangnya kepercayaan dari dalam. Selama perpecahan masih dirawat dan integritas lembaga terus dikorbankan demi kepentingan sempit, umat yang kehilangan kepercayaan pada pemimpinnya adalah umat yang kehilangan arah.

Membangun Fondasi Keumatan

Pondasi utama untuk melawan hegemoni Barat dan melahirkan tatanan global yang adil adalah persatuan umat dan sistem syura’. Persatuan tidak menghendaki keseragaman. umat Islam di Indonesia justru terbentuk dari heterogenitas yang dibalut dalam tradisi musyawarah. Ini merupakan modal turun temurun yang telah dimiliki, hanya tinggal diaplikasikan secara lebih menyeluruh. Tanpa persatuan sebagai pondasi, semua rencana strategis dalam bentuk apapun akan sia-sia. Lantas, apa yang harus dibangun di atas pondasi persatuan?

Baca Juga: Manifesto Kemanusiaan Hadratussyaikh

Tantangan globalisasi ketiga hanya bisa dijawab oleh SDM yang cerdas, kritis, dan berkarakter. Investasi terbesar umat Islam di Indonesia harus diawali pembangunan di sektor pendidikan. Sistem yang diajarkan bukan sekadar pendidikan agama formal, melainkan pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kepemimpinan. Pendidikan yang dimaksud bukan yang memisahkan ilmu agama dari ilmu umum, melainkan yang mengintegrasikan keduanya agar mampu memberi solusi bagi masyarakat. Integrasi keilmuan akan menghasilkan insan akademis yang paham dinamika dunia dengan intelektualitas yang mumpuni, serta bernafaskan ajaran Islam.

Menghadapi hegemoni Barat di bidang Ekonomi, umat Islam tidak boleh hanya menjadi penonton. Kausar mengkritik keras sistem ekonomi yang berbasis eksploitasi sebagai alat neokolonialisme yang nyata, dengan dominasi lembaga keuangan internasional. umat Islam di Indonesia memiliki instrumen alternatif ekonomi yang kuat, seperti keuangan syariah, ZISWAF, dan ekosistem ekonomi yang berbasis pesantren. Jika seluruh instrumen ini dikonsolidasikan di atas pondasi persatuan dan SDM yang cakap, maka ekosistem ekonomi Islam di Indonesia berpotensi tumbuh menjadi kekuatan yang tidak rentan dari intervensi luar.

Namun, kemandirian di bidang ekonomi tidak cukup, sebab medan pertarungan yang terpampang nyata di era globalisasi ketiga berada di ruang informasi. Imperialisme paling efektif saat ini datang melalui algoritma dan konten. Persatuan umat harus diarahkan untuk melahirkan ekosistem media, konten, dan teknologi yang memancarkan nilai-nilai peradaban Islam, sehingga SDM penerus umat Islam di Indonesia tidak terpenjara sebagai konsumen narasi orang lain, tetapi bangkit sebagai produsen narasi peradaban Islam.

Seluruh kekuatan ini membutuhkan satu penopang lagi, yakni konsolidasi politik yang bermartabat. Bukan berarti mendirikan satu alat kuasa tunggal, melainkan membangun kesepakatan antar kekuatan Islam tentang agenda bersama untuk bangsa, mulai dari pendidikan, keadilan ekonomi, hingga budaya. Sehingga, kuantitas umat Islam tidak habis terbuang oleh persaingan internal yang tidak produktif. Keempat instrumen ini bukan agenda yang terpisah, melainkan satu ekosistem yang saling menopang di atas pondasi persatuan.

Baca Juga: Cita dan Citra, di Tengah Keterbukaan Pendidikan Era Globalisasi

Mari Bersatu

Sekompleks apapun tantangan globalisasi gelombang ketiga yang harus dihadapi, strategi yang efektif sebenarnya telah diringkas dengan sangat sederhana oleh ulama besar pendiri bangsa ini. Hadratussyaikh K.H. M. Hasyim Asy’ari telah berpesan:

“Wahai kaum Muslim, bersatulah! Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan, karena kebahagiaan akan semakin jauh bagi kita, selama kita masih terus bermusuhan.”

Kiai Hasyim menyampaikan pesan di tengah medan perjuangan ketika umat Islam di Indonesia menghadapi tekanan kolonialisme yang nyata dan perpecahan didalam internal yang mengikis kekuatan. Hadratussyaikh memahami bahwa musuh terbesar umat Islam bukanlah kekuatan eksogen, melainkan perpecahan yang tumbuh dari dalam. Seruan ini bukan ajakan moral semata, melainkan bentuk diagnosis terhadap potensi dan kondisi umat Islam di Indonesia.

Seruan persatuan yang dikumandangkan Kiai Hasyim hari ini terasa semakin mendesak. Jika di era kolonialisme fisik sudah terlihat potensi perpecahan, maka di era globalisasi ketiga yang penetrasinya jauh lebih halus dan mendalam potensi fragmentasi menjadi lebih rentan yang membuat peringatan itu seharusnya bergema lebih keras. Kebahagiaan yang dimaksud Hadratussyaikh bukan semata perihal duniawi, melainkan kemuliaan umat sebagai entitas peradaban yang berdaulat, bermartabat, dan mampu mengarahkan jalannya sendiri di tengah arus dunia yang tidak pernah mampu ditebak arahnya.

Pesan ini bukan romantisme masa lalu, melainkan prasyarat bagi umat Islam untuk membangun peradaban. Bargaining power umat Islam di Indonesia tidak akan lahir dari perdebatan yang tidak berujung di dalam. Kekuatan itu tumbuh dari persatuan yang tulus, investasi yang serius pada SDM, dan keberanian untuk berdiri sebagai sebuah peradaban yang menawarkan, bukan sekadar merespons arus yang datang.



Penulis: Amri Maulana, Mahasiswa Magister Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Indonesia

Editor: Rara Zarary