
Setiap kali pawai, karnaval, atau perayaan tertentu diselenggarakan, masyarakat biasanya menampilkan berbagai bentuk kreativitas. Mulai dari pembuatan ogoh-ogoh, miniatur, kostum unik, hingga berbagai dekorasi yang dirancang semenarik mungkin. Kegiatan seperti ini tentu memiliki sisi positif. Selain menjadi ruang ekspresi, kegiatan tersebut juga mempererat kebersamaan, melatih kreativitas, dan menjadi hiburan bagi masyarakat. Tidak sedikit karya yang dihasilkan terlihat megah dan mengagumkan sehingga mengundang perhatian banyak orang.
Baca Juga: Merawat Bumi dari Pesantren: Inspirasi Bank Sampah Tebuireng
Namun, di balik kemeriahan yang ditampilkan, ada persoalan yang sering luput dari perhatian, yakni persoalan sampah yang dihasilkan setelah acara berakhir. Banyak kerajinan dibuat menggunakan bahan seperti styrofoam, plastik, kayu, lem sintetis, cat, dan berbagai material lain yang sulit terurai. Ironisnya, sebagian besar bahan tersebut sering kali dibeli dalam keadaan baru, bukan memanfaatkan bahan yang sudah tersedia atau menggunakan bahan yang dapat dipakai kembali.
Permasalahan muncul ketika karya yang dibuat dengan susah payah itu ternyata hanya digunakan dalam waktu yang sangat singkat. Sebuah miniatur atau hiasan pawai mungkin membutuhkan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk diselesaikan. Banyak tenaga, biaya, dan bahan yang dikeluarkan untuk membuatnya. Namun setelah acara selesai, sebagian besar karya tersebut tidak lagi digunakan. Ada yang rusak, dibongkar, dibakar, bahkan ditinggalkan begitu saja. Akhirnya berbagai material itu berubah menjadi tumpukan sampah baru.
Baca Juga: Sampah Pesantren Jadi Masalah Bersama yang Tak Bisa Diabaikan
Bahan seperti styrofoam dan plastik bukanlah material yang mudah kembali ke alam. Sampah jenis ini memerlukan waktu yang sangat lama untuk terurai. Ketika dibakar, beberapa bahan bahkan dapat menghasilkan zat yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan. Sayangnya, persoalan ini sering kali tidak mendapat perhatian serius karena masyarakat lebih fokus pada hasil akhir yang terlihat indah dan megah.
Fenomena seperti ini juga dapat ditemukan dalam berbagai kegiatan perayaan takbir keliling yang banyak diselenggarakan di berbagai daerah. Tidak sedikit kelompok yang membuat miniatur masjid, ka’bah, replika hewan kurban, kendaraan hias, atau berbagai bentuk dekorasi untuk memeriahkan acara. Semangat memeriahkan syiar tentu merupakan sesuatu yang baik karena dapat meningkatkan kebersamaan dan menumbuhkan antusiasme masyarakat. Akan tetapi, yang perlu dipikirkan adalah dampak yang muncul setelah kemeriahan itu berakhir.
Sering kali setelah takbir keliling selesai, berbagai hiasan yang digunakan tidak lagi dimanfaatkan. Material seperti styrofoam, plastik, kertas, kayu, dan cat yang sebelumnya dirangkai dengan susah payah hanya berakhir menjadi limbah. Kemeriahan yang berlangsung beberapa jam meninggalkan jejak sampah yang dapat bertahan selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Darurat Sampah Sungai, Dari Krisis Lingkungan Menuju Gerakan Kesadaran Kolektif
Persoalan ini bukan berarti bahwa takbir keliling atau kegiatan memeriahkan hari besar Islam harus dihentikan. Yang perlu dipertanyakan justru cara pelaksanaannya. Sebab jika ditinjau dari nilai-nilai Islam, ajaran agama tidak hanya berbicara mengenai ibadah ritual, tetapi juga mengenai tanggung jawab manusia terhadap lingkungan. Islam mengajarkan keseimbangan, kebersihan, serta melarang sikap berlebihan dan pemborosan.
Allah Swt. berfirman: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26–27).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa penggunaan sumber daya secara berlebihan bukanlah sesuatu yang dianjurkan. Memang bentuk takbir keliling seperti pawai dengan berbagai ornamen tidak secara spesifik diajarkan dalam Islam, tetapi nilai yang diajarkan Islam cukup jelas: setiap kegiatan hendaknya membawa manfaat dan tidak menimbulkan kerusakan. Jangan sampai semangat menyambut hari besar agama justru meninggalkan dampak yang bertentangan dengan nilai tanggung jawab terhadap alam.
Mungkin selama ini kreativitas terlalu sering dipahami sebagai kemampuan menciptakan sesuatu yang besar dan megah. Padahal kreativitas juga dapat diukur dari cara seseorang memanfaatkan sumber daya yang ada. Menggunakan bahan bekas seperti kardus, koran, bambu, kain sisa, atau material yang dapat dipakai kembali seharusnya menjadi pilihan yang mulai dipertimbangkan. Bahkan sistem pembuatan karya dapat dirancang agar mudah dibongkar dan digunakan kembali pada kegiatan berikutnya.
Baca Juga: Solusi Mengatasi Sampah dengan Prinsip Zero Waste
Sudah saatnya penilaian terhadap sebuah karya tidak hanya didasarkan pada ukuran, kemegahan, atau banyaknya biaya yang dikeluarkan. Karya yang baik seharusnya juga dinilai dari seberapa kecil dampaknya terhadap lingkungan. Sebab kreativitas yang sesungguhnya bukan sekadar menghasilkan sesuatu yang indah dipandang mata, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat tanpa menambah beban bagi alam.
Jangan sampai gema takbir yang seharusnya mengingatkan manusia kepada kebesaran Allah justru diikuti oleh tumpukan sampah yang merusak ciptaan-Nya. Sebab syiar yang baik bukan hanya ramai dan meriah, melainkan juga membawa kemaslahatan bagi manusia dan alam tempat manusia hidup.


















